Our Story

Ceremony

Family

Bagaimana Menjadi Ikhlas Ketika Kehilangan Anak

by - July 30, 2017



"Bagaimana Menjadi Ikhlas Ketika Kehilangan Anak?"

Begitu seorang ibu menerima pertanyaan itu kira-kira apa yang dirasakan? Memang seorang ibu yang kehilangan anaknya di dunia ini tidak hanya saya, ada ribuan atau mungkin jumlahnya yang tak terhitung nalar saya. Tetapi tetap rasanya sedih itu sama dirasakan semua manusia, rasa sedih kehilangan yang manusiawi.

Hampir lima tahun lalu, tepatnya 15 Agustus 2012 saya kehilangan anak ke tiga, lelaki kecil berusia tepat 5 bulan yang kami beri nama Anakku Khalil Muhammad Gibran. Pergi di siang hari setelah semalam tertidur di dada saya dalam keadaan tanpa baju, tubuh kami saling bersintuhan. Saat itu saya berharap demamnya tersedot ke dalam tubuh saya, nafasnya yang tersengal merasuk ke dalam diri. Harapan yang sia-sia hingga saya terjaga pukul 3 pagi dan melarikannya ke rumah sakit.

Tahap Rasa Karena Kehilangan

  • Berasa Tidak waras
Begitu Gibran masuk ke ruang ICU, tidak lama koma, beberapa dokter memanggil saya dan suami. Memberitahu hal terburuk yang akan dialami si kecil, termasuk resiko jika dia dapat tertolong ada dua kemungkinan; Pertumbuhan fisiknya yang terhambat atau psikisnya. Manusia tidak boleh mendahului Allah SWT, tetapi Allah SWT juga memberi keistimewaan manusia untuk belajar dan berpikir sehingga memiliki ilmu pengatahuan. Perkiraan beberapa dokter tentu bukan asal.

Jleb! Saya menatap si kecil yang terbaring bak gurita (dipenuhi kabel) dan terbayang masa ke depan, entah kenapa saya tidak rela. Marah, kenapa itu harus terjadi pada saya? Pada anak saya tepatnya. Kenapa? Saya terdiam, suami yang lebih banyak bercakap-cakap dengan dokter. Saya bahkan tidak tahu harus mengambil keputusan apa, harus bagaimana, sampai tidak waras ikut tertawa ketika seorang teman yang menemani cerita hal-hal lucu. Tertawa yang terasa aneh dan saya benci tawa itu hingga kini. Kenapa saya masih bisa tertawa sementara Gibran terbaring didampingi malaikat yang siap membawanya. Mengapa?

Final Gibran harus dipasang alat bantu di paru-parunya dengan keberhasilan dan kegagalan sama besar dan saya teriak: TIDAK! Biarkan anakku pergi! Jangan siksa dia, kalau dia hidup akan menderita, kalau dia dipasang akan pergi. Kenapa tidak biarkan dia pergi dalam pelukan saya???

Sayang ucapan itu hanya dalam dada, aksara itu hanya berbaris di kepala, saya cuma bisa menangis dan berlari meninggalkan ruang ICU. Di pojok kantin yang sepi saya menangis dan berdoa: Beri yang terbaik, Ya Allah...

  • Menangis Histeris Hingga Pingsan
Kembali ke ruang ICU.... Gibran sudah pergi disaat alat itu terpasang mencapai kerongkongannya. Tangannya sudah terkulai lemas saat alat itu terus memasuki rongga mulutnya, saya marah dan menangis keras. Saya benci suami saya, saya benci dokter, saya benci takdir siang itu, saya benci diri saya hingga tangis saya diam.
Saya datangi jenazah Gibran, masih hangat, tiba-tiba saya tidak bisa menangis. Saya menatapnya bingung, saya pulang membawa jenazahnya yang tadi pagi masih saya pakaikan jumper, saya harus pulang dan ngapain?

Ketika kaki menginjak halaman rumah dan melihat tenda serta kursi yang berjajar, orang-orang yang menyambut dengan wajah sembab, saya pingsan.

  • Hanya Diam
Saat terbangun setiap orang membisikan kata-kata Allah, setiap orang menyebut kata ikhlas, setiap orang bermunajat bahwa saya sudah memiliki tabungan surga, semua orang meminta saya ini dan itu. Dan, saya...diam.

