1 Hari di Bandung Kemana Aja?

by - September 08, 2026

 

1 hari di Bandung kemana aja?

Liburan dengan jarak yang lumayan dekat, tapi bisa dibilang agak jauh, yakni Jakarta-Bandung. Ada perasaan sayang gak, kok cuma sehari? Bisa apa saja atau kemana saja nih? Ehmm, sebenarnya pengennya sih staycation meski hanya sehari ya, hehehe. Tapi apa daya kita para emak-emak yang beberapa masih menanggung anak kecil, butuh effort buat pergi menginap, tapi pengen banget liburan buat menghilangkan penat, lelah dan letihnya kehidupan. Tsaaaah!




Makanya emak-emak yang menyatu dalam kelas pratahsin 3 di MAQ ini, yaitu saya, Teteh Ani yang dikenal berbadan model ala catwalk, Mb Tania dengan wajah bak Nia Daniati, Mb Yuni biduan dengan suara mendayunya, Mb Dewi wanita perkasa bersuara lembut yang hobby naik gunung, Mba Erni mama yang jago banget ngebento serta bersuara bagai rayuan pulau kelapa, juga dua senior yang staminanya gak kaleng-kaleng, Bu Eva dan Bu Narti. Serta para anak muda, Tisel yang beraura gebyar, Rima yang diam-diam maut, dan Angel CEO belia penguasa Bedahan yang bersuara 7 oktaf! Wkwkwkwkw

Jadilah kami memutuskan untuk liburan 1 hari di Bandung, yang semula berkhayal ke Pahawang, Pulau Bidadari, Bukit Ibu, dan tetek bengek lainnya. Secara ada yang mabuk laut, oleng lihat samudera membentang, gak bisa jauh dari bocil yang gencar meneror, gak kuat mendaki puncak demi puncak, tremor lutut dan sebagainya. Pokoknya harus adil sesuai PANCASILA sila ke 5, hahaha. Makanya ke Bandung!

Di sini diedit ada Mb Riri (Atasan&kerudung hitam), kita lupa nyelipin foto Ustazah Kiki (hahaha)

Oya, tapi kodratullah, pada perjalanan liburan kali ini Ustazah kita yang gaul, ramah, memiliki senyum segurih keju, Ustazah Kiki, terpaksa gak bisa ikut karena bentrok dengan field trip MAQ kelas anak-anak, kebetulan anak saya, Pendar, ikut acara tersebut. Juga temen motoran saya kembaran Tino Rossi, Mb Riri, karena putranya sakit. Ya Allah, semoga segera diangkat penyakitnya dan dimudahkan dalam penyembuhannya, Aamiin.

1 Hari di Bandung, Kemana Saja Tujuannya?

Atas kesepakatan bersama, mobil yang kita sewa menunggu atau titik kumpul di depan pintu Tol Kukusan, pukul 05.15 WIB. Tapi namanya emak-emak, ada aja yang molor, Rima si pendiam yang ternyata memiliki segorobak rahasia, datang nyaris pukul 6 pagi, yang bikin semobil pada ketar-ketir, wkwkwkw. Sabarrrrr pokoknya kita!


Muka bete nungguin Rima

Alhamdullilah, akhirnya pukul 6 pagi kita semua berangkat menuju Bandung dengan tujuan pertama, D’Pakar. Suasana meledak dengan suara emak-emak biduan karoke, dan jalan lancar, tidak macet seperti biasanya saat weekend menuju Bandung, mungkin karena terdampak kondisi anak Krakatau yang menimbulkan cuaca kurang baik-baik saja, makanya kita semua memakai masker. Begitu pun sampai Bandung ke arah Dago, masih terkendali suasana jalan, meski terlihat banyak orang berkerumun di titik area wisata tertentu. Mungkin masih warga sekitar Bandung ya.

Gokilnya Pepotoan di D’Pakar Dago

Pukul 08.30 WIB kita semua mendarat cantik di D’Pakar Dago, sebuah kafe yang memiliki konsep out door di kawasan Dago Atas, Bandung, dengan pemandangan alam lembah dan pegunungan hijau nan sejuk. Meski matahari cetar membahana, tapi udara dinginnya mencucuk kulit loh. Sayangnya, musim panas jadi banyak rerumputan yang menguning, juga debu tebal yang menyelimuti meja dan kursi. Tebal dan keabuan debunya, hiks.


Suasana D'Pakar Dago-Bandung

Tapi tidak mengurangi keindahan pemandangan, dan keasyikan kita ngobrol, foto-foto maksimal, sampai bikin video seseruan yang gokil banget. Saya memesan baso aci mengikuti ide Teh Ani, urang Sunda yang bilang: “Ke Bandung pesen makanan ya, khas Bandung”

Alhamdullilah, enak terutama kuahnya ya, sama baso acinya yang isi urat muda (kayaknya ya, habis terasa kriuk dan kenyal gitu), minumnya susu jahe hangat. Nyambung gak sih, baso aci sama susu jahe? Tapi berhubung saya lagi flu, jadi kayaknya enak aja sih (maksa). Juga icip-icip pesanan temen-temen mulai dari Batagor, Peyeum, rasanya lumayan. Harganya menurut saya cukup terjangkau. Sejujurnya, saya pengen nyobain bala-bala khas Bandung, tapi takut banget tenggorokan ngadat, jadi sekuat jiwa ditahan.


