Tuesday, December 10, 2013

Gajah Lumantang



Oleh: Eni Martini

Hujan mencurah dari langit begitu kakiku menjejak pelataran Ciboleger. Bunga air itu tumpah, membuat sekitar berkilau karena cahaya pantulan airnya, yang menggenang di tanah, bebatuan, juga badan daun. Suasana sepi karena hujan, juga karena menjelang sore. Sejenak aku celingukkan,  mencari sosok yang sudah kuhapal. Lelaki muda berusia sekitar dua puluh tahun, berperawakan langsing namun memiliki otot-otot yang terbiasa bekerja keras. Rambutnya lurus, pendek dengan senyum polos yang selalu menampakkan lesung pipi. Dimana dia?
Sebuah papan informasi kusam tetap berdiri tegak dengan barisan tulisan yang mulai dimakan waktu: ANDA MEMASUKI KAWASAN HAK ULAYAT MASYARAKAT BADUY.


 Dan sederet tulisan lainnya tentang tata krama di sini, seakan menjadi saksi setiap tamu yang berkunjung, salah satunya tentu diriku. Entahlah, ke sini seperti sebuah tumpahan kerinduan, seperti menuju orang terdekat kita, bukan sekedar mencari udara segar, hijau daun, beningnya sungai atau senyum yang murni. Kerinduan yang membuat lebih dari sekedar sebuah perjalanan. Aku sendiri tidak dapat menjabarkan dengan jelas.
Apalagi setelah lima tahun berlalu, kerinduan itu mungkin sudah  membatu, tapi aku menyimpannya rapi. Dalam pengembaraan mencari hidup, mencoba bertahan di negeri orang, berkutat dengan modernisasi hidup, didekap putihnya salju, dan dia. Aku masih menyisihkan ruang hati yang tak terjamah dan sekarang..aku datang untuknya.
Mba Angi, Puun sudah memberi tahu hari pernikahan saya...”
“Oya, Alhamdulillah...Mi!” aku menggenggam tangan Mimi. Seperti biasa tangannya begitu kaku, senyumnya mengembang malu-malu sembari menunduk. Sia-sia jika aku berharap gadis itu akan memelukku hangat. Sudah mau bicara, menjabat tangan denganku, itu sudah merupakan keajaiban. Mimi, seperti gadis Baduy Dalam kebanyakan. Tertutup, pemalu dan begitu sederhana.
Dalam bungkusan baju putih kain blacu, rambul keriting halus yang diikat menjadi satu membentuk konde sedang, matanya bulat tapi tidak besar. Bola mata itu kecoklatan seperti mocca...
Ah, aku jadi rindu segelas mocca hangat dan sepotong macarons, aku tergila-gila dengan isi blueberry. Disaat hujan, dingin, lalu sepi segelas mocca dan blueberry macarons seperti sedang ditemani sahabat atau kekasih terbaik.
Tahun kemarin Puun menunda pernikahan saya karena sudah ada enam yang ijin nikah...” Mimi menceritakan. Aku sudah tahu, sebab aku hampir tiga tahun mengenalnya. Dari dia seorang gadis kecil hingga tumbuh menjadi gadis siap menikah. Gadis-gadis Baduy menikah diusia muda, Mimi kalau tidak salah berusia sekitar delapan belas tahun. Harusnya dia menikah saat usia tujuh belas tahun, tapi di Baduy setiap tahun seorang Puun atau kepala adat hanya bisa menikahkan enam pasang pengantin. Jadi pengantin berikutnya akan dinikahkan tahun berikutnya, seperti yang dialami Mimi.
Mengapa kau menikah, Mi?” aku melayangkan pertanyaan itu ketika untuk pertama kalinya Mimi menceritakan padaku, dia dilamar seorang pemuda. Jujur, aku terkejut karena usianya masih jauh di bawahku. Dia tujuh belas tahun, aku dua puluh enam tahun dan belum berpikir soal menikah. Bukan belum berpikir sebenarnya, tapi tepatnya... masih ragu-ragu akan pilihanku sendiri.
Perkawinan nyaeta mangrupa hukum alam anu kedah lumangsung sarta dipigawe ku saban manusa tanpa terkecuali1
Aku nanar oleh jawaban seorang gadis muda dari Baduy Dalam ini, seorang gadis yang terkungkung kehidupan jauh dari peradaban modern. Jauh dari buku, media internet, yang diusung sebagai jendela menembus dunia. Arif nian jawabannya atas pertanyaanku, yang bila  kutelaah pertanyaanku itu sedikit kurang ajar atau bisa jadi kurang kerjaan. Karena aku sudah tahu gadis-gadis Baduy memang menikah muda.
