>

Persiapan Lahiran Normal Di Usia 41 Tahun : Menunggu Pembukaan

By dunia eni - November 09, 2018

Ruang observasi


Setelah membaca cerita saya sebelumnya : Proses Melahirkan Anak Kelima, maka ini kelanjutannya ya...


Pasien Lahiran Normal Ditangani SPOG No BPJS Ya!

Begitu sampai rumah sakit Prikasih tempat saya akan melahirkan beda banget momentnya seperti yang sudah-sudah. Biasanya saya dalam kondisi sudah mulas serius, dipapah ke UGD dan langsung ditangani untuk siap-siap menuju ruang observasi lalu ke ruang bersalin. Ini karena kondisi mulasnya masih muncul hilang, jadi ya celingukan di depan satpam yang lagi data nomor pasien. Gak banget ih, hahaha!

Ngomel dong saya ke suami, "Tuh, kan, Yah! Masa aku disuruh antri gak jelas gini?"
"Tunggu sampai Ayah kelar daftar, baru kita ke UGD."
"Ngapain pakai nunggu, biasa aku nyelonong aja bawa surat rujukan dokter Deddy ke UGD," saya mulai sewot. Habis bete aja berada di antara hiruk pikuk pasien yang antri, ada pasien umum, ada BPJS yang mengular bagai ular naga panjangnya. Pukul 7 pagi rumah sakit sudah pikuk begini.

Akhirnya saya memutuskan ke UGD dan semua petugas UGD tuh pertanyaannya sama: "Mau dioperasi jam berapa?"



Bertanduk dong saya karena hampir semua tanya sama, padahal jelas-jelas di kertas rujukan tertera keterangan dari dokter saya kalau saya rencana akan lahiran normal! Mereka malah komen, kalau lahiran normal tidak boleh pakai BPJS. Hello, kapan ya saya bilang pakai BPJS? Alhamdullilah, rasa mulas yang saya rasakan tidak terasa dan jarang muncul, kalau dalam keadaan mulas ditanya hal yang tidak jelas kan bisa sewot saya.

Mana suami masih antri di tempat pendaftaran pasien, jadi saya sendirian di UGD ngeladenin pertanyaan yang diulang-ulang sampai datang dokter jaga dan akhirnya semua 'clear'. Saya pasien dokter Deddy akan melahirkan normal yang otomatis masuk pasien umum, karena BPJS tidak melayani lahiran normal ditangani dokter kandungan. Setahu saya hal ini mencegah bangkrutnya BPJS, karena dana digunakan maksimal.

Kalau kondisi normal masih bisa ditangani di faskes dan bidan, kenapa harus buang-buang budget BPJS buat bayar dokter kandungan dan rumah sakit? Beda nominalnya saja bisa bikin geleng kepala, kecuali kondisi sectio ini masuk ranah BPJS meski budgetnya gede. Kalau kata pihak BPJS, minimalkan budget untuk yang benar-benar diperlukan itu membantu menyelamatkan dana BPJS untuk banyak masyarakat.

18 November 2018 : Persiapan Di UGD

Ruang UGD

Setelah diperiksa tekanan darah, saya harus diperiksa jantung mengingat sudah masuk usia rawan. Jadi dada saya dipasangin kabel kecil-kecil, Alhamdullilah kondisi jantung saya aman. Lalu diinfus tenaga dan diminta ceck darah lagi padahal tanggal 4 Oktober saya sudah ceck darah dan semua oke. Budgetnya lumayan loh periksa darah, waktu itu di lab swasta saya periksa darah dan urine saja hampir 500 ribu rupiah.

Saya berusaha menolak, tetapi petugas rumah sakit bilang kalau semua itu perintah dari dokter saya, baiklah saya menyerah. Mungkin memang ini demi keselamatan karena ceck darah untuk mengetahui kalau-kalau saya butuh darah, Alhamdullilah, hasilnya ternyata bagus.

Selesai semuanya saya ijin untuk jalan-jalan di sekitar rumah sakit karena di UGD sangat tidak nyaman, saya berbaring dalam kondisi tidak ada mulas dan riuh mendengar jeritan batita yang kesakitan diambil darahnya. Berjam-jam tangis itu mengisi seluruh ruangan UGD, bagaimana saya dapat tenang? Sebagai ibu hati ini sedih mendengar batita nangis, jadi ingat Pendar.

