Ritual Rambut Sewu Perempuan di Rumah Sebelah Tidak Pernah Menjemur Pakaian di Siang Hari

by - June 06, 2026

 


Nama gue Pak Sardi, enam puluh satu tahun, pensiunan nelayan. Sekarang gue cuma duduk di teras, ngopi, dan lihat laut dari kejauhan karena lutut gue sudah tidak mengizinkan gue naik perahu lagi. Istri gue sering bilang, gue terlalu banyak mengamati urusan orang lain. Mungkin istri gue benar. Tapi kalau gue tidak mengamati, tidak ada yang akan tahu apa yang terjadi di rumah sebelah selama hampir dua tahun itu.

Tentang Kampung Kami

Kampung kami namanya Dusun Kalongan. Terletak di pesisir selatan Jawa, sekitar dua belas kilometer dari Parangtritis. Bukan desa wisata. Bukan desa yang ada di peta mana pun yang dijual di toko buku. Kami hanya ada di mulut ke mulut, dan bahkan itu pun jarang.

Penduduknya sekitar dua ratus jiwa. Hampir semua nelayan atau istri nelayan. Rumah-rumah menghadap ke utara membelakangi laut, karena nenek moyang kami bilang tidak sopan memandang laut selatan terlalu lama. Laut itu punya pemilik, dan pemiliknya tidak suka ditatap.

Gue lahir di sini. Gue akan mati di sini, dan selama enam puluh satu tahun hidup di tempat ini, gue sudah terbiasa dengan hal-hal yang orang kota akan sebut tidak masuk akal. Ombak yang bersuara seperti nama seseorang di malam tertentu. Bau kemenyan yang datang dari arah laut waktu angin bertiup dari selatan. Nelayan yang hilang dan ditemukan tiga hari kemudian di pantai yang berbeda  dalam kondisi selamat tapi tidak bisa mengingat apapun yang terjadi selama tiga hari itu.

Kami tidak membicarakan hal-hal itu dengan keras. Kami hanya tahu bahwa ada aturan-aturan tidak tertulis yang harus diikuti kalau mau hidup tenang di tanah ini. Salah satunya adalah : jangan terlalu dekat dengan orang yang baunya sudah berubah.

Tentang Rumah Sebelah

Rumah di sebelah kanan rumah gue sudah kosong selama tiga tahun sebelum akhirnya ada yang menempatinya lagi. Pemilik lamanya pasangan tua, Pak Marno dan istrinya pindah ke Wonogiri ikut anak mereka. Rumahnya ditinggal begitu saja, kuncinya dititipkan ke gue. Lalu suatu hari, sekitar pertengahan 2020, ada perempuan yang datang ke rumah gue, dan bilang dia sudah menghubungi keluarga Pak Marno dan menyewa rumah itu. Perempuan itu namanya Lastri.

Usianya waktu itu mungkin sekitar tiga puluh tahunan. Gue tidak bisa terlalu tepat karena ada sesuatu yang aneh dengan wajahnya dari pertama kali gue lihat, wajahnya terlihat lebih tua dari tubuhnya, atau mungkin sebaliknya, gue tidak bisa memutuskan. Dia datang sendirian, tidak ada suami, tidak ada anak, tidak ada keluarga yang mengantar. Hanya dia dan satu koper besar, satu tas ransel, dan satu bungkusan yang dibungkus kain jarik hitam yang dia pegang sepanjang waktu, tidak pernah diletakkan, tidak pernah dilepas dari tangannya.

Istri gue nyiapin teh dan mengajak ngobrol seperti biasa. Lastri ramah, bicaranya pelan, menjawab pertanyaan dengan cukup tapi tidak berlebihan.

Dari mana asalnya — Cilacap.

Kenapa pindah ke sini — Mau tenang, katanya. Mau dekat laut.

Kerja apa — Tidak kerja, katanya. Masih ada simpanan.

Waktu istri gue masuk ke dapur, gue sempat menatap bungkusan jarik hitam yang ada di pangkuan Lastri. Dari celah lipatannya, gue lihat sesuatu yang hitam dan panjang menjuntai keluar. Rambut.

Bulan Pertama

Lastri jadi tetangga yang baik di bulan pertama. Tidak berisik. Tidak mengganggu. Sesekali memberi ikan kalau dapat rezeki lebih dari pasar. Sesekali mampir ngobrol sebentar di pagi hari. Tapi ada dua hal yang gue notice sejak hari pertama. Pertama, Lastri tidak pernah menjemur pakaian di siang hari.

