>

Efisiensi BPJS Kesehatan Diduga Merugikan Peserta JKN-KIS

By duniaeni.com - August 11, 2018


Desas-Desus BPJS Kesehatan di masyarakat

Siapa yang saat ini menggunakan BPJS Kesehatan?

Saya yakin sekali hampir semua masyarakat di Indonesia menggunakan BPJS Kesehatan. Entah secara pribadi yang dibayar sendiri, dari kantor, ataupun yang gratis ditanggung pemerintah. Dimanfaatkan atau belum dimanfaatkan, BPJS Kesehatan sudah seperti kewajiban untuk dimiliki masyarakat Indonesia.

Diakui atau tidak diakui banyak sekali masyarakat di Indonesia  terbantu dengan adanya BPJS kesehatan. Sebagai contoh kecil adalah adik ipar saya yang melahirkan sectio, pengobatan jantung pasca melahirkan, juga beberapa tetangga sekitar rumah yang melakukan operasi kencing batu, operasi tumor jinak, operasi sectio. Cukup membayar biaya BPJS Keshatan perbulan yang sangat terjangkau, mereka bisa berobat gratis yang jika ditotal nilainya jutaan.

BPJS Kesehatan ini memang menjamin tindakan medis atau pengobatan yang nilainya cukup tinggi bagi masyarakat Indonesia, sampai kemudian masyarakat digoncang pemberitaan bahwa BPJS Kesehatan tidak mengganti biaya untuk penanganan Katarak, Fisioterapi (rehabilitas Medik), dan Persalinan Bayi Sehat. Hal ini membuat peserya JKN-KIS ramai menuding BPJS Kesehatan dari sisi negatif.

Bahkan berita yang tersebar di beberapa media, termasuk media online yang sering saya stalking, BPJS Kesehatan menuju bangkrut sehingga mengurangi pelayanan terhadap tindakan medis tersebut. Sebagai peserta JKN-KIS dan juga seorang blogger yang senang menulis di blog saya, tentu pemberitaan ini mengusik saya: Benarkah berita tersebut?

Mengapa sampai BPJS Kesehatan tidak mengganti biaya untuk penanganan Katarak, Fisioterapi, dan Persalinan Bayi Sehat? Setelah kemarin digoncang berita, BPJS Kesehataan tidak lagi menjamin obat Trastuzumab, yang merupakan salah satu obat kemoterapi kanker payudara dan disinyalir merupakan obat yang paling bagus.

Pihak BPJS Kesehatan pun menjelaskan mengapa diambil keputusan seperti itu, diantaranya karena dikeluarkannya obat Trastuzumab dari manfaat Program JKN-KIS tidak akan menghambat pengobatan kanker payudara. Masih banyak pilihan obat lain dan dokter akan memberikan obat terapi kanker payudara pasiennya sesuai dengan kondisi klinis pasien tersebut.


Nah, kan setelah dicari berita sebenarnya tidak seseram berita di sosial media maupun di masyarakat. Sebagai masyarakat memang sebaiknya kita mencari berita yang sesungguhnya, sebelum membaca aneka berita yang banyak menggunakan bumbu negatif. Maka saya senang sekali mendapat undangan acara Ngopi Bareng BPJS Kesehatan bersama awak media dan teman-teman blogger, 2 Agustus 2018 kemarin.

Hadir narasumber :





1. Nopi Hidayat - Kepala Humas BPJS Kesehatan
2. Budi Mohammad Arief - Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan
3. Chazali Situmorang - Pengamat Asuransi Kesehatan
4. Agus Pambagio - Pengamat Asuransi Publik

Masyarakat masih tidak disiplin membayaran iuran JKN-KIS

Dalam acara ini Budi Mohammad Arief angkat bicara dengan menggambarkan jumlah peserta BPJS Kesehatan. Di Indonesia BPJS Kesehatan sudah berjalan selama 4.5 tahun dan per Agustus 2018 ini pesertanya sudah mencapai 200 jutaan. Peningkatan yang sangat signifikan sekali, terutama jika dibandingkan dengan negara lain. Korea misalnya, membutuhkan puluhan tahun hanya untuk mendapat peserta 40 jutaan.