Diam ketika dipapah memandikan Gibran, membelai tubuhnya yang membengkak, biru-biru bekas tusukan jarum dan selang infus. Diam ketika melihat si kecil dikafani, dia begitu tampan dan damai, tapi mau dikemanakan? Mau diapakan? Mengapa saya merasa kosong?

Orang-orang meminta saya membacakan ayat-ayat suci, meksi sedang haid saya menurut membaca yasin, menurut untuk mencium yang terakhir kali, pipinya begitu dingin dan keras. Saya ikut ke makam, melihat lubang merah menganga, melihat Gibran yang sudah terbalut kain putih dibawa ke dalamnya, saya diam. Mengapa saya diam tanpa air mata???

Hari menjelang magrib ketika Gibran rebah di dalam pembaringan terakhirnya, beberapa tangan merengkuh saya dan saya diam tanpa tangis. Satu persatu tanah merah mulai menutupinya dengan sempurna, saya tetap diam hingga dipapah menuju kendara. Sepanjang jalan menuju rumah saya diam hingga tertidur dalam diam.


  • Histeris Pada Jam-Jam Tertentu& Menangis Setiap Melihat Bayi-Bayi
Setelah aksi diam, selanjutnya adalah tangis histeris saya terdengar pada jam-jam tertentu, yakni menjelang pukul tiga hingga subuh. Saya mencari-cari pakaian yang dikenakan alm terakhir kali, menciuminya, memeluknya sambil berbisik: Ya Allah, Gibran.. Astagfirullah. Ya Allah Gibran...Astagfirullah. Terus sampai lelah sendiri..

Dan, setiap bertemu bayi-bayi saya akan menangis histeris, bahkan ketika menengok teman yang lahiran, silaturahmi ke rumah kenalan, melihat ada bayi , spontan saya menangis sejadi-jadinya. Hal ini entah kenapa sulit terkendali, tidak hanya menangis perlahan tumbuh rasa benci pada ibu-ibu yang bahagia memiliki bayi sehat, lucu. Benci dengan membatin: Kenapa bayi dia tidak mati? Tidak sakit? Mengapa bayi saya?

  • Benci Ucapan Simpati: Beruntung Punya Tabungan Surga, Harus Ikhlas
Mungkin hampir setiap kaum muslim akan memberikan kalimat-kalimat di atas jika seseorang kehilangan, itu benar sekali. Tetapi ketika duka itu tengah melabrak seseorang, rasanya terlalu naif mendengar kalimat-kalimat itu terus dijejalkan. Sesak rasanya, sakit. Hati ini, pikiran ini, semua adanya luka, cukup peluk dan doakan dalam diam.

Sungguh saat itu saya sulit sekali mencerna akan kalimat: Beruntung punya tabungan surga dan harus ikhlas. Saya hanya merasa luka, kosong, dan lelah menangis.

  • Perlahan Terjaga
Entah kenapa suami saya senang memperdengarkan lagu-lagu Opick (kebetulan dulu suami cukup mengenalnya di tempatnya belajar theater), lagu-lagunya yang religi tiba-tiba membuat saya terjaga. Terbersit pemikiran untuk memasukkan semua benda-benda milik Gibran ke dalam box dan meletakkanya di gudang belakang agar hilang kebiasaan saya meratapi benda-benda itu.
Kemudian saya juga tersadar..

Suami saya ikut terjatuh sedih, terlihat dia hanya banyak diam dengan polah saya, mengapa saya membencinya hanya karena dia tidak bisa menolong Gibran? Lalu Lintang dan Pijar, dua anak itu pasti juga kehilangan adiknya, tapi mereka adalah anak-anak polos yang butuh orangtuanya normal seperti sedia kala. Tiga bulan cukuplah terlunta dalam perasaan manusia.

Perlahan saya pun aktif kembali di dunia kepenulisan atas dukungan teman-teman, suami, anak-anak, tetangga. Meski dalam perjalanannya dokter sempat mendiagnosa saya stres, karena sakit-sakitan selama sebulan. Alhamdullilah, sakitnya tidak berkepanjangan saat kami sekeluarga memutuskan untuk ngebolang setiap weekend.

  • Tidak Bisa Menahan Tangis Setiap Melewati RUMKIT Tempat Gibran Berpulang
Setiap ngebolang ini, saya menangis sesengguhkan meski di busway, setiap melewati rumah sakit tempat Gibran berpulang. Terbayang di mata saat saya lari-lari menggendongnya dalam keadaan nyaris biru, tak terlupakan ketika saya keluar bersama jenazahnya. Saya benci rumah sakit itu.