Baso Aci-Batagor D'Pakar Dago

Saat sesi foto dan video ini, tergokil sih menurut saya. Angel dengan suara toanya mengarahkan emak-emak untuk berpose dalam video, dari mulai lari-lari ala tetetubbies, sampai dadah-dadah kayak mau ditinggal pacar merantau jadi TKI, wkwkwkw. Luarbiasanya, Bu Eva senior yang terlihat berwibawa, tahluk dibawah aba-aba sang sutradara, Angel. Saya yang paling gemes sama pose-pose ikutan bawel ngarahin gaya yang bikin emak-emak pengen mudik gak balik-balik, alias eneg sama komen saya, hahaha.




Ngeborong Camilan di PRIMA RASA

Karena waktu yang tipis, Zuhur kita memutuskan meluncur ke Prima Rasa sambil mencari ide mau makan siang dimana. Ke Prima Rasa untuk membeli oleh-oleh, sebab yang awalnya mau ke Kartikasari, kata Bu Eva, tidak rekomend, terlalu biasa kualitas oleh-olehnya. Ternyata benar dong, di Prima Rasa semua oleh-oleh terasa enak. Bayangin, masuk pintunya langsung tercium aroma keju premium. Kalau gak ingat “ini this economic”, pengen beli-beli-beli. Akhirnya saya beli satu box Brownies Kukus, satu box kue Mocci kacang wijen, setumpuk Mocci dalam keranjang bambu, Pisang Bolen Keju, sesuai pesanan orang rumah.


Prima Rasa

Sebenarnya pengen nambah Pisang Bolen Cokelat, tapi katanya mateng pukul satu siang. Aduh, kelamaan kan, kita mau maksi sekalian sholat zuhur, dan ke beberapa Lokasi lainnya, sebelum pulang ke Jakarta. Maka setelah selesai belanja dengan antrian mengular, kita langsung cabut ke Rumah Makan Haji Cijantung. Namanya aneh ya, tapi kata Bu Eva enak dan tempatnya asyik buat ghibah, wkwkwkw.

Suasana Rumah Makan Ibu Haji Cijantung Bernuasa Vintage


Rumah Makan Haji Cijantung Bandung

Nama rumah makannya agak gimana gitu, gak estetik, wkwkwk. Penampakan dari depan juga bisa aja, tapi ternyata begitu masuk, suasana vintagenya kental dari hiasan di dinding, dan pernak-pernik jadul. Di dinding dipenuhi barisan perabot jadul yang khas banget, dan ternyata rumah makan sunda ini termasuk legendaris yang terkenal dengan sambal dadak dan kelezatan masakan khas Sundanya. Tapi entah kenapa, banyakan tamunya bule-bule loh.

Kita ditempatkan di ruangan VIP yang menurut saya membosankan, terkesan kosong dan gak bisa cuci mata gitu, hehehe. Saya suka di luar yang kaya akan ornament, dan juga suasana nyaman diiringin dengan live music penyanyi tua membawakan lagu-lagu jadul, Tapi ternyata yang tersisa untuk ramai-ramai hanya VIP, yang lain sudah dipesan para bule.


Ruang VIP, membosankan ornamennya, tapi bebas hahaha-hihihi

Untuk harga makanannya cukup terjangkau, saya memesan nasi tutug oncom dan ayam bakar. Sebenarnya mau nasi liwet, tapi habis dan bisa menunggu 30 menit. Akhirnya nyerah deh makan nasi tutug yang bercitra rasa kencur banget ketimbang oncom. Untuk minumnya teh hangat tawar dikasih free, dan sambil menunggu pesanan serta teman-teman sholat (saya lagi berhalangan), kita ngobrol bocor sana-sini sampai keluar air mata, hahaha.


Nasi Tutug Oncom, Ayam Bakar, Tahu-Tempe, dan Sayur Asam

Untuk rasa makanannya? Lumayan enak, sambalnya cocok di lidah saya karena lebih ke manis dan gurih, pedasnya sedang. Ayam bakarnya bumbu sampai ke tulang, dan nasi tutugnya saya agak kurang cocok ya, soalnya dominan kencur gitu citra rasanya. Tapi secara keseluruhan, menunya cukup otentik dan murah! Kelar ngobrol sampai kram perut, kita pun cabut menuju area shopping, dan Mb Dewi pamit pulang naik travel, karena satu hal dan hal lain.

