>

Stimulasi yang Tepat Agar Si Kecil Tanggap yang Lengkap

By duniaeni.com - September 29, 2019



Apa semua ibu juga mengalami seperti yang saya alami ya, Si Kecil paling susah kalau diminta beberes mainannya. Kadang karena capek meminta Pendar  (4 tahun) untuk membereskan mainannya, saya yang membereskan hingga rapi. Atau kadang meminta kakaknya untuk membantu membereskannya. Tapi kalau lagi pengen tegas, saya minta Pendar untuk tetap memberesi mainannya, hasilnya? Mau, tapi setelah itu mengulang lagi tidak memberesi mainannya.

Pernah saya pura-pura merasa capek sehingga tidak bisa membereskan mainannya yang berserakan di ruang tamu, Pendar melihat itu langsung dengan cepat membereskan mainannya hingga rapi. Tapi saat membereskan itu dia menertawakan ekspresi saya yang lagi pura-pura kesakitan. Saya pikir, apa Pendar tahu ya kalau saya sedang berpura-pura?

Sebenarnya tidak hanya saat melihat saya pura-pura terlihat capek, Pendar membantu tapi menertawakan. Saat adik bayinya, Binar (10 bulan) menangis karena mainannya jatuh, Pendar mengambilkan tapi sambil mengejek, "Adek cengeng, adek cengeng." Ekspresi wajahnya terlihat mengesalkan di mata saya.

Saya jadi gemes karena kesal melihatnya mengejek adiknya yang sedang menangis, tapi di sisi lain saya senang Pendar reflek mengambilkan mainan adiknya, dan memberikan langsung mainan itu.  Kalau saya cerita ke Ayahnya, hanya dikomen "Namanya juga anak-anak. Nanti juga kalau sudah besar tidak sepert itu."

Benar juga sih, tapi benar nggak ya, kalau saya biarkan sikap Pendar seperti itu sampai nanti dia mengerti sendiri? Walau sebenarnya tidak saya biarkan saja, tapi saya sounding terus agar Pendar menjadi seorang kakak yang sayang kepada adiknya. Dan, jawaban Pendar bikin saya kaget loh: "Abang nggak apa-apain Adek kok, cuma ketawa . Ketawa itu nakal, Bu?"

Sejujurnya saya sering bingung dan gugup kalau Pendar sudah mulai bertanya-tanya hal seperti ini. Memang tertawa tidak jahat, tapi jika tertawa diwaktu yang tidak tepat namanya kurang empati dan bisa menimbulkan perasaan sakit pada oranglain. Namun bagaimana cara menjelaskan pada anak seusia Pendar?


Bebeclub Family Date Bareng Rumah Dandelion

Sampai saya diundang oleh Komunitas Emak Blogger ke acara Bebeclub Family Date bareng Rumah Dandelion, Jumat-1 Agustus 2019. Dalam acara ini membahas tentang bagaimana cara melatih kecerdasan emosional anak yang bisa mendorong atau menumbuhkan daya pikir dan IQ-nya. Selama ini kayaknya kita sebagai orangtua lebih fokus dan mempermasalahkan, bagaimana agar anak memiliki IQ yang tinggi. Sehingga IQ menjadi ukuran kecerdasan seorang anak, sampai berbagai stimulasi dilakukan agar IQ anak berkembang dengan baik.

Akibatnya kecerdasan emosional jarang mendapat sorotan, dan otomatis jarang distimulasi. Karenanya kadanng anak cerdas, tapi kurang empati. Ini juga saya tahu dari penjelasan narasumber, padahal kecerdasan emosional itu sangat penting karena mendukung kecerdasan daya pikir dan IQ. Family Date yang benar-benar sarat ilmu dan bikin saya memahami sebagai orangtua dengan empat anak, yang hampir setiap hari menghadapi hal-hal yang berrhubungan erat dengan kecerdasan emosional anak.

Ketika anak dapat nilai matematika 5, saya sibuk mengececk kesalahannya dan diskusi dengan suami, sebaiknya dileskan dimana. Tetapi ketika anak saya kurang empati kepada adiknya, saya sekedar sounding jangan lakukan lagi. Bahkan ketika kondisi sedang tidak tepat, saya justru memarahinya. Secara tidak sadar ini justru mengabaikan kecerdasan emosional seorang anak.



Pokoknya saya menyambut senang sekali acara Family Date ini, apalagi bisa menyimak dengan tenang karena saat acara Family Date dimulai, anak-anak diajak ke tempat bermain dan melakukan berbagai aktifitas yang penuh educatif. Sementara para ibu duduk menyimak penjelasan narasumber. Pertama dijelaskan tentang pentingnya nutrisi yang dibutuhkan seorang anak agar mendukung tumbuh kembang dan kecerdasan berpikir.


