KESEHATAN

PARENTING

REVIEW

Mengapa Kita Harus Vaksinasi Covid 19

by - September 22, 2021

Berapa bulan lagi kita akan memasuki tahun 2022, awal tahun yang membuat saya selalu ingat saat awal-awal pandemi Covid 19 yang meremukkan hati hingga saat ini. Karena kondisi pandemi mengubah semua tatanan kehidupan dari segala segmen, pekerjaan, sosialisasi, kesehatan, gaya hidup.



Baca : Kehidupan Setelah Pandemic Covid 19

Sehingga jika bisa meminta, saya dan mungkin semua manusia di bumi ini tidak ingin bencana Covid 19 itu ada. Tapi nasi sudah menjadi bubur, takdir sudah terjadi, maka peran kita adalah menanggulangi agar Covid 19 ini  tidak menyebar dan mematikan. Bagaimana caranya? 

Tenaga medis dan pemerintah sudah mensounding berkali-kali tentang terapkan prokes, saat ini prokes yang berlaku adalah 5 M, yakini:

  • 1.     Mencuci tangan dengan benar, di bawah air mengalir dengan menggunakan sabun dan selama 20 menit. Atau  dengan hand sanitizer yang mengandung alcohol minimal 60%
  • 2.  Menggunakan masker yang tepat sesuai standar kesehatan. Jika ingin menggunakan masker kain, pertama dilapisi dengan masker medis, baru masker kain.
  • 3.    Menjaga jarak, minimal 1 meter untuk menghindari  atau meminimalisir terjadi droplets saat ada yan batuk, bersih, bicara.
  • 4.    Menjauhi kerumunan, terutama jika sedang tidak fit atau berusia lansia. Karena kondisi ini lebih mudah terpapar Virus Covid 19.
  • 5.      Mengurangi mobilitas, jika tidak penting

Anti Vaksin yang Bikin Miris

Satu lagi, karena vaksin sudah ada makan WAJIB VAKSIN, kecuali pagi yang memiliki masalah kesehatan dan dokter tidak menganjurkan. Tentu saja kondisi ini harus benar-benar atas keputusan dokter, tidak asal hanya menebak atau opini pribadi yang awan dengan ilmu kesehatan.

Tapi sedihnya, masih banyak masyarakat kita yang enggan dan memutuskan untuk TIDAK VAKSIN dengan berbagai alasan, diantaranya anti vaksin yang menggambar-gemborkan vaskin haram meski MUI sudah memutuskan vaksin tidak haram, meski pemuka agama mensounding vaksin diperbolehkan. Saya sendiri sebagai umat muslim sangat menyayangkan pola pikir seperti ini. Bayangkan deh, andai di dunia ini semua anti vaksin?

Jika kalian hidup di tahun-tahun vaksin belum terwujud dengan baik, betapa banyak dulu anak-anak sekolah yang menderita polio dengan kaki bentuk O, banyak korban meninggal terkena tetanus ketika tertusuk paku berkarat, masyarakat yang terserang TBC, penyakit cacar yang menyebabkan kecacatan bopeng, batuk 100 hari yang menyerang bayi-bayi, termasuk saya ketika berusia 9 bulan.

Kata ibu dulu tubuh saya bagaikan tulang dan kulit dan nyaris tidak tertolong, karena memang sejujurnya ketika masih kecil saya tidak divaksin lengkap. Saat itu pengetahuan orangtua saya masih minim sekali, sehingga banyak vaksin yang terlewatkan buat saya. Alhamdullilah, dengan segala upaya saya tertolong.

Dan, banyak lagi penyakit-penyakit mengerikan yang membutuhkan vaksin di tahun-tahun dulu merenggut dan membuat anak-anak cacat. Saya ingat saat sekolah dulu memiliki teman yang polio, tetangga yang bopeng, kenalan yang terkena kusta. Tapi lihat tahun-tahun kini, saat ilmu kesehatan semakin maju, wawasan masyarakat semakin berkembang, penyakit-penyakit yang saya sebutkan semakin jarang ditemukan di masyarakat umum.

Lalu mengapa kita masih kontra dengan vaksin?

Mengapa Vaksin Covid 19 Diwajibkan?

Covid 19 adalah virus yang menyerang secara berantai, untuk itu dibutuhkan senergi masyarakat untuk saliang melakukan vaksin agar mata rantai Covid 19 terputus. Organisai kesehatan (WHO) memprediksi setidaknya 60 hingga 70 persen populasi divaksin agar benar-benar memutus mata rantai penularan dengan menciptakan herd immunity.

Jadi setidaknya seperti yang saya baca, Indonesia membutuhkan 160 hingga 187 juta penduduknya wajib disuntik vaksin jika ingin terbentuk herd immunity. Namun jika kalian anti vaksin atau menolak vaksin dengan opini sendiri, bagaimana kita bisa menanggulangi bencana Covid 19 ini?

Coba deh renungkan, resapi ke dalam hati kecil kalian. Dengan terciptanya herd immunity kita akan saling  melindungi masyarakat yang memang tidak bisa divaksin seperti bayi-bayi, manula, dan yang memang secara medis tidak diperbolehkan untuk divaksin. Seperti yang menderita penyakit tertentu, belum cukup usia. Siapa tahu itu adalah anak-anak kalian, saudara kalian, orangtua kalian.

Herd Immunity Alami Tidak Dianjurkan WHO

Memang herd immunity bisa dilakukan secara alami tanpa vaksin, namun itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama, dan tentu saja akan menimbulkan banyak korban, termasuk korban jiwa yang terenggut akibat Covid 19. Apa kalian mau seperti ini?

Karena itu herd immunity secara alami tidak dianjurkan oleh WHO, dan menargetkan herd immunity tercipta dari vaksinasi.

Nah,  jika kalian sehat, masih bisa ditolerir untk divaksin Covid 19. Yuk, jadi bagian dari masyarakat yang perduli dengan sesamanya. Jangan katakan, divaksin saja tetap kena Covid 19, jangan memiliki opini kerdil sudah terkena Covid 19 makan tidak perlu divaksin Covid 19, jangan memperbodoh diri dengan pengetahuan yang menebak-nebak.

Alhamdullilah saya sekeluarga sudah divaksin Covid 19 dengan aman dan nyaman, juga gratis. Tidak perlu dikhawatirkan, caranya juga mudah, efeknya juga tidak seperti yang kita bayangkan, atau jika kalian belum yakin, bisa konsultasi dengan dokter lebih dahulu.

Jangan lupa baca:

Cara Vaksin Gratis

Efek Vaksin SinovakTahap Dua

Kita akan menuju 2022, Insaallah semua harapan kita sama, hidup sehat dan bebas Covid 19. Kalau pun harus berdampingan dengan virus satu ini, kita sudah membentuk anti body yang akan meminimalisir terjadinya efek yang membahayakan jiwa. Saya masyarakat yang awam ilmu kesehatan, namun berusaha menjadi bagian dari masyarakat yang sadar vaksin.

 

You May Also Like

1 komentar

  1. Aaamiiin semoga 2022 akan semakin baik Yaa mba. Banyak berita yang menulis hal2 negatif, gelombang ketiga lah, varian barulah dll. Jujur memang bikin mood drop. Tapi kalo dipikir, ayolaah vaksin biar herd immunity ini tercipta, dan virusnya juga ga ada kesempatan bermutasi. Ga capek apa hidup kayak begini Mulu :(.

    ReplyDelete