Shopping di Dama Kara, Mr. Quilting, dan Parfume

Khas baju-baju di Dama Kara ini desainnya simple, sederhana, tapi chic banget deh. Cuttingnya juga jempol, sehingga terlihat berkelas dengan warna-warna dominan kalem. Saya naksir banget sama blazer yang didesain modern kekinian, tapi memiliki potongan yang unik, dibandrol harga nyaris 400 ribu rupiah. Sayang, bahannya saat saya sentuh agak kureng buat saya.

Saya juga jatuh hati sama rok simple banget dengan harga nyaris 600 ribu, ehmmmm…sayang duitnya, jadi saya amati dan ingat buat jahit sendiri aja, wkwkwkwk. Yang belanja di Dama Kara cuma Angel, beli jaket baby doll bahan parasut (kalau gak salah), cocok buat bepergian maupun olahraga lari manja, harganya sekitar 300 ribu.

Setelah menikmati suguhan secangkir kunyit asam yang dingin dan lezat (welcome drink), saya dan Angel menyusul temen-teman yang sudah cabut ke Mr. Quilting. di Mr. Quilting tasnya berbahan parasut dengan model kekinian, di bandrol harga di bawah 200 ribuan, Saya mau yang model sederhana buat ngaji, tapi lagi-lagi mikir: Di rumah  banyak tas keleleran akibat lapar mata, jadi saya tahan. Meski terbayang sampai rumah, karena kayaknya bahannya awet dan cukup murah, 120 ribu.

Di Mr. Quilting yang belanja Mb Tania, beli tas dengan model ABG dan cetar membahana, pink fuchia, tidak ketinggalan Mba Yuni dan Bu Narti. Kemudian lanjut lagi ke Win Parfum. Toko parfum KW-KW gitu, tapi kualitasnya bagus. Keharumannya nyaris mirip dan cukup tahan lama, awalnya jujur saya ragu, hehehe. Sebab pernah beli KW atau oplosan gitu, selain aroma nyegrak dari aslinya, gak tahan lama.

Ternyata setelah lama ngobrol ngalor-ngidul, dan cium sana-sini, saya ikutan jatuh hati sama pilihan Teh Ani, parfum Freedom Musk Santal, yang katanya aromanya twin sama Osma yang merupakan merek wewangian asal Arab Saudi yang viral sebagai oleh-oleh haji atau umrah yang kini hadir resmi di Indonesia. Aromanya khas Timur Tengah, memadukan keharuman tradisional oriental dan modern gitu.

Lucunya nih, gak cuma saya dan Teteh Ani yang beli, tapi menyusul Tisel, Mb Tania dan Mba Erni, bahkan Angel yang semula menunggu di mobil. Begitu kita datang bawa parfum, langsung ngacir masuk Win Parfum buat ikutan beli! Jiyaaaah, kan jadi nungguin lagi deh. Oya, Freedom Musk Santal KW dibandrol harga Rp120.000 buat ukuran 30 ml.

Tujuan Puncak ke Batagor Burangrang


Batagor Burangrang

Selesai urusan dunia parfum, kita mau mampir ke Braga, rencana mau naik transum wara-wiri, terus ngopi sambil menikmati sore, tapi melihat angin bertiup kencang menggugurkan daun-daun. Cuaca makin senja, nyaris pukul 5 sore, akhirnya memutuskan ke Batagor Kahuripan. Eh, ternyata sudah tutup! Alhamdulliah, ada google berjalan, Bu Eva, jadilah kita diarahkan ke Batagor Burangrang. Memang emak-emak itu mirip pemadam kebakaran, PATANG PULANG SEBELUM PADAM.

Meski harganya termasuk mehong ya, satu isian harganya Rp17.500,menurut saya batagornya enak, tapi kalau untuk isian tahunya sayang deh beli segitu, hehehe. Mending beli batagornya aja, terasa banget ikannya, endues. Bumbunya juga enak, kental banget. Sayangnya, saya pesan yang sepaket isi 10, RP 175.000. Harusnya saya pesan bijian aja deh, beli tanpa tahunya. Karena, namanya tahu, biar tahu enak, ya tetap khas rasa tahu.

Sayonara Bandung!



Matahari semakin ke arah barat, sinarnya jingga di langit, perjalanan bakal Magrib di tol, kita mulai menyetel zikir sore sambil ngobrol panjang lebar di bus sambil menunggu sampai area rest di 80KM. Obrolan pecah lagi, di sini terkuaklah jiwa-jiwa terpendam emak-emak yang ternyata bocor semua, wkwkwkkw.

Ternyata sampai area rest Isya, hingga sekalian sholat Isya, saya dan teman-teman yang berhalangan menunggu diluar masjid setelah buang air kecil, beli minuman. Dan, perjalanan dilanjut lagi, hingga tiba di pintu tol Kukusan nyaris pukul 10 malam.

Alhamdullilah Ala Kuli Hal, segala puji bagi Allah atas semua keadaan. Perjalanan sehari ke Bandung ini membawa makna indah masing-masing, semoga Allah memberikan keberkahan pada silaturahmi kita, Aamiin

 

 

 

 

 

You May Also Like

0 komentar