Kadang, aku berpikir lebih nyaman berpikir secara sederhana seperti Mimi. Kulihat dibola matanya yang cokelat, bening, tidak ada keraguan. Tenang, yakin, bahkan seperti begitu gembira. Padahal seperti adat masyarakat Baduy Dalam, mereka tidak pacaran. Bisa jadi tidak saling kenal, dijodohkan Puun, ditentukan tanggal pernikahannya. Calon pengantin wanita seperti tidak memiliki argumen untuk ini itu di hari specialnya, apalagi menentukan gaun di hari paling bersejarah. Sebab mereka menikah tetap menggunakan pakaian seperti yang mereka gunakan sehari-hari, atasan putih dengan bawahan hitam, begitu juga untuk para prianya. Hanya bedanya baru.
“Oya, kau mencintai calon suamimu, Mi?” aku kembali digoda pertanyaan iseng.
Ulah ngan saukur nempo ku mata da cinta mah di jero dada2...”
Kembali aku nanar, nyaris  kehilangan kata-kata, sampai akhirnya aku hanya bisa berucap pelan, “Nanti aku belikan kain putih buat baju di hari pernikahanmu, Mi...”
Mimi mengangguk, wajahnya bersemu. Dia menceritakan calon suaminya memberinya baju untuk hari pernikahan mereka, tapi dia tidak menolak kalau aku membelikannya. Masyarakat Baduy Dalam begitu senang dioleh-olehi pengunjung berupa kain putih polos untuk bahan baju dari kain blacu, selain garam, rokok, makanan kecil, ikan asin. Hal-hal yang didapat dengan menempuh jarak jauh jika mereka beli sendiri. Mereka memang nomor satu dalam menempuh jarak perjalanan, bahkan tanpa alas kaki karena masyarakat Baduy Dalam terlarang memakai alas kaki, juga naik kendaraan.
Kapan tepatnya hari pernikahanmu?” Mimi memberi tahu hari pernikahannya. Aku  berhitung, masih ada waktu untuk mengantarkan kain putih yang akan dibuat menjadi baju di hari pernikahan Mimi. Ada libur kantor di hari ke jepit, yang bisa kugunakan untuk berkunjung ke Baduy.
...
Kau akrab betul, Ngi, sama putrinya Mang Karta?” kata Dian, sahabatku. Kami kerap ke Baduy bersama-sama saat liburan, karena sama-sama hobby berpetualang sejak kuliah. Pernah juga dua kali bersama rombongan kantor, tapi hanya sampai Gazebo, Baduy Luar. Bermalam, menikmati dunia tanpa listrik, merasakan udara alam yang mencucuk ke tulang dalam. Paginya bermain di sungai, mandi-mandi, sarapan bareng penduduk Baduy Luar ditemani ikan asin, pete Baduy yang terkenal legit. Bisa dibayangkan, nasi liwet beras ladang yang bertekstur sedikit pera, dimakan bersama ikan asin, dan pete bakar. Buah pete Baduy ini bulat, besar, legit.
Haduwww, aku jadi dilanda lapar. Dingin, tanpa manusia yang lewat, apalagi warung makan yang buka. Tadi dalam elf menuju ciboleger, nyaris dua jam terguncang-guncang melalui jalan yang meliuk, aku hanya sempat makan dua potong lontong yang kubeli di Pasar Rangkas. Lontong isi oncom pedas, enak. Jadi nyesel hanya beli dua, coba aku borong buat bekal di perjalanan. Tapi tadi kupikir, aku akan dijemput tepat waktu lalu menikmati nasi ladang, ikan asin dan pete bakar.
Ternyata masih saja selalu sama, manusia tidak akan mampu menentukan takdir ke depan. Aku menghela napas panjang. Mengingat pertanyaan Dian, aku jadi ingat tentang Mimi lagi. Awalnya aku mengenal dia saat berkunjung ke Cibeo, mendapat tempat menginap di rumahnya. Paginya kami dalam satu perjalanan ke tempat pemandian wanita, sungai dengan riungan dahan penuh daun. Teduh, sedikit temaram karena matahari tak terlalu bebas memancarkan cahayanya. Di Baduy dibedakan sungai tempat perempuan mandi dan pria mandi.
Kami terlibat obrolan karena dia memberiku sabun alami semacam daun yang digosok-gosokan ke  kulit hingga sedikit berbuih, di Baduy Dalam dilarang keras menggunakan sabun, odol, shampo dan sejenisnya. Sebenarnya, bukan obrolan karena hanya satu dua kata yang keluar dari bibir Mimi. Bibir mungil kemerahan oleh sirih, masyarakat Baduy hampir semuanya menyirih, laki-laki dan perempuan. Tua dan muda. Itu pun sembari menunduk, jarang sekali kontak mata denganku. Sementara Dian sedikit enggan berbasa-basi, sepertinya Dian tidak cukup sabar berbicara dengan gadis sepemalu Mimi.