Ini hal kecil. Tapi di kampung pesisir seperti ini, menjemur pakaian adalah aktivitas pagi yang tidak bisa tidak dilakukan. Angin laut dan matahari adalah kombinasi terbaik untuk mengeringkan baju yang susah kering karena udara lembab sepanjang waktu. Semua orang menjemur pakaian di pagi sampai siang. Lastri menjemurnya setelah maghrib.

Gue tanya suatu hari — dengan santai, basa-basi tetangga biasa.

Dia bilang kulitnya sensitif. Tidak tahan panas matahari langsung.

Gue terima jawaban itu. Waktu itu.

Kedua, Setiap malam Jumat, ada bau yang datang dari rumah Lastri. Bukan bau masakan. Bukan bau rokok. Bau kemenyan. Dicampur sesuatu yang lebih berat dan lebih manis bunga, mungkin, tapi bunga yang sudah layu, bukan yang segar. Gue kenal bau itu.

Di kampung pesisir selatan, bau itu bukan hal yang sepenuhnya asing. Ada orang-orang yang melakukan laku tertentu pada malam-malam tertentu membakar kemenyan, menaruh sesaji, mengirimkan doa ke leluhur atau ke sesuatu yang lebih tua dari leluhur. Gue tidak tanya soal itu. Di sini, ada hal-hal yang lebih sopan untuk tidak ditanyakan.

Bulan Ketiga Sesuatu Berubah

Perubahan itu tidak datang tiba-tiba. Datangnya pelan, seperti air pasang yang naiknya tidak terasa, sampai tiba-tiba lutut kamu sudah basah. Yang pertama berubah adalah penampilan Lastri. Bukan berubah menjadi lebih buruk, tapi justru sebaliknya dan itu yang membuat gue dan istri gue membicarakannya diam-diam.

Lastri terlihat lebih muda dari bulan ke bulan. Kulitnya lebih cerah, matanya lebih bersinar, cara jalannya berubah lebih ringan, lebih percaya diri. Istri gue bilang mungkin udara laut cocok sama dia. Gue tidak bilang apa-apa, tapi gue mengamati lebih cermat.

Yang kedua berubah adalah frekuensi bau kemenyan itu. Kalau sebelumnya hanya malam Jumat, sekarang hampir setiap malam. Dan intensitasnya lebih pekat. Kadang pagi hari gue bangun dan sisa baunya masih ada di udara, seperti menempel di serat kayu rumah gue yang berbatasan langsung dengan rumah Lastri.

Yang ketiga, dan ini yang paling membuat gue tidak nyaman adalah suara. Sekitar bulan ketiga, gue mulai dengar suara dari rumah Lastri di tengah malam, bukan suara keras. Justru sangat pelan seperti seseorang sedang berbicara dengan ritme yang konstan bukan percakapan biasa, tapi seperti mantra, atau hitungan, atau keduanya. Suaranya selalu berhenti tepat sebelum azan subuh.

Pertemuan dengan Mbah Parti

Mbah Parti adalah perempuan tertua di kampung kami. Usianya tidak ada yang tahu pasti dia sendiri bilang sudah lupa, tapi yang jelas dia sudah ada sejak sebelum orang tua gue lahir. Dia tinggal di ujung kampung, dekat muara sungai kecil yang mengalir ke laut. Rumahnya selalu harum serai dan jahe. Gue pergi ke sana suatu sore, pura-pura mampir karena anak buah Mbah Parti baru dapat tangkapan besar dan gue mau beli ikan. Tapi tujuan gue yang sesungguhnya adalah bertanya.

Gue ceritakan tentang Lastri. Tentang bau kemenyan. Tentang suara di tengah malam. Tentang perubahan penampilan yang membuat gue tidak nyaman. Mbah Parti mendengarkan sambil memilah ikan. Tidak memandang gue, tangannya terus bergerak. Waktu gue selesai cerita, dia diam lama. Lalu dia tanya satu hal.

"Rambuté, Kang. Rambuté Lastri — panjang ta?"

Gue bilang iya. Sangat panjang sampai pinggang, hitam pekat.

Mbah Parti mengangguk pelan.

"Lan saben esuk, ana rambut panjang ing ngarep omahe?" (Dan setiap pagi, ada rambut panjang di depan rumahnya?)

Gue diam. Gue baru sadar bahwa memang ada. Gue sudah lihat berkali-kali tapi tidak pernah menghubungkannya dengan apapun. Hanya selalu gue anggap rambut yang rontok terbawa angin.

"Iku dudu rambut sing rontok, Kang," kata Mbah Parti pelan. (Itu bukan rambut yang rontok, Kang.)

"Iku rambut sing wis dienggo. Sing wis diobong. Sisiné." (Itu rambut yang sudah dipakai. Yang sudah dibakar. Sisanya.)

Gue tanya — dipakai untuk apa.