Nutrisi spesifik penting, antara lain:
1. Prebiotik : Didapat dari vit A, D Mineral Zat Besi, Seng & SERAT seperti Inulin, fructo-oligosaccharide (FOS), Galacto-oligosaccharride (GOS)
2. Asam Lemak & Asam Amino Esensial : Asam Lemak Esensial khususnya dari kelompok Omega3 (seperti ALA, EPA, DHA)  kelompok omega  (seperti Asam linoleat).

Salah satu asupan yang mendukung kebutuhan nutrisi tersebut seperti susu, dan Bebelac HiQ-EQ+ memiliki kandungan Omega 3, Omega 6 yang lebih tinggi dibanding formula sebelumnya. Juga mengandung FOS : GOS 1 : 9, 13 vitamin dan 7 mineral fish oil. Untuk info selengkapnya di www.bebeclub.co.id


Memberikan Bebelac HiQ-EQ+ sesuai usia dan takarannya kepada anak akan membantu memenuhi kebutuhan nutrisinya, sehingga dengan nutrisi yang tepat dan lengkap anak akan tumbuh sehat. Anak sehat akan lebih mudah distimulasi emosional dan daya pikirnya, karena itu jangan pernah mengabaikan nutrisi penting dalam makan dan minumnya anak.

Melatih Kecerdasan Emosional Anak Untuk Mendukung Daya Pikirnya

Pada sesi tentang melatih kecerdasan emosional anak untuk mendukung daya pikirnya, menghadirkan narasumber seorang Psikologi dari Rumah Dandelion, Binky Paramitha Iskandar, M.Psi. Kata Mba Binky semua anak terlahir dengan banyak potensial, karena anak terlahir dengan akal dan hati. Tinggal bagaimana kita sebagai orangtua menstimulasi. Mba Binky juga memaparkan bagaimana hubungan antara EQ dengan IQ sehingga anak yang cerdas emosi dapat meningkatkan daya pikirnya.


Jadi  menstimulasi emosi anak dengan memberikan respon positif ketika ada orang yang sedang kesulitan. Dengan stimulasi ini, kita dapat mengajarkan Si Kecil melihat permasalahan dari hatinya. Nah, ketika rasa perdulinya terbentuk, kemampuan berpikirnya pun akan terasa dengan membantu orang tersebut.

Sebenarnya Bebeclub Family Date ini merupakan satu rangkaian dengan kegiatan sebelumnya, yaitu Kulwap  bersama Mba Binky dan talkshow live di Facebook Bebeclub.  Jadi tambah banyak ilmu yang didapat, termasuk bagaimana menstimulasi agar Kecerdasan IQ dan Kecerdasan EQ dipraktekkan langsung saat acara.

Anak-anak diajak mendengarkan Kak Ori mendongeng tentang Chef yang mendadak jatuh sakit, sementara donat pesanannya harus diselesaikan. Anak-anak pun diajak membantu asisten Chef membuat donat. Pertama-tama anak-anak diminta membersihkan dapur Chef yang sangat kotor, penuh dengan tepung dan remah-remah. Suprise banget buat saya melihat Pendar membersihkan meja dengan semprotan air dan lap, hasilnya bersih.



Saya sungguh tidak menyangka karena setiap menumpahkan susu, air minum, makanan, selalu dia memanggil saya atau kakaknya. Jika diminta membersihkan, selalu bilang tidak bisa dan masih kecil. Kalau pun dibersihkan hasilnya tidak bersih, malah jadi berantakan. Jadi apa yang dilakukan hari ini sungguh luarbiasa dan membuat saya terharu. Ternyata selama ini saya tidak memberinya kesempatan dan tidak mempercayainya, tanpa sadar saya tidak menstimulasinya.

Tidak hanya membantu membersihkan dapur Chef, tapi juga ketika asisten Chef yang diperan oleh kakak-kakak dari Rumahh Dandelion menjatuhkan peralatan memasak, Pendar bersama teman-temannya refleks membantu. Semua itu dikatakan Mba Binky sebagai kecerdasan emosional atau EQ. Kecerdasan EQ dan IQ ini bisa distimulasi dengan cara yang menyenangkan buat anak-anak seperti bermain atau lewat permainan, mendongeng.

Membantu Chef dilakukan anak-anak sampai menghias donat, saya membiarkan Pendar menghias sesukanya. Bisa dibayangkan dia menghias kue dengan butter, messes, gula halus, maka tangan, baju, wajah, hingga meja blepotan semua, hehehe. Tapi saya tidak boleh marah, karena apa yang dilakukan Pendar merupakan bentuk dari stimulasi daya pikirnya.