Pusing ngajak ngomong si Mimi euy,” keluh Dian. “Makanya heran, kau betah banget dekat-dekat Mimi, Ngi.”
Entahlah, mungkin aku merasakan sesuatu seperti perasaan ‘klik’, yang tidak dipahami orang lain. Aku senang mengajak Mimi bicara walau hanya keluar satu dua kata, aku tahan mendengar Mimi bercerita meski alurnya putus-putus oleh keterbatasan bahasa, dia hanya bisa berbahasa Indonesia sedikit sekali. Karena wanita Baduy Dalam memang tidak pernah keluar-keluar seperti lelaki Baduy Dalam yang suka berpergian ke kota. Jadi kadang kami menggunakan bahasa tarzan, sampai lambat laun aku mulai memahami bahasa sunda masyarakat Baduy sedikit-sedikit.
“Mba Angiiiiiii!”
Bagai tersengat api, teriakan memanggil namaku itu membuat aku tersentak, sontak menoleh. Sedari tadi akhirnya aku memutuskan duduk di beranda masjid yang tak jauh dari pelataran Ciboleger, menanti jemputan. Sesekali menghibur diri, terlambat karena hujan. Salahku juga memaksa datang meski sore dan terpaksa akan menginap di Gazebo dulu, padahal waktuku begitu sempit. Aku harus kembali ke Eropa, mau tidak mau... not infrequently we really do not have the freedom of life itself.
Dulu, aku pernah sombong kepada takdir Mimi yang ditentukan Puun, ternyata aku berada pada rotasi yang sama saat ini. Hanya sedikit berbeda saja. Tapi sepertinya lebih  beruntung Mimi, dia melaluinya dengan bahagia bahkan mampu membuat pipinya bersemu bak pelangi. Sementara aku? Apa yang kurasakan?
“Aduh, maaf Mba, telat. Hujan tadi deras sekali. Apa kabar lama Mba Angi gak main ke Baduy?”
“Alhamdulillah baik. Oya, Didin, kamu bikin aku pangling!” Seruku, ternyata sosok Didin sudah tidak langsing lagi, sedikit tegap berisi.
“Kan sudah punya istri sama anak, Mba, jadi tuaan,” canda Didin.
Aku tertawa.
“Mba Angi sudah menikah juga, kok tidak bawa suam-“
“Husss!” aku mendengus tanpa sadar.
Didin menatapku tapi aku segera mengalihkan ke hal lain. Sungguh, perutku sangat lapar, hujan sudah reda. Kami nekat menembus sore menuju Gazebo, dua jam perjalanan. Menuju magrib kami akan sampai rumah Didin. Jalanan yang terjal jadi sangat licin, berapa kali aku nyaris terpeleset, untung sandal tali yang kukenakan memang sesuai untuk medannya. Sepanjang jalan kami asyik ngobrol melepas rindu.
Hari mulai gelap ketika melewati selasar rumah-rumah Baduy Luar yang sederhana, cahaya kelip dari lampu minyak di dalam rumah mereka tembus melalui celah dinding bambu. Di kegelapan cahaya itu seperti kunang-kunang yang menari, mengikuti langkah kami yang hanya diterangi lampu senter. Jika bukan berjalan dengan ahlinya, memasuki Baduy Luar malam-malam begini tentu berbahaya. Suara-suara hewan malam nadanya alam sekali, suara-suara yang lama tidak aku dengar.
Kulilitkan syal wol melingkari leher, sweater yang mendekap tubuhku masih ditembus angin Baduy yang jauh lebih dingin dari Jakarta meski masih lebih jauh lebih dingin salju. Tapi dingin malamnya Baduy terasa berbeda, menusuk, menciptakan kesunyian yang indah. Membuat kita berasa terdampar ke negeri antah berantah sebagai tempat yang cocok untuk membenamkan segala keramaian hidup di dunia modern.
“Di sini tidak ada yang berubah, Mba, tetap seperti dulu karena kami menjaga harmoni alam. Beda sama di kota, lama gak datang...tahu-tahu jalan berubah total.”
“Itulah kenapa Tuhan mengutus kalian datang ke bumi, agar sebagian isi bumi tidak tergerus manusia-manusia rakus...” kataku sembari tersenyum.
Larangan teu meunang dirempak,buyut teu meunang dirombak3...” ucap Mimi ketika aku menanyakan soal segala hal hukum adat yang berlaku di Baduy. Bisa jadi sebagian orang menganggap naif tapi inilah hakikinya manusia yang paham akan moral, dan ajaibnya ini diterapkan dengan saklek di sebuah tempat yang memberi kesan primitif, jauh dari kepandaian formal. Kita memang harus banyak-banyak berkaca pada alam.
Brug!
