>

5 Buku Fiksi Yang Harus Dibaca

By duniaeni.com - November 29, 2018



Jika membicarakan buku bagus, rasanya tidak akan cukup membahasnya sehari. Karena banyak buku bagus yang terlahir di dunia ini, baik dari penulis lokal  maupun penulis luar. Buat penggemar buku jika diminta menyebutkan buku yang menjadi favoritnya, saya jamin tidak cukup lima jari untuk menyebut judulnya, begitu pun saya.

Ketika harus merekomendasikan judul buku yang bagus atau harus dibaca, jadi mikir sekian lama karena hanya diminta 5 judul. Harus benar-benar yang saya suka berarti ya, maka saya memutuskan buku-buku yang mendekam kuat dalam kepala saya. Buku yang pernah saya baca puluhan tahun lalu dan masih ada kenangannya di kepala, meski sudah dibaca berulang tetap rindu.

Beberapa buku yang saya sebutkan judulnya ini ada yang tebal sekali dan saya sudah membacanya beberapa kali tanpa rasa bosan, selalu rindu dengan kisah di dalamnya. Seakan tokoh-tokoh dalam buku tersebut hidup dan sudah teramat saya kenal dengan baik. Bahkan tanpa membacanya lagi, hanya dengan menyebut judulnya semua memori isi buku itu terpampang nyata dalam ingatan.

Saya berpendapat rugi rasanya jika sampai tidak menyempatkan waktu untuk membaca buku yang saya sebut judulnya di bawah ini:

1. Ronggeng Dukuh Paruk
Novel yang ditulis oleh seorang penulis asal Banyumas, Ahmad Tohari ini termasuk buku lawas yang melegenda hingga mancanegara, diterbitkan tahun 1982 dan sudah beberapa kali difilmkan. Namun tidak satu pun filmnya yang ingin saya tonton, karena kawatir melukai keindahan buku yang saya baca, hehehe. Sebab, lebih banyak film yang diangkat dari buku gagal menggambarkan imajinasi pembaca bukunya.

Dalam novel ini menceritakan kehidupan seorang Ronggeng bernama Srintil di Dukuh Paruk, kebudayaan yang miris, kemiskinan yang memilukan, yang ditulis oleh Ahmad Tohari dengan diksi indah, membuat saya merasa berada di Dukuh Paruk dan terkenang hingga saat ini. Satu adegan yang saya ingat betul yakni anak-anak Dukuh Paruk yang mencabut singkong dengan mengencinginnya, lalu memakan singkongnya mentah-mentah.

2. Para Priyayi
Nove karya Umar Kayam  pertama kali diterbitkan tahun 1991, novel yang menggambarkan seorang anak petani yang masuk ke dalam dunia priyayi. Bagaimana Umar Kayam mendeskripsikan Kota Wonogalih sangat detil, bagaimana menggambarkan tentang kehidupan seorang priyayi yang menurut saya rumit dan memiriskan, hahahah. Pokoknya jika mengaku suka membaca sastra, novel ini harus jadi bagian koleksi di almari buku.

3. Lima Sekawan
Ini dia buku legendaris dunia menurut saya, siapa saja penggemar buku nyaris pernah membaca buku ini. Bayangkan Lima Sekawan pertama kali terbit tahun 1942 di Inggris dan saya merasa bagian dari jaman-jamannya Lima Sekawan, padahal saya lahir di tahun 1977, lalu anak saya pun menggemari buku ini. Buku yang benar-benar sepanjang masa, acungkan jempol buat penulisnya , Enid Blyton.

Paling berbekas dalam kepala saya Lima Sekawan seri Pulau Harta Karun, saya masih ingat Timmy anjing kesayangan, George yang tomboy dengan nama asli Georgina, Anne si bungsu yang suka menyiapkan bekal limun dan roti jahe. Ah, rasanya rugi jika tidak mengenal buku Lima Sekawan.

4. Trio Detektif
Saya suka buku Trio Detektif  sejak SD, termasuk saat itu tergila-gila buku Lima Sekawan. Buku Trio Detektif ditulis oleh Robert Arthur, berkisah tentang 3 remaja. Saya paling ingat dengan sosok Jupiter yang membuat markas Trio Detektif di mobil bekas milik pamannya, paman Titus. Mobil bekas yang disulap jadi ruang detektif cukup canggih.

5. Buku-Buku Karya HC Andersen
Saya tidak menyebut judulnya karena semua buku-buku karya HC Andersen hampir mengisi kepala saya sejak kecil. Buku-buku  karya penulis dan penyair Denmark ini seperti Itik Buruk Rupa, Gadis Penjual Korek Api, Putri Kacang Polong adalah bacaan yang membuat mimpi saya menjadi seorang penulis lahir.

Sehingga anak-anak saya pun saya koleksikan buku-buku karya HC Andersen, karena memang buku-bukunya khas dunia anak-anak yang penuh imajinasi. Sampai sekarang pun saya masih senang sekali membaca karya-karya HC Andersen, rasanya seperti dilempar ke masa kanak-kanak.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar