Belajar dari Traveler Jepang: Konsep “Ma” (Ruang Kosong) buat Hidup Lebih Tenang
Pernah
nggak merasa liburan bukan bikin fresh, tapi justru membuat tubuh dan pikiran
semakin lelah? Karena jadwal perjalanan terlalu padat, setiap tempat wisata
harus dikunjungi, foto harus diambil, dan setiap menit terasa harus
dimanfaatkan. Padahal, mungkin ada satu hal yang sering terlupakan saat
traveling yaitu, memberi ruang untuk tidak melakukan apa-apa.
Kebiasaan ini bisa dipelajari dari konsep Jepang yang dikenal sebagai “Ma” (間). Kalian penasaran, dan ingin tahu KONSEP “MA”? Yuk, kita baca artikel ini sampai tuntas, dan menemukan makna liburan yang sesungguhnya untuk tubuh dan jiwa.
Secara
sederhana, Ma sering diterjemahkan sebagai ruang, jeda, atau interval di antara
dua hal. Namun, maknanya tidak sekadar ruang kosong. Dalam kajian Japanese
Psychological Research, Ma dijelaskan sebagai ruang atau waktu “di antara”
benda, manusia, maupun peristiwa dan telah hadir dalam berbagai praktik seni,
arsitektur, taman, hingga kehidupan sehari-hari Jepang.
Bagi
traveler, konsep ini bisa menjadi cara menarik untuk menikmati perjalanan tanpa
terus-menerus mengejar itinerary.
- Tidak Semua Waktu Liburan Harus Diisi
Saat
membuat itinerary, banyak traveler berusaha memasukkan sebanyak mungkin
destinasi. Pagi mengunjungi kuil, siang berpindah ke museum, sore mencari
kuliner, lalu malam berburu spot foto. Dan, konsep Ma menawarkan perspektif
berbeda. Jeda di antara aktivitas justru memiliki nilai tersendiri.
Misalnya,
setelah mengunjungi sebuah destinasi, sisakan satu atau dua jam tanpa agenda.
Duduk di taman, menikmati teh, berjalan santai di lingkungan sekitar
penginapan, atau sekadar mengamati aktivitas masyarakat setempat.
Ma
bukan berarti membuang waktu. Justru, ruang kosong tersebut memberikan
kesempatan bagi seseorang untuk benar-benar menyadari pengalaman yang sedang
dijalani. Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan prinsip perjalanan yang
lebih bertanggung jawab.
Jika
selama ini kalian mencari tahu sustainable
tourism adalah konsep yang seperti apa, salah satu praktik sederhananya
dapat dimulai dengan tidak selalu memadati destinasi dan memberi ruang untuk
menikmati tempat secara lebih perlahan. Japan Tourism Agency sendiri mendorong
wisatawan untuk menghindari waktu dan lokasi yang terlalu padat serta memilih
waktu kunjungan yang lebih tenang.
- Berhenti Mengejar Checklist Destinasi
Ada
perbedaan antara “mengunjungi Jepang” dan “mengalami Jepang”.
Traveler
yang terlalu fokus pada checklist mungkin berhasil mendatangi banyak tempat,
tetapi belum tentu memiliki waktu untuk menikmati suasananya. Sebaliknya,
berhenti lebih lama di satu tempat dapat membuat pengalaman perjalanan terasa
lebih personal.
Konsep
Ma memang tidak terbatas pada ruang fisik. Penelitian mengenai Ma menyebutkan
bahwa konsep ini juga berkaitan dengan waktu, jeda, bahkan pengalaman manusia
terhadap suatu tempat. Karena itu, tidak masalah jika satu hari perjalanan
hanya diisi dua atau tiga aktivitas utama. Ruang di antaranya justru dapat
membuat perjalanan terasa lebih lapang.
- Sisakan “Ruang Kosong” dalam Itinerary
Salah
satu cara paling mudah menerapkan Ma adalah dengan tidak membuat jadwal
perjalanan terlalu penuh. Misalnya, daripada membuat itinerary dari pukul 07.00
sampai 22.00 tanpa jeda, sisakan beberapa blok waktu yang sengaja tidak
memiliki agenda. Waktu tersebut dapat digunakan secara spontan sesuai kondisi.
Jika
tubuh lelah, kalian bisa beristirahat. Jika menemukan kedai kecil yang menarik,
kalian dapat mampir. Jika suasana sebuah kawasan terasa menyenangkan, kalian
bisa berjalan lebih lama. Dengan begitu, itinerary berfungsi sebagai panduan,
bukan aturan yang harus dipatuhi setiap menit.
- Nikmati Jeda Selama Perjalanan
Ma
juga dapat ditemukan dalam hal sederhana seperti perjalanan menggunakan kereta.
Alih-alih selalu membuka media sosial, gunakan perjalanan untuk melihat
pemandangan dari jendela, membaca buku, mendengarkan musik, atau sekadar diam.