“Aduh!” aku menjerit kecil, karena kaget bukan sakit. Sebab, kakiku sempat menekuk saat bokongku menyentuh tanah. Didin segera membantuku berdiri.
“Licin, Mba Angi. Tapi sebentar lagi kita sampai, tuh sudah terlihat!” Didin menunjuk rumah panggung yang depannya terdapat lampu minyak kelip-kelip, tampak dari jauh ada bayangan beberapa orang berdiri di teras rumah Didin. Itu pasti keluarga besar Didin.
Semangatku terpacu, bayangan nasi ladang mengepul, ikan asin bakar, pete bakar. Aku berasa benar-benar ingin melahap semuanya sampai terasa kenyang.
...
Wilujeng Wengi, Neng Angi...” itu sapaan selamat malam dari Ayahnya Didin, terlihat dalam cahaya remang-remang wajahnya yang keriput bak buah prum dikeringkan tersenyum lebar, jikalau ada cahaya terang pasti deretan gigi itu merah oleh kebiasaan menyirih. Ayah Didin, Mang Japra mengenakan baju atas bawah hitam-hitam dengan ikat kepala hitam juga khas Baduy Luar. Masyakarat Baduy Luar selain mengenakan hitam-hitam, boleh menggunakan baju biasa yang dipakai masyakarat pada umumnya, seperti yang dikenakan Didin, celana jeans dan kaos. Masyarakat Gazebo paling modern dibanding Baduy Luar lainnya, karena menjadi pintu masuk dan transit para pengunjung.
Selain Mang Japra, ada Ambu4nya Didin, wanita setengah baya dengan rambut diikat asal keatas mengenakan kain dililit ke tubuh. Aku suka berpikir, apa tidak kedinginan, tubuhku yang dibalut sweater, syal dan celana cargo saja masih merasa dingin padahal 5 tahun hidup di Eropa.
“Ini istri saya, Mba Angi...” aku sudah duduk di teras bersama Mang Karta dan Ambu ketika Didin mengenalkan istrinya yang juga mengenakan kain dililit, namun dibagian atasnya dilapisi baju berkancing. Istrinya mungil, rambut tergerai melebihi bahu, menggendong anak Didin yang masih balita. Tahu-tahu tamu berdatangan, tetangga kanan-kiri Didin. Aku segera mengeluarkan bawaan, rendang yang sengaja kubawa 1 kilo, balado ikan asin, sebagian tidak aku keluarkan karena aku bawakan special buat Mimi. Yah, tujuanku ke baduy adalah mengunjungi Mimi.
Aku ingin tahu bagaimana dia sekarang sudah seperti apakah, berapa anak-anaknya, seperti apa suaminya karena aku tidak bisa datang pada hari perikahannya 5 tahun lalu. Saat itu aku harus pergi ke Eropa bersama Pete, aku ikut merasakan kebahagiaan Mimi yang mekar di dadaku juga.
Huh! Aku merasakan sesak mendadak menyebut Pete, ingin aku patahkan nama itu dan benamkan dalam arus sungai yang bergolak, tanpa tertinggal...
“Makan besar...” ucap Didin, istrinya dan Ambu sudah mengeluarkan nasi ladang yang masih mengepul dalam wadah anyaman bambu yang membentuk mangkuk, ikan asin bakar dan pete bakar yang dihampar diatas daun pisang...baunya, haruuum luarbiasa dibawa angin malam yang bersih. Jikalau keluarga Didin dan para tamu lahap dengan lauk bawaanku, yang tentu jarang mereka temui, maka aku lahap dengan ikan asin bakar dan pete bakar yang nyaris hilang dari lidahku selama 5 tahun.
Selesai makan para tamu dan keluarga Didin terlibat obrolan yang seru, aku hanya menyimak karena banyak tidak paham dengan bahasa mereka. Khas masyarakat baduy, baik Dalam dan Luar setiap kedatangan tamu mereka ikut meramaikan dengan mengunjungi rumah yang kedatangan tamu, makan bersama, menyirih sambil ngobrol. Setelah para tamu pulang, keluarga Didin beristirahat, aku terbaring di ruang dalam yang luas. Diterangi lampu minyak temaram, suasana yang sunyi membuat napas pun terdengar nyaring...
“Besok pagi antarkan aku ke Cibeo, Din, aku mau ke rumah Mimi. Menginap semalam di sana, kau boleh pulang dan jemput aku lagi besok paginya. Dari Cibeo aku mau langsung ke Jakarta lagi,” kataku sebelum tidur.
“Baik, Mba Angi.”
