Pentingnya Kesetaraan Gender Di Era Digital

by - December 10, 2019


Suatu hari seorang ibu yang usianya di atas saya dan merupakan tetangga beda blok melintas depan rumah. Ibu itu berhenti ketika melihat suami saya tengah menjemur pakaian, sementara saya sedang bermain dengan Binar. Lalu katanya dengan ekspresi sinis, "Jangan mau, Pak. Masa suami yang jemur pakaian. Istri santai-santai."

Lalu matanya yang semula ke arah suami, berbalik mengarah ke saya seraya berkata lagi, "Kamu itu masa membiarkan suami ngerjain pekerjaan perempuan. Nggak Jawani!"


Perempuan dan stigma gender

Tanggapan seperti ini bukan sekali dua kali, tetapi seringkali dan selalu tokohnya adalah perempuan itu sendiri. Mengapa, padahal Indonesia memiliki Ibu Kartini yang menyerukan emansipasi pada jamannya, tapi memang pengertian gender di Indonesia menjadi tolak ukur yang kukuh sejak jaman Nenek Moyang. Bahwa perempuan memiliki tugas di sumur, di dapur, dan di kasur. Orang Jawa menempatkan perempuan sebagai konco wiking atau posisi di belakang suami.

Seakan gender itu menjadi pembatas antara laki-laki dan perempuan, padahal gender bukanlah jenis kelamin laki-laki dan perempuan sebagai pemberian Tuhan. Tapi gender merupakan perbedaan peranan dan fungsi yang dibuat oleh  masyarakat kita, seperti Bahwa perempuan memiliki tugas di sumur, di dapur, dan di kasur. Atau konco wiking, sementara laki-laki bekerja di luar. Tapi pada prosesnya TIDAK LAGI DEMIKIAN.

Sesungguhnya sejak jaman dahulu pun, tidak demikian menurut saya. Coba lihat, tokoh wanita Indonesia Kartini,  Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang, dan banyak lagi. Dimana wanita turun ke medan laga dan juga ke ranah pendidikan. Sayangnya, pengertian gender yang absurd membuat perempuan tetap berada dalam stigma berbeda dengan laki-laki dalam segala hal, termasuk peran.

VIVATalk



Berangkat dari stigma masyarakat kita tentang perempuan maka dalam rangka menyambut Hari Ibu yang akan  jatuh pada tanggal 22 Desember, viva.co.id dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia menyelenggarakan VIVATalk dengan tema 'Perempuan Berdaya Indonesia Maju, Perempuan di Era Digital' dengan menghadirkan narasumber:

1. Bapak Henky Hendranantha - Chief Operating Officer (COO) VIVA Network
2. Bapak Indra Gunawan - Deputi Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) Republik Indonesia
3.  Bapak Eko Bambang Sudiantoro - Chief of  Research at Polmark dan Aliansi Laki-Laki Baru
4. Dr. Sri Danti Anwar - Pakar Gender
5. Ibu Diajeng Lestari - Founder dan CEO HIJUP

Perempuan Berperan Penting Dalam Negara : Dukung Bersama Persamaan Gender

Perempuan berperan penting dalam negera yakni Indonesia dan itu harus disadari perempuan itu sendiri. Karena itu seperti yang dikatakan Bapak Henky Hendranantha, bahwa Hari Ibu bukan sekedar perayaan tanpa makna. Tapi merupakan tonggak emansipasi  untuk mewujudkan Indonesia maju dengan kesadaran para perempuan akan pentingnya kesetaraan gender.

Terlebih era digital yang serba memudahkan siapapun, termasuk perempuan untuk berperan misalnya dalam perekonomian keluarga maupun madrasah bagi anak-anaknya di rumah. Hal ini tentu dibutuhkan perempuan yang memiliki wawasan, intelektual, dan keterampilan yang setara dengan laki-laki. Perempuan-perempuan seperti ini termasuk yang meningkatkan perekonomian negara.

Tentu saja hal itu akan berjalan dengan baik jika isu-isu gender tidak lagi menjadi penghalang, dan persamaan gender terwujud dengan baik di Indonesia. Karena pada prakteknya persamaan gender di Indonesia itu sudah berjalan sejak dulu, tapi belum diakui secara nyata oleh masyarakat yang masih memiliki stigma gender secara tradisional. Contoh kecil adalah tetangga saya, padahal ibu tersebut selain ibu rumah tangga juga pekerja yang membantu perekonomian kelurganya dengan berjualan baju muslim. Tapi masih saja membeda-bedakan peranan perempuan dan laki-laki dalam tugas keseharian.

Bapak Eko Bambang Sudiantoro sendiri mengatakan, yang membedakan perempuan dan laki-laki  hanya karena perempuan melahirkan. Selebihnya sama, seperti sama-sama pernah menangis, sama-sama suka curhat, sama-sama bisa menghasilkan uang,  sama-sama bisa berpendidkan tinggi, dan lain sebagainya.

Masih kata Bapak Eko Bambang Sudiantoro, terlebih sekarang era digital dimana perempuan bisa memberdayakan dirinya dari rumah. Maka seharusnya perempuan masih sadar siapa dirinya dan tidak terimbas stigma gender. Tapi memang persamaan gender ini harus didukung pihak laki-laki, dimana pihak laki-laki mau mengakui dan memberi kesempatan perempuan untuk lebih maju demi terciptanya Indonesia maju.

Jadi bersyukur ya, jika perempuan memiliki suami yang membiarkan perempuan tetap memiliki eksistensi diri, tetap berkembang bersama karirnya, dan sama-sama mau bertanggungjawab mengurus rumah dan anak-anak, tanpa ada perbedaan gender yang membeda-bedakan peran masing-masing.



Dr. Sri Danti Anwar menungkapkan bahwa saat ini dunia semakin terbuka terhadap persamaan gender, sehingga pemandangan laki-laki dan perempuan berbagi tugas yang sama menjadi hal lumrah. Meski memang dibeberapa wilayah masih memiliki pemikiran soal gender, biasanya karena wawasannya belum terbuka, dan lingkungan sekitar mendukung perbedaan gender ini.



Sebagai contoh nyata wanita yang mampu maju menjadi bagian dari perekonomian keluarga dan negara adalah  Ibu Diajeng Lestari. Perempuan manis ini sukses mengembangkan sayap bisnisnya di bidang fashion musliman dengan memberdayakan era digital. Mungkin hampir setiap perempuan muslim tahu online shop HIJUP. Jadi apakah kalian sebagai perempuan Indonesia masih tertidur dalam stigma gender, dan tidak menyadari kemampuan dalam diri bahwa kalian adalah perempuan hebat yang ikut berperan dalam majunya Indonesia?







You May Also Like

0 komentar