Kenapa Indonesia begitu signifikan peningkatan peserta JKN-KIS?

Tentu saja ini karena masyarakat Indonesia merasakan manfaatnya BPJS Kesehatan. Dulu sebelum BPJS Kesehatan ada, para ibu hamil yang didiagnosa harus sectio akan mengalami kecemasan utama adalah dalam hal biaya, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Bayangan biaya jutaan hingga puluhan juta terpampang nyata.

Masih terbayang dalam ingatan saya, saat awal melahirkan anak pertama di sebuah Puskesmas. Ada seorang calon bapak menangis tersedu saat istrinya harus dirujuk ke rumah sakit besar karena persalinannya hanya bisa ditangani secara sectio, calon bapak tersebut menangis karena tidak memiliki biaya yang cukup besar secara mendadak.

Namun yang menjadi masalah adalah banyak sekali perserta JKN-KIS yang tidak disiplin membayar iuran atau bahkan tidak aktif lagi, sementara sudah pernah mendapatkan manfaat atau jaminan. Ada sekitar 13 jutaan peserta yang berhenti membayar iuran JKN-KIS setelah merasakan manfaat atau jaminannya, hal ini yang bisa membuat BPJS mengalami defisit. Padahal ada 10 penyakit di masyarakat Indonesia yang memakan biaya tinggi sekali, salah satunya Operasi Katarak yang telah memakai dana 10 triyulnan.

Sementara untuk jaminan bayi sehat dan Fisioterapi juga menelan biaya yang besar sekali. Penjaminan bayi sehat telah memakai dana 1.17 Trilyun dan Fisioterapi 965 Miliar, belum lagi penyakit-penyakit lain yang tingkat penderitanya di Indonesia sangat tinggi, seperti Diabetes, Jantung. Maka untuk kebijakan penggunaan dana BPJS Kesehatan pada Rapat Tingkat Menteri awal tahun 2018, tentang sustainibilitas program JKN-KIS, ditetapkan BPJS Kesehatan harus fokus pada mutu layanan dan efektivitas pembiayaan.

Kebijakan Efisiensi BPJS Kesehatan

Jadi BPJS Kesehatan tidak menurunkan standar pelayanan seperti yang dikawatirkan masyarakat pengguna JKN-KIS. Yang terjadi adalah BPJS Kesehatan saat ini membuat standarnya dengan mengatur biaya katarak, persalinan, dan fisioterapi agar lebih efektif dan efisien sehingga seimbang dengan kemampuan finasial BPJS Kesehatan. Terlebih  mengingat banyaknya masyarakat peserta JKN-KIS yang putus di tengah jalan atau tidak membayar iuran bulan setelah menerima jaminan.
Efisiensi tersebut adalah:

1. Biaya Persalinan
Jika bayi baru lahir sehat maka hanya biaya persalinan ibu yang ditanggung, tetapi peserta JKN-KIS tidak perlu cemas karena jika bayi dalam kondisi tertentu atau berbahaya akan ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

2. Operasi Katarak
PERDAMI (Persatuan Dokter Mata Seluruh Indonesia) menyatakan bahwa hanya kasus katarak dengan visus penglihatan 6/18 yang butuh dioperasi. Sementara kasus katarak ringan belum membutuhkan penanganan operasi, atas pernyataan inilah BPJS Kesehatan membuat keputusan hanya kasus yang benar-benar harus operasi, baru bisa dioperasi. Bukan BPJS Kesehatan tidak menjamin lagi pengobatan katarak seperti yang beredar di masyarakat.

3. Fisioterapi (Rehabilitas Medik)
Untuk penjaminan fisioterapi pihak BPJS Kesehatan hanya mengurangi jatah fisioterapi menjadi maksimal 8 kali dalam sebulan dan diprioritaskan dengan kondisi peserta yang memang sangat membutuhkan. Tentu saja hal ini dibutuhkan kerjasama fasilitas kesehatan dan rumah sakit. Jika lebih dari 8 kali, berarti pembiayaan selanjutnya ditanggung pribadi.