Lalu malam benar-benar senyap, benar-benar gelap ketika pelupuk mataku tertutup, berdamai dengan kantuk dan lelah. Mengenyahkan segala badai di dada. Aku kesini ingin menentramkan hatiku, sekedar melihat kebahagiaan Mimi, menertawakan kesombonganku akan hidupku yang penuh pilihan. Lihatlah, apa yang aku pilih. Tak ubah seperti memilih buah dalam kegelapan, aku tidak tahu apakah buah itu bagus atau penuh ulat di dalamnya. Dalam gelap aku hanya dapat meraba tekstur buah yang mulus, bau yang harum.
...
Pagi di Gazebo...
Embun jatuh di badan daun, bulat, bening seperti permata. Hal yang jarang aku temui di kota, udara mencubit hingga tulang, aku ke sungai hanya untuk cuci muka dan mengobati kerinduan saja. Beberapa wanita Baduy Luar sudah beraktifitas di sungai, mereka mandi, mencuci rambut dengan daun-daunan yang menimbulkan busa, mencuci perabotan dapur. Aku menyapa mereka dengan senyum lebar, mereka melambai dan tersenyum. Wanita Baduy Luar memang jauh lebih ramah ketimbang Baduy Dalam yang pemalu dan tertutup.
“Jalan sekarang?” kata Didin begitu kami usai sarapan. Aku benar-benar kalap dengan ikan asin bakar dan pete bakar, untung buang air kecilnya di sungai jadi terhindar bau ajaib efek makan pete.
Semua sudah aku packing rapi kembali, aku pun menganggukkan kepala, pamit kepada keluarga Didin. Dua anak Didin yang masih kecil melambaikan tangannya, aku membalasnya dengan senang. Kalau saja aku tahu Didin sudah punya anak, aku pasti membawakan kain buat pakaian mereka. Ini aku hanya membawakan kain buat anak-anak Mimi, aku ingat Mimi bisa menyulam nama di baju, aku juga membawakan jarum dan benang wol aneka warna. Meski sulaman hurup yang Mimi sulam terbalik-balik karena masyarakat baduy mengenal hurup hanya dari pengunjung secara ala kadarnya, termasuk dari hurup-hurup yang terdapat dikemasan makanan yang dibawa pengunjung.
Kami melewati beberapa saung tempat beristirahat, juga deretan leuwit atau lumbung padi Baduy Luar, langit begitu cerah, wangi tanah baduy ini murni, khas. Sesekali kami menjumpai warga Baduy Luar dan Dalam yang lewat, menyapa mereka dengan senyum. Sebenarnya aku ingin bertanya banyak tentang Mimi kepada Didin, tapi aku menahannya. Aku ingin sesuatu yang suprise, menyempurnahkan rasa rindu di hati.
Jembatan akar tanda perbatasan Baduy Luar dan Dalam sudah kami lewat, dulunya menurut cerita jembatan akar hanya merupakan jembatan bambu, namun seiring waktu jembatan ini dirambati akar-akar yang rimbun. Menciptakan jembatan akar menggantung diatas sungai besar yang elok.  Setelah melewati jembatan akar, berarti sebentar lagi rumah Mimi terlihat. Sudah seperti apakah gadis itu kini? Dadaku berdebar...
“Itu rumah Mimi, Mba Angi,” kata Didin mengagetkanku. Sebuah rumah panggung jauh lebih sederhana dari rumah Didin, bahkan dibangun dengan asal kelihatannya karena di Baduy Dalam segala peralatan sangat terbatas. Terdiri dari material kayu yang dipotong kasar, dinding bambu, atas rumbai. Teras depan sempit, hanya bisa untuk duduk satu dua orang, tidak seperti rumah Didin yang terasnya bisa menampung banyak orang. Tidak ada perubahan dengan rumah itu.
“Kok sepi, jangan-jangan pada menginap di ladang,” gumam Didin nyaris membuat aku patah hati, namun hatiku melonjak ketika kemudian keluar seorang gadis mengenakan pakaian putih khas Baduy Dalam, rambutnya diikat keatas, memegang tempat perabotan dapur dari anyaman bambu, menuruni anak tangga rumah panggung. Walau membelakangi, aku tahu itu pasti Mimi.
“Mimi!” aku menjerit keras, lupa akan suasana sunyi di Cibeo. Cibeo siang ini sepi.
Gadis itu menoleh dan matanya...seperti mocca, coklat bening. Dia menatapku lama, lama sekali sampai aku menubruknya, memeluknya erat. Mimi, aku hanya ingin tahu kau bahagia bersama keluarga kecilmu dengan pilihan Puun. Lihatlah, aku tidak mendapat apa-apa dari pilihanku sendiri...
“Mba A-Angi...” terbata Mimi mengingatku, Didin sudah pamit pulang karena laki-laki itu ada urusan lain, sesuai perjanjian dia akan menjemputku besok pagi. Aku dan Mimi sudah duduk di teras rumah, siang ini warga Cibeo sedang di ladang, maka sunyi sekali. Beruntung Mimi tidak sedang di ladang, ladang Baduy Dalam cukup jauh, melewati bukit terjal, naik turun karena itu disana dibangun gubuk-gubuk panggung untuk menginap.