Jeda tersebut memungkinkan pikiran beristirahat dari rangsangan yang
terus-menerus.
Hal ini relevan terutama bagi traveler modern yang terbiasa mendokumentasikan hampir setiap momen. Tidak semua pengalaman harus langsung difoto, diunggah, atau dibagikan. Bahkan, ketika muncul dorongan untuk terus memeriksa informasi terbaru selama perjalanan, mulai dari media sosial hingga berita crypto hari ini, konsep Ma mengingatkan bahwa tidak semua jeda harus diisi dengan informasi baru. Terkadang, pengalaman terbaik justru terjadi ketika tidak sedang sibuk mengabadikannya.
- Terapkan Ma Setelah Pulang
Menariknya,
konsep Ma tidak harus berhenti ketika perjalanan selesai. Prinsip yang sama
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, jangan memenuhi seluruh
akhir pekan dengan aktivitas. Sisakan satu sore tanpa agenda. Di rumah, berikan
ruang kosong di antara furnitur. Saat bekerja, hindari membuat jadwal rapat
tanpa jeda.
Dalam
perspektif estetika Jepang, ruang kosong bukan sekadar ketiadaan. JAPAN HOUSE
Los Angeles menjelaskan Ma sebagai jeda, celah, atau negative space, yang dapat
ditemukan dalam arsitektur dan desain Jepang. Ruang yang tidak dipenuhi benda
justru membantu menonjolkan elemen yang ada di sekitarnya. Prinsip tersebut
sebenarnya bisa diterjemahkan ke kehidupan: tidak semua ruang harus dipenuhi
sesuatu.
Ma Bukan Berarti Tidak
Melakukan Apa-Apa
Penting
untuk memahami bahwa Ma bukan sekadar ajakan untuk bermalas-malasan. Konsep ini
lebih tepat dipahami sebagai kesadaran terhadap jeda dan ruang di antara
berbagai aktivitas. Dalam penelitian akademik, Ma bahkan digambarkan sebagai
interval ruang-waktu yang memungkinkan berbagai kemungkinan muncul.
Itulah
mengapa traveler dapat mengambil pelajaran dari konsep ini. Liburan tidak harus
menjadi perlombaan untuk mengunjungi sebanyak mungkin tempat. Memberikan ruang
untuk berhenti, mengamati, dan menikmati suasana juga merupakan bagian dari
perjalanan.
Pada
akhirnya, mungkin tujuan traveling bukan sekadar membawa pulang lebih banyak
foto, tetapi membawa pulang pikiran yang lebih ringan. Dengan menyisakan
sedikit “Ma” dalam itinerary maupun kehidupan sehari-hari, perjalanan dapat
terasa lebih tenang, fleksibel, dan bermakna.
Nah,
bagaimana? Apakah kalian setuju untuk menerapkan konsep “MA” dalam setiap
perjalanan liburan, sehingga ketika kembali pulang, benar-benar merasakan makna
liburan yang sesungguhnya.



17 komentar
Wah, tentang kesadaran, jeda, dan ruang. Eni, tulisannya menarik banget deh. Bikin aku jadi mikir tentang konsep "Ma" dalam kehidupan sehari-hari. Ternyata memberi ruang dan jeda itu penting juga ya supaya hidup ga terasa terlalu penuh. Dihubungkan dengan pengalaman traveler Jepang, jadi konsepnya terasa lebih dekat dan mudah dipahami. Thanks Eni, tulisannya jadi pengingat buat aku untuk lebih menikmati ruang kosong dan menjalani hidup dengan lebih tenang. Termasuk soal jeda olahraga juga ahahaha :D
ReplyDeleteHai Eni, konsep ma dari Jepang ini ternyata relate banget sama keseharian ya. 😊 Aku jadi kepikiran jadwal Pilates-ku, ternyata olahraga juga bisa jadi waktu buat kasih jeda dari rutinitas dan bikin pikiran lebih tenang. Ga harus selalu penuh aktivitas, sesekali menikmati ruang dan waktu buat diri sendiri ternyata penting juga. TFS, Eni, jadi makin semangat menikmati momen dan ga terus-terusan buru-buru! Aku udah memutuskan yoga dan mat pilates-ku nanti dikurangi, dimasukkan 1x berenangnya ahahaha :D
DeleteAku mulai sadar untuk menyediakan waktu kosong ini sejak awal kuliah. Ketika diminta menyusun jadwal seminggu, kami diprotes senior karena tidak ada yang menjadwalkan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat di sela2 kesibukan
ReplyDeleteSetuju banget mbaaa...membuat itinerary memang penting tapi jadikan buat panduan saja kalopun rasanya terlalu capek dan padat maka kita bisa skip bbrp destinasi karena jika dipaksakan bukannya hepi tapi malah kecapekan sendiri..karena kadang liburan juga butuh waktu buat bersantai dan bermalas2an sejenak ;)
ReplyDeleteini yang kadang aku lewatkan kalau lagi traveling, bahkan ketika pergi bareng temen pun, waktu bikin itinerary malah agendanya full seharian. Kadang sampe bingung mau kemana lagi, karena waktunya yang ga cukup.