Namun karena setiap perjalanan harus melewai jalan itu (yang ada rumah sakit tersebut), entah mengapa setelah ke sekian ratus tangis saya hilang. Gejolak rasa di dada lenyap, yang terasa hanya sebuah kenangan sedih yang saya tutup dalam menyebut Asma Allah.

  • Setahun Kemudian...
Selama setahun semua saya lewati dengan kepercayaan bahwa Allah lebih memahami apa yang lebih baik buat saya dan Gibran. Dan, rasa-rasa benci kepada ibu yang memiliki bayi-bayi sehat hilang, kemarahan pada takdir hilang, melewati rumah sakit itu pun menjadi datar. Ketika melihat bayi-bayi terutama bayi laki-laki berusia 5 bulan, saya akan memeluknya dengan rasa cinta dan rindu. Entah bayi siapa itu, bahkan bayi yang ketemu di jalan.

Bahkan, saya bahagia sekali ketika bayi itu sehat dan berpikir di matanya ada mata Gibran. Mata yang menanti saya di surga, tabungan surga.

Apakah ini berarti saya ikhlas?

Entahlah, setidaknya saya memahami mengapa saya harus kehilangan Gibran. Lalu sebuah keinginan untuk membuka box berisi benad-benda Gibran muncul. Saya harus benar-benar memahami bahwa Gibran sudah jauh lebih bahagia...

Awalnya tangis tak terbendung ketika semua benda Gibran dibongkar, dibersihkan, dicuci. Beberapa kali hal ini saya lakukan,  buka-tutup benda-benda alm sampai menjadi sebuah perasaan biasa. Bukan sebuah kenangan sedih lagi...

  • Dua Tahun Berlalu
Dua tahun setelah  kehilangan Gibran, melewati masa-masa sulit...

Saya mengandung dan ternyata bayi laki-laki. Ya Allah...bahagianya berlipat ganda. Tiba-tiba saya baru ingat ada satu benda alm yang belum bisa saya ubah dan ini harus saya ubah: Sebuah tas! Tas yang saya pakai saat membawa alm ke rumah sakit pagi buta itu, tas berisi bajunya, diapersnya, botol susu ASI'nya. Tas yang saya kira isinya akan dikenakan alm, ternyata alm tidak sampai menggunakan sudah pergi.

Saya simpan tas itu utuh dalam almari paling bawah tertumpuk debu, dan ketika membukanya sakit itu terasa kembali. Tapi semua ini harus diubah! Saya kehilangan dan  itu real!

Saya bongkar tas itu, saya bagikan isinya kepada yang butuh hingga tiada tersisa satu pun. Kadang, kenangan itu jangan dikenang tapi jadikan sebagai peristiwa yang memang harus dilewati. Sebab, semakin mengenang dengan membiarkan jejaknya akan membuat semakin tidak paham rasa ikhlas.

  • Nyaris Lima Tahun Kemudian...
Sore ini setelah ngobrol dengan Leyla Hana, mengapa saya tidak menceritakan bagaimana melewati tahap kesedihan kehilangan seorang anak. Saya jawab: BELUM BISA! Jawabannya yang selalu sama, kalau lah saya menulis tentang alm hanya sebatas kenangan pendek. Namun akhirnya saya putuskan menulisnya meski secara singkat saja. Mungkin akan bermanfaat bagi yang mengalaminya.

Setidaknya jangan memaksa diri ikhlas karena itu akan membuat luka semakin dalam. Jalani dan biarkan alam memproses rasa ikhlas tersebut atas tangan Allah SWT. Bangkit dengan keberanian, jangan lelah untuk memaafkan diri sendiri. Rasakan kehadiran Allah SWT, keluarga, kerabat dan teman-teman. Hidup ini adalah kesedihan dan kebahagian, keduanya harus dilewati hanya kapan itu... rahasia Illahi.

Saya yakin sudah ikhlas dengan kehilangan alm Gibran.

Jikalau sore ini saya menangis, pipi saya basah karena harus menulis ini. Itu adalah manusiawi, tanda bahwa saya memiliki rasa sedih dan bahagia.