“Iya, aku... Angi, Mi...” kataku haru biru. Mimi tidak banyak berubah, wajahnya tidak nampak menua, hanya sinar matanya tidak secermelang dulu. Ada redup yang membias. “Bagaimana keluarga kecilmu, kau punya anak berapa, Mi?”
Mimi menunduk, dia sibuk menuangkan air dari dalam botol beling besar ke dalam mangkuk keramik putih, kalau di Jakarta mangkuk-mangkuk keramik kecil putih itu biasa buat tempat soto Kudus, di Baduy Dalam digunakan buat gelas minum. Air putih Baduy berasa bau asap yang unik karena dimasak dengan menggunakan kayu bakar, buat yang tidak suka bau asap bisa meminumnya dengan menggigit gula aren Baduy yang legit.
Selesai menuangkan air minum, meletakkan potongan kecil gula-gula aren di piring plastik, Mimi terdiam. Mata menerawang menembus rimbunan daun.
“Mi..” aku tidak jadi minum, tapi menatap kejanggalan di depanku, ada apa dengan Mimi?
 Tiba-tiba Mimi masuk ke dalam lalu keluar lagi dengan memangku seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang tampaknya baru bangun tidur. Matanya seperti mocca, mata Mimi. Rambutnya lurus pasti rambut ayahnya karena rambut Mimi keriting halus. Wajahnya lonjong dengan dagu lancip, ini juga pasti mirip ayahnya. Aku mencolek pipi gadis kecil itu, pipinya kemerahan oleh matahari, sedikit dimakan daki yang kurang digosok saat mandi, tapi tetap terlihat jelita. Baju putihnya kecoklatan karena sering dipakai dan dicuci tanpa sabun, aku langsung teringat oleh-oleh yang kubawa. Selain balado kacang, kain putih untuk baju anak Mimi.
“Ini buat baju anakmu, jangan lupa dihiasi hurup-hurup dari benang ini. Oya, namanya siapa?” kusodorkan kain putih yang membuat Mimi tersenyum meski sekilas.
“Angi.”
“Apa?” aku terlonjak kaget.
“Saya pakai nama Mba Angi buat kenang-kenangan,” kata Mimi tersipu, dia menunduk begitu juga dengan putrinya yang memeluk kain putih pemberianku.
Aku tertawa senang, namaku ada di gadis kecil Cibeo.
“Mi, anakmu berapa?”
“Satu.”
“Suamimu ke ladang?’
Mimi menggeleng pelan.
“Kemana?”
“Pergi...”
Aku mengerutkn dahi, “Lagi pergi ke Jakarta?”
Mimi menggeleng, “Suami saya pergi waktu saya hamil 7 bulan, dia menikah lagi dengan wanita Baduy Luar. Hukum adat sudah mengusirnya dari Baduy Dalam...”
Aku melongo.
Tubuhku menggigil. Tidak! Aku berusaha menghalau suara-suara Mimi yang seperti berulang-ulang memenuhi telingaku, aku lihat Mimi masih duduk memangku anaknya penuh kasih. Tidak ada tangis, tidak ada kegelisahan, kalau lah ada paling hanya bias tipis di matanya.
“Kau tidak sedih, Mimi?” tanyaku hati-hati, begitu saja secara spontan.
“Hidup untuk dijalani,” kata Mimi pendek sambil membelai rambut putrinya. Aku lihat dari helaian rambut lurus kemerahan itu, tampak kilau biji-biji telur kutu rambut tapi gadis kecil itu tidak nampak menggaruk kepalanya. Menikmati belaian ibunya, menjumput sepotong gula aren dan memasukkan ke dalam mulut. Terlihat benar menikmati gurihnya gula aren yang dibuat dari air nira hasil menyadap bunga aren, dimasak sekian lama, dicetak dalam batok kelapa. Tekstur gula aren Baduy liat, dagingnya bersih, beda sekali dengan gula aren yang banyak dijual di pasar-pasar di Jakarta yang kadang begitu masuk ke dalam mulut mudah pecah.
...
Hidup untuk dijalani...
Aku memasukkan kata-kata itu ke palung hati. Lihatlah dirinya... Pete menghianatinya. Di usia pernikahan mereka yang kelima, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki berusia 3 tahun, Putra. Pete tahu-tahu menceritakan perselingkuhannya dengan Anne. Mereka menjalin hubungan lagi selama setahun tanpa sepengetahuanku. Anne kekasih Pete di masa lalu, parahnya Anne mengandung anak Pete. Apa salahku? Mungkin banyak kasus penghianatan, penceraian di luar sana karena seorang suami yang selingkuh tanpa alasan jelas, sesempurna apapun si istri. Tapi ketika itu menimpaku...
