Belajar dari Traveler Jepang: Konsep “Ma” (Ruang Kosong) buat Hidup Lebih Tenang

by - August 26, 2026


Pernah nggak merasa liburan bukan bikin fresh, tapi justru membuat tubuh dan pikiran semakin lelah? Karena jadwal perjalanan terlalu padat, setiap tempat wisata harus dikunjungi, foto harus diambil, dan setiap menit terasa harus dimanfaatkan. Padahal, mungkin ada satu hal yang sering terlupakan saat traveling yaitu, memberi ruang untuk tidak melakukan apa-apa.

Kebiasaan ini bisa dipelajari dari konsep Jepang yang dikenal sebagai “Ma” (). Kalian penasaran, dan ingin tahu KONSEP “MA”? Yuk, kita baca artikel ini sampai tuntas, dan menemukan makna liburan yang sesungguhnya untuk tubuh dan jiwa.

Secara sederhana, Ma sering diterjemahkan sebagai ruang, jeda, atau interval di antara dua hal. Namun, maknanya tidak sekadar ruang kosong. Dalam kajian Japanese Psychological Research, Ma dijelaskan sebagai ruang atau waktu “di antara” benda, manusia, maupun peristiwa dan telah hadir dalam berbagai praktik seni, arsitektur, taman, hingga kehidupan sehari-hari Jepang.




Bagi traveler, konsep ini bisa menjadi cara menarik untuk menikmati perjalanan tanpa terus-menerus mengejar itinerary.

  • Tidak Semua Waktu Liburan Harus Diisi

Saat membuat itinerary, banyak traveler berusaha memasukkan sebanyak mungkin destinasi. Pagi mengunjungi kuil, siang berpindah ke museum, sore mencari kuliner, lalu malam berburu spot foto. Dan, konsep Ma menawarkan perspektif berbeda. Jeda di antara aktivitas justru memiliki nilai tersendiri.

Misalnya, setelah mengunjungi sebuah destinasi, sisakan satu atau dua jam tanpa agenda. Duduk di taman, menikmati teh, berjalan santai di lingkungan sekitar penginapan, atau sekadar mengamati aktivitas masyarakat setempat.

Ma bukan berarti membuang waktu. Justru, ruang kosong tersebut memberikan kesempatan bagi seseorang untuk benar-benar menyadari pengalaman yang sedang dijalani. Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan prinsip perjalanan yang lebih bertanggung jawab.

Jika selama ini kalian mencari tahu sustainable tourism adalah konsep yang seperti apa, salah satu praktik sederhananya dapat dimulai dengan tidak selalu memadati destinasi dan memberi ruang untuk menikmati tempat secara lebih perlahan. Japan Tourism Agency sendiri mendorong wisatawan untuk menghindari waktu dan lokasi yang terlalu padat serta memilih waktu kunjungan yang lebih tenang.

  • Berhenti Mengejar Checklist Destinasi

Ada perbedaan antara “mengunjungi Jepang” dan “mengalami Jepang”.

Traveler yang terlalu fokus pada checklist mungkin berhasil mendatangi banyak tempat, tetapi belum tentu memiliki waktu untuk menikmati suasananya. Sebaliknya, berhenti lebih lama di satu tempat dapat membuat pengalaman perjalanan terasa lebih personal.

Konsep Ma memang tidak terbatas pada ruang fisik. Penelitian mengenai Ma menyebutkan bahwa konsep ini juga berkaitan dengan waktu, jeda, bahkan pengalaman manusia terhadap suatu tempat. Karena itu, tidak masalah jika satu hari perjalanan hanya diisi dua atau tiga aktivitas utama. Ruang di antaranya justru dapat membuat perjalanan terasa lebih lapang.

  • Sisakan “Ruang Kosong” dalam Itinerary

Salah satu cara paling mudah menerapkan Ma adalah dengan tidak membuat jadwal perjalanan terlalu penuh. Misalnya, daripada membuat itinerary dari pukul 07.00 sampai 22.00 tanpa jeda, sisakan beberapa blok waktu yang sengaja tidak memiliki agenda. Waktu tersebut dapat digunakan secara spontan sesuai kondisi.

Jika tubuh lelah, kalian bisa beristirahat. Jika menemukan kedai kecil yang menarik, kalian dapat mampir. Jika suasana sebuah kawasan terasa menyenangkan, kalian bisa berjalan lebih lama. Dengan begitu, itinerary berfungsi sebagai panduan, bukan aturan yang harus dipatuhi setiap menit.

  • Nikmati Jeda Selama Perjalanan

Ma juga dapat ditemukan dalam hal sederhana seperti perjalanan menggunakan kereta. Alih-alih selalu membuka media sosial, gunakan perjalanan untuk melihat pemandangan dari jendela, membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar diam. Jeda tersebut memungkinkan pikiran beristirahat dari rangsangan yang terus-menerus.