You May Also Like

57 komentar

  1. Aku ga bisa nahan air mata baca ini. Aku jg blm tahu siap atau gak kalau org2 di dekatku pergi (selamanya). Krn belum pernah mengalaminya langsung. :(

    ReplyDelete
  2. Semangat terus ya Mba' :)
    Semoga Allah limpahkan kemudahan, kesabaran, dan keikhlasan, Aamiin.

    ReplyDelete
  3. ikut merasakan yang mbak Eni rasakan. dan jadi tahu apa yang dibutuhkan orang-orang yang kehilangan: pelukan dan doa dalam diam.

    ReplyDelete
  4. Aku nggak tahu apa aku sanggup jika mengalaminya... Ya, ikhlas itu hadir seiring waktu.. Semakin orang2 meminta sabar, semakin kosong rasanya...

    ReplyDelete
  5. Mba.
    Baca tulisannmu aku nangis loh mba..bener ini..rasanya ikut kehilangan. Apalagi seorang ibu yang susah payah hamil dan melahirkan..ketika Allah uji lagi dengN mengambil kepunyaan Allah, padahal kita cuma dititipi..tapi masyaAllah..ujian itu semoga jadi tangga keimanan buat mba eni agar menjadi pribadi lebih baik dan lebih bersyukur..terimKasih sharingnya mba..

    ReplyDelete
  6. Ya Allah... Aku merasakannya saat itu ikut melihat tahapan Mbk Eni menjaga Gibran.

    ReplyDelete
  7. Ya Allah, saya sesungukan baca tulisan ini Mbaa. Bingung mau komen apa, setiap ibu pasti akan merasakan apa yang Mba rasakan bila kehilangan anak tercinta ��

    ReplyDelete
  8. Turut simpati dng kesedihan Mbak Eni. Mungkin sama halnya yg dirasakan Mama saya ketika kehilangan kakak laki saya. Meninggal keracunan CO dlm mobil di garasi rumah sendiri. Apalagi putra pertama. Semoga mbak Eni kuat ya...

    ReplyDelete
  9. Kesedihan yang tak bisa kubayangkan mbak.belajar arti ikhlas dari cerita mbak. Makasih telah berbagi. Menulis ini pasti tak mudah.

    ReplyDelete
  10. Innalillahi wainnailaihi roji'un.. Ya Allah, sedih sekali mbak sy membaca ceritanya :(( Semoga Allah selalu memberi mbak kekuatan dan kesabaran ya mbak.. Aamiin..

    ReplyDelete
  11. Cukup peluk dan doakan dalam diam...

    Insya Allah saya juga sudah ikhlas dengan kepergian Afia. Dan Allah memang Maha Baik. Saat kembali hamil, bayi saya perempuan lagi. Sama seperti almh kakaknya. :')

    ReplyDelete
  12. I feel you, mak. Perasaan yang paling aneh ketika kehilangan anak. Malah aku kejadiannya menjelang hari ulang tahunku. Jadinya sampai sekarang ultahku selalu melowww... Semoga kita bisa ikhlas ya mak...

    ReplyDelete
  13. Memang tidak mudah ya mbaaa... namun Allah SWT selalu punya skenario terbaik untuk kita semua

    ReplyDelete
  14. En, gue ingat, subuh itu gue nangis. Gak tau kenapa ada rasa sedih yg gimana, gitu. Gue ngebayangin jadi eloe. Rasanya gue gak kuat. Suami gue sampai nanya, siapa sih yg kehilangan bayi? Kamu kok bisa sampai begini?. Makany gue ikutan sayang sama Pendar. Gue ikut senang lihat loe senang. Dan orang2 gak tahu kalau kita sdh lama berkawan di FB.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Mbak Eni...*peluuukk*
    Salam Kenal yaa Mbak..terima kasih sudah sharing.

    ReplyDelete
  17. Terimakasih ya mb atas sharing nya.
    Setiap kali ada saudara, teman, tetangga entah siapa itu yg kehilangan anak saya juga seperti orang kebanyakan hanya bisa bilang sabar, tawakal dan anggap saja ini adalah tabungan di surga. Padahal ketika anak sakit saja saya tidak nyenyak tidur bahkan sulit tidur karna kekhawatiran saya. Setiap sebentar cek suhu, dikompres dll. Apalagi jika kisah ini terjadi kepada saya. Mungkin saya sama seperti mbak bahkan lebih parah. Mungkin ini karena kecintaan kita kepada anak2 yg begitu dalam. Skali lagi Terimakasih ya mb sudah mengingatkan saya dan berbagi pengalaman nya.Semoga kita bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah #alfatiha