Dunia serasa berhenti berputar, inikah laki-laki pilihanku? Aku seperti memasukan paku ke dalam jantungku sambil tersenyum lebar. Aku pulang ke Jakarta dengan belitan perasaan kacau, aku butuh seseorang untuk menyakinkan apa yang harus aku lakukan. Seperti seorang bocah yang begitu bahagia dengan bola warna-warninya, begitu yakin memiliki selamanya hanya karena bola itu sudah diperuntukannya, lalu patah hati ketika bola yang diyakininya jatuh ke pekarangan lain.
Mama serahkan semuanya pada keputusan hatimu, Angi...”
Semua yang masuk ke dalam telinga seperti asap yang menguap begitu cepat, dititik rasa kacau aku ingin menemui Mimi. Gadis itu melintas seperti panggilan ghaib, aku ingin melihat kebahagiaannya yang dipilihkan Puun, mungkin akan menghiburku. Namun ternyata Mimi pun kehilangan suaminya tapi gadis itu tanpa tangis, tanpa emosi, membelai putrinya dengan keyakinan yang besar bahwa hidup harus dijalani. Aku  pun jadi semakin tahu, takdir hidup ada pada Yang Kuasa, pernikahan karena siapapun, baik perjodohan, pilihan sendiri, bukan jaminan kebersamaan sepanjang masa. Hidup yang penting dijalani...
Aku menemani Mimi memandikan Angi, putri kecilnya yang melonjak-lonjak gembira. Digosok tubuh gadis kecil kurus itu dengan daun-daun untuk mandi, digosok pula rambutnya. Rasanya gemas aku ingin memandikannya dengan sabun dan shampo yang wangi, tapi adat melarang semuanya untuk kemurnian alam.
            “Leuweung rusak, cai beak, manusa balangsak...” Mimi selalu mengucapkan berulang-ulang padaku untuk menjaga hutan dan sungai, agar manusia tidak sengsara. Kita benar-benar berhutang budi kepada mereka. Lihat lah  sebagai contoh, hancurnya sungai-sungai di Jakarta sehingga banjir bisa merenggut nyawa setiap tahunnya.
Selesai mandi, aku dan Mimi memasak nasi ladang, membakar ikan asin, pete. Bertiga makan dengan lauk ikan bakar, pete bakar dan lauk yang  kubawa. Masyarakat baduy memang tidak memiliki beragam makanan, sehari-hari mereka hanya makan nasi ladang, ikan asin, dan pete jika sedang musim. Daging-daging hanya ada ketika ada pesta kelahiran, kematian dan pernikahan.
Malamnya aku tidur memeluk Angi, kerinduan akan anakku memilin. Putra masih di Eropa, aku menemukan keyakinan akan pergi dari Pete. Tepatnya mengurus surat cerai, mengambil hak asuh Putra karena masih di bawah umur. Aku akan membawa Putra ke Indonesia, mengenalkan alam leluhurnya dengan indah, membesarkannya dengan keyakinan bahwa hidup harus dijalani...
Nya didinya Taji Wira Kuning jeung adina tetep lembur matuh dajeuh maneuh5
Sayup-sayup masih masuk dalam telingaku pantun berbahasa sunda menembus kesunyian, aku sempat bertanya pada Mimi, suara-suara apa itu?
“Itu suara orang membacakan pantun Gajah Lumantang, yang dibacakan karena mau ada nikahan, “ kata Mimi pelan. “Bacaan pantun bisa sampai pagi.”
“Oya?”
“Dalam pantun untuk pernikahan isinya nasehat kokolot mencontoh kehidupan para leluhur, agar suami istri menjaga kehidupan keluarga, ladang...” hanya itu jawaban Mimi, selebihnya dia terdiam, mungkinkah aku telah mengingatkan lukanya. Luka yang diam-diam ia endapkan karena hidup mesti dijalani untuk Angi?
“Maafkan aku, Mimi...” reflek aku mengucapkan itu.
Mimi tampak tersenyum dalam remang, dia menggeleng lalu rebahan. Kepalanya jatuh pada bantal kecil kekuningan. Tak ada lagi suaranya, hanya napasnya yang turun naik.
Terima kasih, Mimi...bisikku sebelum terpejam. Sebelum masuk ke dalam tadi, aku duduk di teras bersama Mimi dan Angi. Menatap langit dibalik rimbun daun, betapa bintang terlihat banyak diluar sana. Namun aku jauh lebih melihat bintang bersinar di Cibeo ini, yaitu sepasang bintang di mata Mimi dan putrinya.
Marentah sasama raja, reuhreuy nagara Pasir Batang Lembur Tengah6
Ngayajar pucuk kalapana, nguyupuk pucuk kawungna, nayektek pucuk jambena7