Mbah Parti akhirnya menatap gue. Matanya yang sudah sangat tua itu menatap gue dengan ekspresi yang gue tidak bisa baca dengan tepat,  antara kasihan dan waspada.

"Ritual Rambut Sewu, Kang. Nanging iki dudu Rambut Sewu sing biasa. Iki Rambut Sewu Segoro." (Ritual Rambut Sewu, Kang. Tapi ini bukan Rambut Sewu biasa. Ini Rambut Sewu Segoro.)

Gue tidak pernah dengar istilah itu sebelumnya. Mbah Parti menjelaskan dengan singkat dan dengan nada suara yang membuat gue merinding meski udara sore itu panas. Rambut Sewu Segoro (Rambut Sewu Laut) adalah varian dari ritual yang sama tapi dilakukan di daerah pesisir selatan, di mana kekuatan laut digunakan sebagai amplifier. Sebagai penguat ritual yang sama jelasnya bekerja, kata Mbah Parti, tapi dengan harga yang berbeda.

"Yen Rambut Sewu biasa mbayar karo awake dewe — Rambut Sewu Segoro mbayar karo liyané." (Kalau Rambut Sewu biasa membayar dengan dirinya sendiri — Rambut Sewu Segoro membayar dengan orang lain)

Gue tanya — orang lain yang mana.

Mbah Parti tidak menjawab.Dia hanya menatap ke arah kampung ke arah rumah Lastri yang bisa dilihat dari sini kalau cuaca cerah. Dan gue menyadari bahwa pandangan itu bukan mengarah ke rumah Lastri, tapi ke rumah-rumah di sekitarnya.

Bulan Kelima Tetangga Mulai Sakit

Hal pertama yang gue notice adalah istri Pak Kumis,  tetangga dua rumah dari Lastri,  tiba-tiba jatuh sakit. Bukan sakit yang bisa dijelaskan dokter puskesmas. Badannya lemas, rambutnya rontok, nafsu makannya hilang. Dokter bilang mungkin anemia, kasih suplemen. Seminggu tidak membaik. Dibawa ke rumah sakit kabupaten, semua hasil laboratorium normal. Tapi dia terus melemah.

Yang kedua adalah anak Pak Hadi, laki-laki dua belas tahun  tiba-tiba tidak mau makan dan tidak mau bicara selama hampir seminggu. Matanya kosong. Duduk di teras seharian menatap ke arah rumah Lastri tanpa ekspresi. Dokter bilang mungkin trauma psikologis, orangtua Hadi tidak tahu trauma apa yang anaknya alami.

Yang ketiga adalah kejadian yang gue sendiri tidak mau terlalu lama memikirkan. Suatu pagi gue bangun lebih awal dari biasanya. Jam empat kurang, langit masih hitam, gue keluar ke teras untuk ngecek perahu tetangga yang gue ikut jaga karena pemiliknya sedang ke luar kota. Dan dari teras gue lihat Lastri, dia berdiri di tepi pantai sendirian. Rambutnya terurai panjang dan tampak bergerak meski tidak ada angin yang cukup kencang untuk menggerakkannya seperti itu.

Tangannya terentang ke kedua sisi. Telapak tangannya menghadap ke atas, wajahnya menghadap ke laut. Dan dari jaraknya sekitar lima puluh meter dari tempat gue berdiri,  gue bisa lihat ada sesuatu di tangannya yang terbakar pelan. Merah kecil di masing-masing telapak tangan. Gue berdiri diam sangat lama, lalu Lastri menolehkan kepalanya ke arah gue. Bukan karena gue bersuara. Gue tidak bersuara. Gue tidak bergerak, tapi dia tahu gue ada.

Dia menatap gue dari kejauhan itu selama beberapa detik, lalu dia senyum. Gue yang sudah enam puluh satu tahun hidup di kampung pesisir ini dan sudah terbiasa dengan hal-hal yang tidak bisa dijelaskan,  untuk pertama kalinya dalam ingatan gue yang panjang itu, gue masuk ke dalam rumah dengan cepat dan mengunci pintu.

Percakapan yang Seharusnya Tidak Terjadi

Seminggu setelah kejadian di pantai itu Lastri datang ke rumah gue. Sore hari, membawa pisang goreng, senyumnya lebar. Istri gue persilakan masuk dan buatkan teh, gue duduk di kursi seberang. Berusaha terlihat biasa. Lastri ngobrol santai, nanya soal kondisi laut belakangan ini. Nanya soal tetangga yang sakit. Nanya soal jadwal hajatan yang katanya bulan depan ada. Gue jawab semuanya pendek-pendek.