    ReplyDelete
  18. Tak ada yang bisa aku sampaikan selain doa yang terbaik untuk si kecil dan berdoa untuk mba Eni sekeluarga. Peluk mba Eniii

    ReplyDelete
  19. Aku kehilangan ibu juga sama mba nangis terus hingga akhirnya waktu yang mengobatinya, waktu yang menutupi luka kesedihannya. Apalagi jika diposisi mba tak terbyangkan bagaimana aku pun sakit dan sedihnya. Terimakasih akhirnya sudah mau berbagi mba semoga mba dan keularga sehat selalu aamiin. *peluk kenceng

    ReplyDelete
  20. Nggak bisa berkata-kata... 😢😢

    ReplyDelete
  21. Ga bisa berkata2 mbak...sesenggukan aku mbacanya. Ga kebayang gmn rasanya. #hugs

    ReplyDelete
  22. Ya Allah.. malem2 baca ini aku nangisss.. ngebayangin apa yang kamu alami mba langsung nyesek.. peluuukk mba Eni..

    ReplyDelete
  23. Ga kuat nahan air mata, sabar ya mbak..
    Saya dlu kehilangan baby juga 5 bulan pas dikandungan, ikhlas emang ga gampang tp pasti bisa dan indah, semangat selalu mbak

    ReplyDelete
  24. Innalillahi wa innailaihi rojiun...
    Memang susah untuk ikhlas tapi harus!
    Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk Gibran menanti ayah & bundanya di pintu surga. Aamiiin 🙏

    ReplyDelete
  25. Subhannalloh. Ini tulisan jujur yang ingin aku baca tentang Mbak Eni.sejak kehilangan Gibran. Karena aku menyimak berita sejak sakit hingga meninggal. Time will heal you. Ternyata benar.

    ReplyDelete
  26. Terharu baca cerita ini, jadi kebayang Mama yang kehilangan kakakku. Peluk mba Eni.

    ReplyDelete
  27. Iklhas itu mudah diucapkan, tapi pelaksanaannya sulit banget! Tak mudah mencapainya, ya, Mba?

    Membaca kisahmu ini, aku paham banget dan larut dalam masa2 berkabungmu. Kehilangan anak, orang tua, pasangan ataupun org2 yang kita cintai, tentu membekas lara. Bahkan menyeret kita ke dalam derita, juga mampu menjadikan kita berubah ke arah yang sulit dimengerti oleh orang lain. Tenggelam dalam nestapa berkepanjangan.

    Butuh waktu untuk bangkit. Tak bisa buru2 apalagi dengan dijejali oleh kalimat2 yg bagi org lain terdengar lumrah. Tapi bagi kita? Ga ngaruh, yg ada malah bikin kita makin benci. :)

    Mba, thanks sdh berbagi cerita ini. Semoga byk pelajaran dalam bersikap yang bisa dipetik dari tulisan ini,ya!

    Turut bahagia melihatmu kini sudah bisa beranjak dari 'zona sulit ikhlas' ke zona yang ini. Semoga dengan terbitnya tulisan ini, dirimu sudah masuk zona ikhlas ya, Mba.

    Sehat dan bahagia selalu bersama orang2 terkasih, ya, Mba!
    Salam,
    Alaika

    ReplyDelete
  28. Mba, aku bacanya gk tega :( klo ngelayat/takzian anak2 yg meninggal jg aku ikut nangis, gk sgup bayangin klo itu anakku. Peluk mba Eni

    ReplyDelete
  29. Saya selalu menduga-duga rasanya, Mba. Rasa kehilangan orang-orang yang saya cintai. Pun saya hanya menduga2 bagaimana reaksi saya nanti jika itu terjadi. Tapi iya, saya setuju sama Mba Eni. Bahwa tak apa2 jika awalnya kita tidak ikhlas. Karena ia tidak bisa dipaksa. Dan selanjutnya waktu lah, yang menjadi sebaik-baik obat :)

    ReplyDelete
  30. Keikhlasan kunci ya bun. Tabungan surga yg siap menyambut Bunda Dan paksu dengan Muka cerah Ceria dan menyatakan aku senang bertemu orangtuaku lagi

    ReplyDelete
  31. Kalau memang ingin menangis, biarkan saja menangis, Mbak. Menangis bukan berarti kita tidak ikhlas kok. Rasa rindu kehilangan yang tersayang pasti sesekali datang. Tak apa. Peluk Mbak Eni dari jauh.