Lalu bagaimana sebagai ibu saya menstimulasi  kebesaran hati dan kemampuan berpikir si Kecil sehari-hari?

Stimulasi Kebesaran Hati&Kemampuan Berpikir Si Kecil Sehari-Hari



Untuk menstimulasi ini oleh Mba Binky dijadikan PR yang harus dilakukan oleh semua ibu-ibu yang hadir di acara Family Date, tapi tentu saja stimulasinya harus sesuai usia. Berikut stimulasinya, semoga bermanfaat:

Stimulasi tepat untuk jadikan si Kecil tanggap yang lengkap

Anak usia 1-2 tahun
1. Dapat tertular emosi orang lain (menangis kalau ada anak lain menangis, ikut rewel ketika ibu sedang tidak tenang)
2. Secara umum belum terdorong membantu oranglain, kecuali mendapat instruksi yang jelas.
3. Usia 1 tahun mengamati dan meniru ekspresi oranglain.

Stimulasi si Kecil: Ajak si Kecil mencocokan reaksi yang tepat di situasi sulit, seperti ketika melihat adik menangis karena lapar, apa yang  bisa dibantu (tunjukkan gambar susu, bola, dan Ibu)

Anak usia  3-4 tahun
1. Dapat menguatkan antara emosi yang muncul dan apa yang menyebabkannya. Contoh: "Adik senang dengan kado"
2. Mulai ada keinginan membantu dan menenangkan, tanpa perlu diminta
3. Lebih mudah empati bila situasinya familiar dan pernah mengalami hal yang sama.
4. Mulai dapat melihat dari sudut pandang oranglain, namun masih perlu bimbingan untuk menampilkan respon yang sesuai. Contoh : membantu teman yang terjatuh tapi  menertawakan.

Stimulasi si Kecil : Diskusikan dengan si Kecil, perasaan tokoh dengan gambar  seorang anak sedang sedih dan ditertawakan teman-temannya.

Anak usia 5-6 tahun
1. Mampu bercerita tentang pengalaman dan perasaannya.
2. Mampu memahami bahwa apa yang dirasakan orang lain bisa berbeda dari dirinya.
3. Mampu membaca perasaan orang lain melalui bahasa tubuh ekspresi wajah, dan perilaku oranglain.
4, Mampu memikirkan solusi apa yang harus dilakukan, untuk situasi yang familiar.

Stimulasi si Kecil : Ajak anak untuk melakukan, misalnya memberi sarapan pagi ke petugas tol, mengajak main anak yang terlihat sendirian di taman, mengirimkan donasi mainan/buku yang ia miliki untuk anak kurang mampu.

Anak usia 6  tahun keatas :
1. Semakin terampil dalam membaca situasi dan mencari solusi yang tepat, menyesuaikan antara kemampuan yang ia miliki dan kebutuhan orang yang butuh bantuan.
2. Semakin menunjukkan keperdulian sosial dan berinisiatif membantu.

Stimulasi si Kecil : Libatkan si Kecil dalam kegiatan sosial,  hal ini mendorong inisiatif anak dalam membantu orang lain, bisa dengan melibatkan anak dalam membuat proyek sosial keluarga.

Dari semua yang saya dapat di acara Family Date ternyata memang banyak kekeliruan saya terhadap Pendar. Seusia Pendar ketika menertawakan adiknya bukan karena dia nakal atau mengejak, itu karena Pendar belum tahu respon yang sesuai. Juga ketika Pendar sering tidak membereskan mainannya, karena saya jarang mengajak melakukan bersama-sama tapi saya membereskannya sendiri atau meminta kakaknya.

Duh, semoga ke depan saya semakin baik dalam membimbing anak-anak, sehingga anak-anak saya bisa memiliki prilaku yang prososial yakni aksi hebat si Kecil ketika membantu oranglain tanpa pamrih:

1. Menolong : Orang lain yang membutuhkan bantuan, baik itu anggota keluarga, teman, ataupun orang asing.
2. Berbagi : Memberikan sebagian yang dimiliki agar orang lain yang tidak punya atau kekurangan bisa mendapat pengalaman yang sama.
3. Berkerja sama : Bahu membahu dengan orang lain untuk mencapai 1 tujuan tertentu.

Semoga sharing saya ini bermanfaat ya, dan jangan lupa download flashcard tumbuh kembang di website bebeclub.co.id yang nantinya bisa Moms praktekkan di rumah bersama si Kecil untuk membantu stimulasinya.



  • Share:

You Might Also Like

0 komentar