Hal ini relevan terutama bagi traveler modern yang terbiasa mendokumentasikan hampir setiap momen. Tidak semua pengalaman harus langsung difoto, diunggah, atau dibagikan. Bahkan, ketika muncul dorongan untuk terus memeriksa informasi terbaru selama perjalanan, mulai dari media sosial hingga berita crypto hari ini, konsep Ma mengingatkan bahwa tidak semua jeda harus diisi dengan informasi baru. Terkadang, pengalaman terbaik justru terjadi ketika tidak sedang sibuk mengabadikannya.

  • Terapkan Ma Setelah Pulang

Menariknya, konsep Ma tidak harus berhenti ketika perjalanan selesai. Prinsip yang sama dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jangan memenuhi seluruh akhir pekan dengan aktivitas. Sisakan satu sore tanpa agenda. Di rumah, berikan ruang kosong di antara furnitur. Saat bekerja, hindari membuat jadwal rapat tanpa jeda.

Dalam perspektif estetika Jepang, ruang kosong bukan sekadar ketiadaan. JAPAN HOUSE Los Angeles menjelaskan Ma sebagai jeda, celah, atau negative space, yang dapat ditemukan dalam arsitektur dan desain Jepang. Ruang yang tidak dipenuhi benda justru membantu menonjolkan elemen yang ada di sekitarnya. Prinsip tersebut sebenarnya bisa diterjemahkan ke kehidupan: tidak semua ruang harus dipenuhi sesuatu.

Ma Bukan Berarti Tidak Melakukan Apa-Apa




Penting untuk memahami bahwa Ma bukan sekadar ajakan untuk bermalas-malasan. Konsep ini lebih tepat dipahami sebagai kesadaran terhadap jeda dan ruang di antara berbagai aktivitas. Dalam penelitian akademik, Ma bahkan digambarkan sebagai interval ruang-waktu yang memungkinkan berbagai kemungkinan muncul.

Itulah mengapa traveler dapat mengambil pelajaran dari konsep ini. Liburan tidak harus menjadi perlombaan untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat. Memberikan ruang untuk berhenti, mengamati, dan menikmati suasana juga merupakan bagian dari perjalanan.

Pada akhirnya, mungkin tujuan traveling bukan sekadar membawa pulang lebih banyak foto, tetapi membawa pulang pikiran yang lebih ringan. Dengan menyisakan sedikit “Ma” dalam itinerary maupun kehidupan sehari-hari, perjalanan dapat terasa lebih tenang, fleksibel, dan bermakna.

Nah, bagaimana? Apakah kalian setuju untuk menerapkan konsep “MA” dalam setiap perjalanan liburan, sehingga ketika kembali pulang, benar-benar merasakan makna liburan yang sesungguhnya.



You May Also Like

5 komentar

  1. Wah, tentang kesadaran, jeda, dan ruang. Eni, tulisannya menarik banget deh. Bikin aku jadi mikir tentang konsep "Ma" dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata memberi ruang dan jeda itu penting juga ya supaya hidup ga terasa terlalu penuh. Dihubungkan dengan pengalaman traveler Jepang, jadi konsepnya terasa lebih dekat dan mudah dipahami. Thanks Eni, tulisannya jadi pengingat buat aku untuk lebih menikmati ruang kosong dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Termasuk soal jeda olahraga juga ahahaha :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Eni, konsep ma dari Jepang ini ternyata relate banget sama keseharian ya. 😊 Aku jadi kepikiran jadwal Pilates-ku, ternyata olahraga juga bisa jadi waktu buat kasih jeda dari rutinitas dan bikin pikiran lebih tenang. Ga harus selalu penuh aktivitas, sesekali menikmati ruang dan waktu buat diri sendiri ternyata penting juga. TFS, Eni, jadi makin semangat menikmati momen dan ga terus-terusan buru-buru! Aku udah memutuskan yoga dan mat pilates-ku nanti dikurangi, dimasukkan 1x berenangnya ahahaha :D

      Delete
  2. Aku mulai sadar untuk menyediakan waktu kosong ini sejak awal kuliah. Ketika diminta menyusun jadwal seminggu, kami diprotes senior karena tidak ada yang menjadwalkan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat di sela2 kesibukan

    ReplyDelete
  3. Setuju banget mbaaa...membuat itinerary memang penting tapi jadikan buat panduan saja kalopun rasanya terlalu capek dan padat maka kita bisa skip bbrp destinasi karena jika dipaksakan bukannya hepi tapi malah kecapekan sendiri..karena kadang liburan juga butuh waktu buat bersantai dan bermalas2an sejenak ;)

    ReplyDelete
  4. ini yang kadang aku lewatkan kalau lagi traveling, bahkan ketika pergi bareng temen pun, waktu bikin itinerary malah agendanya full seharian. Kadang sampe bingung mau kemana lagi, karena waktunya yang ga cukup.
    Perlu juga menyisakan ruang buat diri sendiri atau memberi jeda gitu ya, slow gitu sesekali

    ReplyDelete