    ReplyDelete
  32. Saya ga bisa bayangkan jika ini terjadi dan saya alami. Semoga manfaat serta keikhlasan ini jadi pahala buat Mbak Eni dan Gibran ya... Amin...

    ReplyDelete
  33. Mba Eni..
    Saat membaca ini, pipi saya pun sembab.
    Bagaimana perasaan mba Eni bisa saya rasakan.
    Karena beberapa bulan yg lalu, saya ditinggal Bapak Rahimahullah.

    Sakit
    Patah hati

    Susah sekali digambarkan.

    Tapi saya utak-atik lagi.
    Saya harus bersyukur, sudah diantar sedekian dewasa oleh Bapak.
    Kalau Bapak berpulang, saya harus rela melepaskan dan mendoakan agar Bapak bahagia di dunia barunya.

    La Hawla wa laa kuwwata illa billah...

    ReplyDelete
  34. Bunda yang sabar selalu ya bun. Semoga anak2 sehat selalu dan kedua orangtuanya diberi kekuatan. Dek Gibran akan menunggu bunda di pintu surga nanti. Kemarin bos saya juga kehilangan anaknya umur 5 th sakit paru. Biasanya dia main sama saya, saya juga kehilangan sekali meski bukan orangtuanya. Ada luka yang menganga juga.

    ReplyDelete
  35. Sedih, iknow what you feel, betul nggak bhs inggrisnya, aku sempat keguguran padahal ngarap bgt pnya anak sampe koleksi test pack berharap hasilnya berubah yg asal positif tetap positip bukan negatif, nangis dalam diam setiap lht bayi, berkata dalam hati harusnya bayiku nanti selucu ini, sesehat ini dan andai lainnya untungnya hanya sebulan setelah kehilangan aku positifhml lg

    ReplyDelete
  36. Tante saya pernah kehilangan 2 anaknya. Anak pertama, saat dilahirkan. Kembar tetapi hanya 1 yang selamat. Kejadian kedua saat anaknya berusia 5 tahun karena leukemia. Sekarang anaknya tinggal 1.

    Memang gak mudah. Proses menuju ikhlasnya pun panjang. Hingga pada akhirnya tante saya bisa berkata, "Untung masih ingat dengan Allah. Kalau enggak mungkin sudah gila."

    Terima kasih sudah berbagi cerita, Mak

    ReplyDelete
  37. Hai mbak eni yg namanya sm dgku. Alhamdulillah mbak eni bisa menuliskan kisah hingga membuat kami pembaca menangis. Memang mudah berucap dan blm tentu kita sendiri bs tabah jika memgalaminya. Betapa tabah dan sabar ya mbak eni terutama suami. Saluut. Peluk dr jauh ya mbak

    ReplyDelete
  38. Mbaa, Keep husnudzon ya mba.. Aku ikut sedih baca ceritanya.

    ReplyDelete
  39. Mbak Enii, aku ikut sedih membaca kenangan mbak bersama Gibran. Ya Allah, aku enggak bisa membayangkan kalau itu terjadi padaku walaupun aku yakin seyakin yakinnya bahwa hidup dan mati itu urusanNya

    ReplyDelete
  40. Kehilangan itu pedih..walau hanya mendengar cerita..
    *Peluk"

    ReplyDelete
  41. Asli mbak, aku speechless. Ga kebayang rasanya ya Alloh, ky orang bingung beneran.

    ReplyDelete
  42. Gak bisa ngebayangin rasanya ditinggalkan. Aku aja sedih melihat kucing ku mati.

    ReplyDelete
  43. Mbak, aku ikut terluka baca tulisan ini. Gak terasa jadi ikut nangis juga. Aku gak bisa banyangkan rasanya kehilangan seperti ini. :(

    ReplyDelete
  44. menetes air mata saya membaca kisah mbk, putri ke 2 saya umur 4 thn 4 bln juga baru meninggal 18 januari 2019 kmrn. rasanya sakit sekali.. semoga Allah memberikan kekuatan kpd saya.