ReplyDeletePerlu juga menyisakan ruang buat diri sendiri atau memberi jeda gitu ya, slow gitu sesekali
Terima kasih reminder-nya, saya juga termasuk orang yang kalau lagi travelling pengen ngunjungin tempat yang udah jadi itinerary. Ternyata perlu juga ya ternyata memberikan ruang untuk berhenti, mengamati, dan menikmati suasana dalam travelling
ReplyDeleteKalau dipikir lagi, sekarang saya tipe yang berkonsep "Ma". Tapi, semua itu berproses juga. Pernah ada masanya di mana pengennya sibuk terus. Semua hal ingin dijelajahi saat traveling. Tapi, akhirnya malah capek sendiri. Gak hanya capek dfisik. Tapi, juga capek hati.
ReplyDeleteBener banget sih. Travelling bukan hanya sekadar memindahkan diri ke tempat liburan lalu sibuk dengan agenda padat dan berfoto sana-sini. Lebih dari itu semestinya travelling jadi momen benar-benar rehat sejenak. Kasih jeda buat diri sendiri dan kasih ruang MA untuk benar-benar hadir sepenuhnya tanpa banyak kesibukan yang menyita. Suka aku sama konsep dari traveller Jepang ini. Bagus.
ReplyDeleteKonsep Ma ini sederhana tapi ngena banget. Kadang kita terlalu sibuk mengisi itinerary sampai lupa bahwa jeda juga bagian dari perjalanan. Aku suka banget gagasan bahwa traveling bukan tentang sebanyak apa tempat yang berhasil kita datangi, tapi seberapa hadir kita menikmati perjalanan itu sendiri.
ReplyDeleteAku banget sih ini, kalau lagi merencanakan perjalanan atau kunjungan kepinginnya semua-muanya aja deh dimasukin ke jadwal. Sering merasa perlu kejar target, mumpung ada di tempat yang belum tentu bisa dikunjungi lagi. Memang jadinya agak kurang menikmati juga ya kalau sudah begini.
ReplyDeleteKonsep Ma ini sepertinya jadi kesukaan saya di usia ini. Bersantai sejenak diantara rutinitas. menikmati kopi atau teh dan kudapan favorit. Hidup gak lagi ngoyo dan ngotot seperti dulu. Hidup itu untuk dinikmati, disyukuri
ReplyDeleteSering banget kejadian pulang liburan malah capek karena jadwal terlalu padat. Mulai sekarang harus banget nih nyelipin "Ma" di sela-sela aktivitas supaya liburan bener-bener refreshing dan pikiran lebih tenang
ReplyDeleteBaca tulisan ini jadi teringat materi mengambil foto perjalanan yang disampaikan Nicholas Saputra pada sebuah acara workshop fotografi di Lombok. Katanya, saat bepergian, jangan langsung jeprat jepret saja mengambil gambar. Baiknya datang, nikmati, rasakan setiap momen, pandang kondisi sekitar, dan ngobrol sama warga setempat, dari sana kita bisa dapat feelnya. Baru deh memutuskan untuk memotret, dan pasti hasilnya akan beda dengan sekadar asal jepret.
ReplyDeleteKadang aku sering ngabisin waktu libur dirumah dengan nyiramin tanaman di halaman rumah atau ngasih makan ikan-ikan hias di samping rumah sambil ngopi. Itu bisa ngabisin waktu berjam-jam buat hal kaya gitu. Tapi itulah yang membuat hati aku jadi lebih tenang mba..
ReplyDeletePenting banget mindfulness ini yaa.. Bubi...
ReplyDeletedan mengenal konsep Ma agar segala aktivitas kita sadari melakukannya secara maksimal.
Kadang iya, demi itin.. kita jadi gak menikmati liburan.
Badan terasa lelah.. meski semua bucket list jadi tercapai...
Sebenarnya saya sudah lama menerapkan konsep traveling seperti ini. Biasanya di hari pertama dan hari terakhir adalah waktu kosong yang saya manfaatkan buat sekedar diam sejenak menikmati suasana kota tempat saya traveling, sekadar berjalan-jalan tanpa tujuan gitu menikmati apa saja yang saya lewati.
ReplyDeleteCara ini membuat momen traveling jadi lebih terasa indah dan santai buat saya sebelum kembali ke rutinitas kerjaan.
Kadang saat Mengunjungi tempat baru. Kadang saat Mengunjungi tempat bare itu Kita maunya Mengunjungi banyak tempat bear puas padahal liburan juga perlu jeda y agar kita bisa menikmatinyaitu Kita maunya Mengunjungi banyak tempat bear puas padahal liburan juga perlu jeda y agar kita bisa menikmatinya
ReplyDelete