-The End-


Keterangan bahasa:
1.        Perkawinan adalah merupakan hukum alam yang harus terjadi dan dilakukan oleh setiap manusia tanpa terkecuali
2.        Jangan hanya melihat oleh mata sebab cinta itu di dalam dada
3.        Larangan tidak boleh dilanggar, buyut tidak boleh diubah
4.        Panggilan Ibu dalam bahasa Sunda, orang-orang Baduy biasa memanggil Ibunya dengan sebutan ‘Ambu”

5.        4-6 Cuplikan pantun dari Gajah Lumantang pantun yang biasa dibawakan pada selamatan perkawinan masyarakat Suku Baduy (sumber:Cecep Eka Permana’S Blog)

0 comments:

Post a Comment

Instagram

Domain Murah

CATEGORIES

>

Mengenal Mpasi versi WHO

MPasi WHO Homemade Yuk, Kenalan Dengan Mpasi Versi WHO Untuk Lintang, Pijar, saya belum mengenal Mpasi versi  WHO. Keduanya saya be...

HEY THERE .....

Eni Martini

Penulis novel, bukunya sudah diterbitkan lebih dari 20 judul. Salah satu difilmkan Mplus tahun 2010. Owner di bliblibuku.com, ibu dari 3 anak, penyuka teh hangat-perjalanan, fashion dan ...lifestyle blogger.

COMMUNITY

  • Powered by Blogger.