Bagaimana pun dana BPJS Kesehatan yang berasal dari pembiayaan APBN dan Iuran Masyarakat ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya, yakni seefisien mungkin. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan dana BPJS Kesehatan tanpa terkontrol atau tidak efisien sehingga mengancam defisit, seperti misalnya ada Rumah Sakit yang menjual obat mahal, sementara masih bisa menggunakan alternatif obat lain yang lebih murah dengan manfaat kurang lebih sama. Hal ini disampaikan oleh Agus Pambagio dengan tegas.

Pasien peserta JKN-KIS tentu saja jangan merasa kawatir dan berpikir penanganan atau pengobatan medis atas penyakitnya jadi menurun atau lebih buruk karena efisiensi tersebut. Karena semua sudah dikonsultasikan dengan Dewan Pertimbangan Medik, bukan sekedar keputusan hanya berdasarkan agar menghemat keuangan BPJS Kesehatan.

  • Share:

You Might Also Like

30 komentar

  1. Wah merasa tercerahkan banget baca ini, mba. Soalnya sempat riweh juga di berbagai portal media online. Alhamdulillah dapat penjelasan langsung dari orang humasnya ya. Memang masyarakat jg harus rajin bayar iuran, jangan maunya hak nggak mau kewajiban.

    ReplyDelete
  2. Sebagai orang yang sering mengerjakan video program BPJS, aku tahu banget masih rendah disiplin peserta untuk membayar iuran BPJS. Sedih deh..padahal manfaatnya luar biasa banget loh...

    ReplyDelete
  3. Pake bpjs emang membantu banget, apalagi kalau sakit mendadak

    ReplyDelete
  4. Evaluasi program memang sudah selayaknya dilakukan dan hingga akhirnya ada efisiensi hal tersebut pasti sudah dalam pertimbangan yang matang atau banyak faktor pendukung keputusan tersebut dibuat, saya termasuk yang mendapatkan manfaat dari BPJS Kesehatan, yuk kita dukung selalu dengan rajin membayar iuran BPJS kesehatan

    ReplyDelete
  5. Iya nih, banyak masyarakat yg putus di tengah jalan gak mau bayar iuran bulanan. Maunya bayar sekali aja pas dia sakit.

    ReplyDelete
  6. BPJS memang membantu mbak..ada baiknya kita ga terlalu percaya berita2 yang menyesatkan tentang BPJS ya. Terima kasih infonya mbak, bermanfaat sekali.

    ReplyDelete
  7. Pastinya harus digunakan dengan sebaik-baiknya mbak agar manfaatnya dapat dirasakan semua pihak.

    ReplyDelete
  8. Waaah nakal banget berarti ya org2 yg telah merasakan manfaat BPJS tapi langsung berganti membayar iuran bulanannya. Merugikan org lain...jahat sekali. Kayak gini gimana memberantasnya ya mb Eni? Sayang juga beberapa obat yg penting sepeti untuk kanker dll jd dipending deh hiks.

    ReplyDelete
  9. Ooh jadi klo yg SC, bayi baru lahir sehat yang ditanggung ibunya aja ya. Etapi memang kalau bayi baru lahir sehat kan costnya gak besar ya...

    ReplyDelete
  10. Mba aku mu tanya. Aku kan bpjsnya bpjs bandung. Trus sekarang pindah ke tangerang. Apa klo berobat hrus ganti dlu ga ya jd bpjs domisili kita berada? Hee siapa tahu mba tahu infonya

    ReplyDelete
  11. sempat ramai mengenai ini, bersyukur dapat info langsung dari BPJS Kesehatan jadi lebih jelas seperti apa

    ReplyDelete
  12. Nah, iya Kita sebagai masyarakat juga mesti disiplin buat bayar juga ya.. Namanya juga pake prinsip gotong royong membantu sesama.. Sempet sedih waktu tau salah satu obat kanker gak dijamin lagi.. Berat banget pasti buat ngurus asuransi se-Indonesia.. Semoga makin banyak yg ngerasain manfaat BPJS kesehatan..