    ReplyDelete
  45. Subhanallah, saya mengerti sekali rasanya mba. Tahun ini genap 6 tahun kepergian si sulung tercinta dan proses penyembuhannya pun lama. Tapi seminggu lalu Allah kembali menguji keluarga kami dengan kehilangam buah hati yang tersayang untuk kedua kalinya di usianya yang masih 4,5 tahun. Luka yang hampir sembuh, menganga kembali :( Saya lagi mencoba menguatkan hati ketika ketemu blog ini. Lagi mencoba menata hati, karena juga dalam posisi sedang mengandung 7 bulan. Semoga keluarga kami segera diberikan kesabaran dan keikhlasan seluas samudera untuk menjalani ujian ini. Aku Aamiin ya Allah..

    ReplyDelete
  46. Sakit bgt nyesek bgt saya baru 6 hari kehilangan anak pertama saya yg saya tunggu 5 thn dlm usia 4 bulan, saya ga tau kapan bisa bangkit, hancur bgt sehancur2nya, menunggu 5 thn buat saya tdk terlalu menyakitkan, tp kehilangan hanya dlm umur anakku 4 bulan benar2 menghancurkan hidup saya, tolong saya ya Allah

    ReplyDelete
  47. Kak, sy juga baru kehilangan anak ke 3 sy usia 6 bln, 2 minggu lalu,rasanya sungguh memilukan..membaca blog kakak ini menguatkan sy, suatu saat nnti sy akan mampu menjalani hidup kembali, tpi belum untuk saat ini..
    Meskipun saat2 awal ditinggal sy cukup tegar bertemu org2, tp tdk ketika sendiri, menatap kakak2nya terlelap ingin rasanya si adek tiba2 ada ditengah mereka..hati rasa hampa meski tanpa tangis..

    ReplyDelete
  48. Ya bak saya baru 5 bulan saya kehilangan anak perempuan saya yang beumur 13 tahun , rasa sakit sekali , saya baca cerita ba saya menangis ternyata bukan saya saja yang mersakan sakit seperti ini .

    ReplyDelete
  49. I feel u too mba, tepat 27 juni 2020 aku jga merasakan hal yg sama bayi laki2ku umur 10 bln pergi menghadap sang pemilik-NYA, smoga kt slalu menjadi ibu2 yg kuat :')

    ReplyDelete
  50. Membaca nua aku seperti berkaca.
    Aku melahirkan 12 juni seorang putri yang begitu cantik gembul senyum manis menggemaskan, seblum dia hadir aku terus berdoa mengharap kehadiran nya selama 3 tahun, saat dia hadir dalam kandungku tak henti rasa bersyukur, ketika dia lahir duniaku benar2 sempurna anak yang begitu berharga namun 2 minggu yang lalu dia berpulang, dunia ku terasa mati terasa dak ada arti lagi ..namun aku umat beragama ya ingin kembali bertemu putriku disurga nanti .yang dirasa saat ini perjuangan menerima ikhlas bukan cma di mulut tapi juga di hatiku. Ya allah tolong aku sudahi duka ini semoga aku juga bisa bngkit dan kembali di beri rezeki anak yang cantik aamiin ya allah.

    ReplyDelete
  51. Aku mengalami hal yg sama , Khairunnisa Luthfya Putri anak pertamaku , diumur 3bulan 20 hari . Dia tiada , kejadian nya sama persis seperti cerita diatas . Aku baru saja 2minggu kehilangan diaa

    ReplyDelete
  52. Semua ibu yang kehilangan anak akan hancur dan sakit. Kehilangan anak bagaikan kehilangan jiwa. Saya masih mengalami fase hancurnya hati setelah meninggal nya anaku ke 2 Maulana putra Rizqi yang berumur 18 bulan.

    ReplyDelete
  53. Sy ikut merasakan kesedihan yg di alami bu eni, krna tgl 7 september 2020 ini sy baru sja kehilngan putri kecil sy yg berusia 6 thun lebih krna skit, skrng perasaan sy ga karuan hidup hampa tanpanya... Ya Allah... Berikan kekuatan untuk hamba dan ibu2 yg kehilngan buah hati nya..
    Mungkin mmng ini yg terbaik buat putri kecilku tapi klo lg kngen nyesek rasanya nafas ini,,,

    ReplyDelete
  54. Tulisan ini membantuku utk kuat dan bangkit. Anak gantengku Alfando 3 thn 7 bln. 18 September 2020 menghadap penciptaNya utk selamanya. Bahagialah wahai kalian anak2 penghuni surga. Nantikan kami DISANA

    ReplyDelete