Lalu Lastri berhenti sebentar minum tehnya. Menatap gue dengan mata yang gue tidak bisa baca.

"Pak Sardi sering bangun pagi ya," katanya pelan.

"Biasa, Bu. Nelayan."

"Sering ke pantai juga?"

"Kadang-kadang."

Lastri mengangguk. Senyumnya tidak berubah. "Pak Sardi tahu, kan, di sini ada aturan tidak tertulis soal melihat sesuatu di pantai sebelum subuh?"

Gue tahu ke mana arah pembicaraan ini, tapi gue tetap diam.

"Kata orang-orang tua di sini," lanjut Lastri dengan nada yang sangat santai, sangat datar, "Kalau seseorang melihat sesuatu yang bukan urusannya di pantai sebelum subuh dan dia diam saja, tidak cerita ke siapa-siapa biasanya tidak ada masalah. Semua baik-baik saja."

Dia berhenti sebentar.

"Tapi kalau dia cerita ke tetangga, ke orang tua kampung, ke siapapun,  biasanya ada harga yang harus dibayar."

Istri gue waktu itu sedang di dapur, tidak dengar percakapan ini.

Gue menatap Lastri. Lastri menatap gue kembali.

"Bapak sudah cerita ke siapa-siapa?" tanyanya.

Suaranya masih lembut. Masih senyum. Tapi matanya —Matanya sudah tidak sama dengan mata manusia yang gue kenal.

"Belum," kata gue. Itu bohong.

Yang Terjadi pada Mbah Parti

Tiga hari setelah percakapan itu, Mbah Parti sakit mendadak parah. Tidak ada yang bisa menjelaskan. Perempuan yang selama puluhan tahun tidak pernah sakit lebih dari masuk angin biasa itu tiba-tiba tidak bisa bangun dari kasur. Badannya dingin, matanya setengah terbuka, napasnya berat. Cucu-cucunya panik dan membawanya ke rumah sakit.

Sebelum dibawa, dalam kondisi setengah sadar itu, Mbah Parti memegang tangan cucu tertuanya dan berbisik sesuatu. Cucu itu yang gue kenal baik karena sering bantu gue di perahu dulu menceritakan ke gue apa yang Mbah Parti bisikkan. Katanya Mbah Parti bilang :

"Ojo kandakke Pak Sardi. Ojo kandakke. Wis kasep." (Jangan beritahu Pak Sardi. Jangan beritahu. Sudah terlambat.

Dua Minggu Terakhir

Mbah Parti tidak kembali ke kampung. Dia meninggal di rumah sakit empat hari setelah dirawat. Dokter bilang organ-organnya mengalami kegagalan yang tidak bisa dijelaskan secara medis untuk seseorang yang kondisi fisik sebelumnya tidak ada masalah berarti. Istri Pak Kumis perlahan membaik setelah Mbah Parti meninggal.

Anak Pak Hadi kembali normal, dan Lastri — Lastri terlihat lebih sehat dari sebelumnya. Lebih bercahaya, lebih muda. Lebih kuat. Seperti ada sesuatu yang dipindahkan. Gue amati semua itu dari teras gue, sambil ngopi, sama seperti biasanya. Gue tidak cerita ke siapa-siapa lagi, tapi gue terus mengamati.

 

Karena ada satu hal yang gue notice dalam beberapa hari terakhir ini hal yang belum pernah gue ceritakan kepada siapapun dan baru sekarang gue tuliskan pertama kalinya. Setiap pagi, waktu gue menyapu teras ada rambut panjang di depan pintu rumah gue. Bukan satu dua helai, ta[I puluhan. Hitam, tersusun rapi. Gue sapu, gue buang.

Keesokan paginya ada lagi. Gue tanya istri gue apakah dia tahu dari mana rambut-rambut itu. Istri gue menggeleng bingung.

"Lho, Pak — itu kan rambut Bapak sendiri."

Gue terdiam.

Gue pegang sehelai rambut yang tersisa di sapu gue. Gue lihat dengan teliti. Hitam pekat, panjang hampir semester, dan gue baru ingat satu hal yang selama ini tidak pernah gue permasalahkan, rambut gue sudah putih semua sejak dua belas tahun lalu.

Dusun Kalongan, pesisir selatan Jawa. Ritual Rambut Sewu Segoro tidak meminta rambut dari lakunya. Ia meminta rambut dari yang paling dekat dengan pelakunya, yang paling sering melihat, yang paling banyak tahu.. Dan yang paling tidak pernah curiga bahwa sejak malam pertama Lastri datang ke kampung ini ritual itu sudah berjalan, Pak Sardi sudah menjadi bagian darinya tanpa pernah diminta, tanpa pernah tahu.

You May Also Like

0 komentar