    ReplyDelete
  13. Nah itu, dari sisi masyarakatnya pun harus disiplin. Memang harus banyak disosialisasikan tentang BPJS

    ReplyDelete
  14. Memang edukasi spt ini diperlukan oleh masyarakat sampai ke pelosok agar tdk ada prasamgka negative. Pdhal BPJS itu sangat membantu masyarakat utk pembiayaan berobat

    ReplyDelete
  15. bagus inu mbak.. jdi kita bisa banyaj tau info soal bpjs dari situnya langsung

    ReplyDelete
  16. Pas kmrn suamiku sakit, kami pakai BPJS dan langsung kami rasakan sekali menggunakan BPJS karena tak mengeluarkan biaya lagi. Mba, jadi fisioterapi tak dhapus hanya saja jumlahnya dikurangi ya

    ReplyDelete
  17. Kadang dilema juga sih, Mba bagi yg ga disiplin membayar. Ada sebagian mereka yg memang ga sanggup utk membayar. Yg nggak sopan tuh yg sanggup bayar tapi menyepelekan dan meremehkan.

    ReplyDelete
  18. Oalah gitu ya, ternyata habis dapat manfaat jaminan malah gak disiplin bayar, nakal juga. Akhirnya jadi dilema kalau seperti ini ya.

    ReplyDelete
  19. emang ya,,, masyarakat Indonesia ini masih suka gak disiplin bayar. bayar saat butuh saja. padahal kan bisa untuk subsidi silang. Makasih infonya mbak

    ReplyDelete
  20. Setelah tahu yg sbnarnya kita jadi tahu ya.. smoga aja bpjs mkin baik playananya

    ReplyDelete
  21. Waah itulah ya kalau berita tidak dari dua sisi, kadang mikirnya udah negatif duluan. Alhamdulillah dari penjelasan dan tulisan mbak Eni jadi tahu deh alasannya kenapa. Ternyata ujung-ujungnya dari kita sendiri yang suka nggak disiplin dalam membayar iuran BPJS. Padahal nantinya BPJS itu yang menikmati kita sendiri yaa. Aku sampai saat ini sih belum pernah pakai BPJS dan semoga nggak perlu pakai deh. Tapi bayar iuran BPJS dibantu dari kantor jadi insyaAllah rutin bayarnya. Hehehe.

    ReplyDelete
  22. Wah bener banget ni mak, sekarang enak ya ada BPJS, asal jangan telat bayar aja karena bagaimana pun akan memberikan efek pada kita

    ReplyDelete
  23. Aku tuh sering ngenes yah liat fakta yg terjadi, ckp bnyk orang mampu, dtg ke RS dg mobil pribadi tp memakai fasilitas BPJS yg gratis. Duuuh smoga hal spt ini bs diminimalisir yah

    ReplyDelete
  24. Efisiensi BPJS itu penting ya supaya berkesinambungan dan merataa.

    ReplyDelete
  25. sebanyak 13 jutaan orang berhenti membayar jkn-kis setelah dapet manfaatnya ? waduh padahal klo memang niat aware untuk dana kesehatan, kudu rutin terus ateuh

    ReplyDelete
  26. Trastuzumab subkutan itu memang mahal biayanya. Sekali suntik saja biayanya sama dengan membeli 1 motor matic.

    ReplyDelete
  27. Yah begitulah, suka banyak kasus abis menikmati BPJS eh putus tengah jalan gk bayar iuran...
    Penting emang yaaaa yg namanya pendidikan buat mengedukasi hal2 kyk gini TFS

    ReplyDelete
  28. Semoga rakyat Indonesia kedepannya selalu taat membayar yah.. Jangan habis manis sepah dibuang. Weleh weleh.

    ReplyDelete
  29. Nah itu, Mbak, masih banyak peserta JKN yang malas-malasan bayar iuran. Ini sangat disayangkan ya. Padahal sistem yang dibangun JKN ini sebenarnya untuk memudahkan dan membantu msyarakat juga. Duh, mudahan kesadaran untuk taat aturan dalam membayar dan tak cuma ingin menikmati fasilitasnya aja perlahan mengalami peningkatan ya

    ReplyDelete
  30. jangan tunggu sakit sih ya seharusnya, pakai BPJS dan menjadi peserta JKN-KIS itu malah memudahkan

    ReplyDelete