Masuk Ruang Observasi

Saya tidak diijinkan untuk jalan-jalan, tetapi langsung didrop ke ruang observasi. Di sana berbaring dan diperiksa dalam baru pembukaan dua, lanjut diperiksa detak jantung janin. Dulu setiap diperiksa detak jantung janin kondisi saya sudah mulas yang kuat. Pembukaan sudah menuju 6 hingga tidak ada duajam lagi pasti sudah proses lahiran. Ini diperiksa detak jantung bayi kondisi saya masih santai-santai.



"Bener ibu bilang, Yah, aku harusnya datang siang." Saya masih saja mengungkit.
"Nanti sebelum jam 12 siang juga ibu melahirkan," kata suami menenangkan.
"Gak lah, ini sudah jam 9 mulasnya masih hilang muncul, belum mulas sangat."

Selesai diperiksa jantung janin, diperiksa lagi tekanan darah saya, akhirnya saya diperbolehkan jalan-jalan di selasar rumah sakit karena rasa  mulas belum juga datang dengan kuat. Saya wara-wiri selasar rumah sakit, gerakan jongkok bangun dengan pegangan tangan suami, beberapa kali sempat juga buang air kecil ke toilet. Dalam hati saya: Ya Allah, 4 kali melahirkan baru ini saya masih bisa beraktifitas di rumah sakit. Dan, saya baru menyadari wasir yang sempat kambuh kemarin sembuh! Bahkan saya bisa gerakan jongkok bangun, Masyaallah.

Capek wara-wiri saya kembali berbaring di ruang observasi yang dingin, infus di tangan saya sempat memerah karena tadi saat wara-wiri lupa letak infusnya terlalu rendah. Saya mulai jenuh dan memutuskan untuk chat dengan sahabat saya, Meli yang tinggal di Samarinda. Dia tiba-tiba cerita kalau dulu sebelum lahiran naik turun tangga ruamah sakit. "Gue langsung mulas deh, Mir." katanya.

Pukul 11 siang

Selagi asyik chat, bidan datang menanyakan kondisi saya dan akan melakukan ceck dalam. saya berharap sudah pembukaan 5, mengingat cukup lama wara-wiri dan jongkok bangun sampai capek. Tetapi ternyata pembukaan masih dua, sementara jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.

"Dimasukkan pelentur mulut rahim ya, Bu, " kata Bidan sambil memasukkan satu pil kecil ke dalam vagina saya. "Karena belum turun nih, Bu. Masih jauh dan baru pembukaan dua dari pagi."

Deg! Saya sempat ketakutan mengira itu induksi, hahaha. Terbayang sakitnya induksi yang sering diceritakan teman-teman, terbayang hal-hal negatif. Tetapi bidan menjelaskan kalau ini bukan induksi, kalau induksi akan ada pemberian yang jedanya terartur, ini hanya dimasukkan sekali agar mulut rahim saya lebih lentur.

Baiklah, saya pasrah dan memutuskan untuk turun naik tangga. Kebetulan tangga rumah sakit ada yang tinggi dan curam. So, bagaimana kelanjutannya? Apa yang terjadi setelah saya turun naik tangga? Apakah rasa mulas tetap tidak datang dengan  kuat? Apakah saya akan mengalami induksi akhirnya? Ikuti cerita saya selanjutnya ya : Agar Pembukaan Lengkap Lebih Cepat

Semoga bermanfaat...



  • Share:

You Might Also Like

3 komentar

  1. Luar biasa ya perjuangan seorang ibu untuk melahirkan. Jadi ingat hampir 9bulan lalu merasakan sakit yang luar biasa, tapi rasa sakit itu hilang saat melihat bayi

    ReplyDelete
  2. Mba Enii, aku nunggu critanya ya. Aku seneng klo baca proses melahirkan, entah kenapa hihi.
    Anak ke 5 subhanallah ^^ seruuu

    ReplyDelete
  3. Huahhh.. Aku juga bentar lagi nyusul nih mbak en... Harap2 cemas getoo.. Ditunggu lanjutan ceritanya. Jdi refrensi juga ntar klo mau lahiran.. Ahahhaha

    ReplyDelete