Saturday, July 2, 2016

Budaya Baju Baru Saat Lebaran


Saya sendiri tidak tahu sejak kapan baju baru menjadi budaya saat lebaran, seingat saya sudah sejak kecil mendapat baju kalau hari lebaran. Rasanya bahagia sekali, bahkan kebahagiaan itu masih terasa hingga kini saya sudah menjadi orangtua.  Terasa membekas dalam ingatan sehingga detill-detilnya bisa saya ceritakan ke anak-anak.

Ibu saya biasa membelikan anak-anaknya baju baru menjelang lebaran, entah kenapa. Ada dua hal: mungkin karena Bapak baru dapat THR mefet dan malam lebaran harga menjadi murah meriah. Walaupun belanja menjelang lebaran itu seperti antrian sembako gratis. Jadi berjubel luarbiasa, bahkan sampai buat melangkah pun sulit. Baik itu di mall atau  pun di pasar tradisional, harga-harga berubah total , pembeli saling berebut.  Pernah baju yang saya beli terdapat bercak tanah karena terinjak-injak pembeli yang serabutan saling berebut membeli.

Semua keramaian itu bubar ketika pukul 12 malam, pasar hanya menyisakan sisa sampah dan bunga yang berguguran, bunga segar yang banyak dijual seperti bunga sedap malam.  Bunga sedap malam ini juga menjadi bunga yang khas ada di hari raya. Dan, mall-mall ditutup rapat-mungkin karyawannya sudah sangat letih juga yang biasa tutup pukul 10 malam jadi molor hingga pukul 12 malam demi memenuhi hasrat pembeli yang akan merayakan lebaran esok harinya.

Jadi baju baru yang dibelikan ibu tidak dicuci tapi langsung saya pakai dong? Lah iya lah, bahkan harumnya itu adalah khas sekali. Harum baju baru yang saya sukai. Tahu tidak?


Begitu sampai rumah, terkantuk-kantuk baju hasil berburu bersama ibu dan adik-adik saya digantung di kamar, lengkap di bawahnya ada sepasang sepatu. Yang (lagi-lagi) paling saya ingat baju baru model dress balon-baju yang menggelembung bagian bawahnya, sedang in di jaman itu. Menggelembung karena dalamnya diberi rangkapan bahan tipis berapa lapis dan dijahit sedemikian rupa hingga membentuk seperti gelembung ketika dipakai, warnanya polkadot biru tua. Sementara sepatunya model flastshoes corak kotak-kotak merah mirip corak rok tartan skotlandia, ada pita hitam di bagian depannya. Semua itu pilihan saya, walau kalau dipikirin sekarang... kok ya, gak nyambung yak polkadot biru tua sama tartan merah wkwkwkwwk.

Hingga SMP..perlahan budaya baju baru meredup. Ibu sudah tidak terlalu excited mencarikan baju baru karena kami anak-anaknya sudah tidak terlalu menyambut baju baru dengan huru-hara. Kami lebih sering meminta uang mentahnya atau pasrah...terserah deh mau dibelikan baju baru atau tidak. Kalau pun dibelikan kami hanya pesan modelnya dan malas ikut berburu seperti waktu kecil dulu. Meski begitu tetap menjadi kenangan terindah masa-masa berburu baju baru bersama ibu dan adik-adik saya.

Maka ketika anak-anak saya lahir secara otomatis budaya itu saya terapkan tapi bedanya, saya tidak suka berburu menjelang lebaran, malas dengan suasana pikuk. Bahkan saat anak kedua, ketiga lahir... saya lebih suka membelinya jauh-jauh hari. Mencicil secara bergantian, siapa dulu yang dibelikan. Selain biar tidak langsung mengeluarkan uang banyak, kami mencarinya dengan santai sampai menemukan model yang klik. Tapi tetap pilihan model ada di tangan anak-anak.

Biasanya kami jalan-jalan, lalu memberi mereka kebebasan beli baju dengan nominal sudah kami tentukan, dan mereka terlihat senang betul meski tidak seatusias saya. Mereka selesai membeli ya menyimpannya di lemari, tidak ada acara mencoba atau menatap lama-lama. Padahal hari-hari biasa saya juga jarang membelikan mereka baju selama yang dikenakan masih cukup. Moment beli baju di hari biasa hanya kalau kebetulan lewat ada harga obral parah alias..anjlok! Saya ini pencinta barang bagus (baca: branded tapi murah hahaha).

Lalu apa?

Ya, tentu saja budaya baju lebaran ini saya teruskan ke anak-anak hanya sekedar ingin menciptakan satu kenangan indah kepada mereka tentang saya-tentang kegiatan menjelang lebaran dan kenangan manis sejenis yang juga saya miliki dari ibu saya. Sebab buat saya, adalah kewajiban orangtua memberikan sesuatu yang menjadi kenangan manis bagi anak-anaknya kelak.

Jadi?

Ya jadi tidak perlu ragu atau merasa berlebihan jika memang anda ingin membelikan baju baru anak-anak untuk lebaran. Mengajak mereka berbelanja dalam suasana lebaran yang meski tidak dekat-dekat lebaran mall lumayan ramai. Menumbuhkan rasa bahagia di hati anak-anak yang polos biar kelak mereka punya cerita tentang lebaran dan ibunya kepada anak-anak mereka, sesederhana ini impian saya.


Dan

Ketika menulis ini betapa saya jadi rindu ingin pulang-rindu Ibu-rindu kamar lama dan almari tua yang masih menyimpan baju-baju saya. Aromanya mungkin sudah apek, warnanya mungkin sudah pudar. Ada sebagian yang juga sudah dihibahkan ke oranglain atau hilang oleh waktu, tapi kenangannya tidak lengkang kecuali oleh lupa yang digerus alam.

1 comments:

  1. jd inget pas kecl dulu :).. akupun dulu selalu seneeeengbgt dapet baju baru pas lebaran.. lbh sering dijahit ama mama.. dibikin kembaran ama adekku yg memang umurnya ga jauh beda.. kita berdua srg disangka anak kembar :D..

    tapi skr, aku sengaja sih ga terlalu ngebiasain baju baru utk anak2ku mbak.. mungkin juga krn mw ngebrain wash mereka bahwa ngumpulin duit utk traveling jauh lbh bermakna drpd beli baju baru hahahaha ;p untungnya anakku ga maksa jg, secara baju baru toh pasti dibeliin kalo memang baju2 lamanya udh perlu digani :D

    ReplyDelete

Instagram

Domain Murah

CATEGORIES

>

Mengenal Mpasi versi WHO

MPasi WHO Homemade Yuk, Kenalan Dengan Mpasi Versi WHO Untuk Lintang, Pijar, saya belum mengenal Mpasi versi  WHO. Keduanya saya be...

HEY THERE .....

Eni Martini

Penulis novel, bukunya sudah diterbitkan lebih dari 20 judul. Salah satu difilmkan Mplus tahun 2010. Owner di bliblibuku.com, ibu dari 3 anak, penyuka teh hangat-perjalanan, fashion dan ...lifestyle blogger.

COMMUNITY

  • Powered by Blogger.