>

Dukungan Untuk Pasien Penyakit Kanker

By duniaeni.com - February 14, 2020


Suatu ketika saya kehilangan seorang teman, kehilangan dalam arti lama tidak lagi menjumpainya. Padahal biasanya kami rutin bertemu untuk sekedar ngopi sambil sharing tentang dunia kepenulisan, buku, anak-anak, dan banyak hal lainnya. Saya begitu rindu saat itu, dan kemudian melihatnya tidak lagi aktif bersama teman-teman lainnya juga, memutuskan untuk menghabiskan waktunya dengan keluarga. Sesungguhnya meski kehilangan, tapi saya senang dengan keputusannya.


Lain waktu saya mendapati seorang ibu yang penuh semangat dan cerdas menjadi tidak berdaya di kursi roda. Padahal belum lama saya selalu melihatnya tampak kokoh menaiki kendaraan roda empat menuju tempatnya bekerja. Ibu tiga anak berparas cantik itu memang mengelola sebuah bisnis yang cukup besar, betapa hancur tentu ketika tahu-tahu terdiam di kursi roda tanpa suara dengan cahaya mata yang kelam. Kenapa? Tidak lama kemudian, saya menerima kabar duka ibu tersebut menutup mata untuk selama-lamanya dengan meninggalkan 3 orang anak masih kecil-kecil.

Belum lama tetangga saya, seorang ibu rumah tangga berusia 40an dengan tiga anak kecil-kecil juga, berpulang untuk selamanya. Ketika saya melayat, terlihat suami dan anak perempuannya menangis tertahan. Saya sempat mendengar sepotong ceritanya, bahwa akhirnya setelah bertahun bertarung dalam kesakitan, istrinya menghembuskan nafas. Sedih, tapi sudah terbebas dari rasa sakit yang ditahannya.

Semua itu karena apa, seorang teman yang menarik dirinya, seorang ibu yang kehilangan kehidupannya, dan juga harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil? Karena kanker merenggut kehidupan mereka, kanker ovarium dan kanker payudara. Seorang artis cantik, Shahnaz Haque yang merupakan survivor kanker ovarium pernah berkata, "Bahwa semua manusia akan mati, tujuan hidup untuk mati. Tapi kita perlu bertahan untuk kehidupan keluarga kita..."

Memperingati Hari Kanker Sedunia

Penanggulangan Kanker Secara Komprehensif dan Peran Keluarga dalam Program Promotif, Preventif, Deteksi dini, Terapi sampai dengan Paliatif



Untuk itu penting memberi semangat hidupan bagi para pasien penderita kanker atau survivor kanker, dan dunia sudah melakukannya dengan memperingari Hari Kanker Sedunia pada tiap tanggal 4  Februari, dimana tahun 2020 ini mengusung tema Iam and I Will. Kebetulan saya juga ikut hadir dalam Diskusi Nasional yang diadakan di Rumah Sakit Dharmais Jakarta atas undangan Forum Ngobras,  6 Februari lalu dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia.

Diskusi Nasional yang mengusung tema "Penanggulangan Kanker Secara Komprehensif dan Peran Keluarga dalam Program Promotif, Preventif, Deteksi dini, Terapi sampai dengan Paliatif"

Acara ini dihadiri oleh pakar dan pemerhati kanker serta pemangku kepentingan dan berbagai instansi atau organisasi serta komunitas pasien kanker. Kanker yang disebabkan oleh salah satunya dari gaya hidup tidak sehat, seperti merokok, makanan mengandung pengawet dan pemanis buatan, membuat saya langsung mengingat apa saja yang sudah saya asup bersama keluarga selama ini. Sepertinya saya harus mengamati lagi kebiasaan jajan di luar saat anak-anak sekolah, karena jajanan kaki lima anak-anak sekolah semakin mengawatirkan sekali.

Mengapa kanker menjadi salah satu penyakit yang menarik perhatian dunia? Karena kanker merupakan penyebab kematian terbesar kedua di dunia, dengan penderita terbanyak Kanker Payudara. Tidak perlu mencari data detailnya lagi, sebab di lingkungan saya, dari tetangga hingga teman dekat beberapa terkena kanker payudara, dan terenggut kehidupannya. Ini nyata, di usia mereka yang masih terbilang muda, karena kanker memang tidak memandang usia. Tercatat sekitar 207.210 pasien kanker yang meninggal dalam 5 tahun terakhir ini, tentu saja salah satunya tetangga saya itu.

Pentingnya Pola Hidup Sehat



Mengapa harus hidup sehat? Karena kanker bisa dicegah dengan dengan pola hidup sehat, tidak merokok, dan imunisasi. Setidaknya 30-40% penyakit kanker bisa dikurangi dengan pola hidup sehat. Untuk penyakit kanker payudara dan servik pun bisa dicegah selain dengan pola hidup sehat, dengan deteksi dini dan skrining. Untuk itu perlunya pemahaman para perempuan tentang deteksi dini dan skrining ini.

Namun kenyataannya memang masyarakat kita kurang edukasi  sehingga terlambat dalam penanganan diagnosa, tahu-tahu sudah stadium akhir dan pasien tidak tertolong lagi. Menurut Aryanthi Baramuli Putri SH., MA., yang merupakan Ketua Umum Cancer Information and Support Centre (CISC) , disinilah pentingnya peran LSM dalam penanggulangan kanker secara komprehensif di Indonesia.

Pola hidup sehat juga harus dimulai dari dalam keluarga, karena peran penting masyarakat mencegah jumlah penderita penyakit kanker ini harus dimulai dari diri sendiri. Jadi para ibu, mari biasakan mengolah masakan yang sehat dan kurangi jajan. Sejujurnya saya juga mudah tergoda jajanan junkfood di luar, dan barisan perdagang kaki lima yang menggiurkan. Belum lagi tren minuman yang serba manis mulai membudaya di masyarakat kita.


Biasakan makan buah setiap hari

Karena selain mudah merenggut kehidupan, penyakit kanker juga menelan biaya besar untuk pengobatannya.  Meski saat ini BPJS Kesehatan atau JKN membantu pembiayaan pengobatan kanker, tapi besarnya hanya 4%, untuk itu kanker tetap menelan biaya yang menguras kantong pasiennya. Bahkan dari hasil studi ACTION (ASEAN Cost in Oncology) yang dipublikasikan oleh BMC Medice 2015, diperkirakan 70% pasien kanker yang meninggal dunia mengalami kebangkrutan financial dalam kurun satu tahun setelah menerima diagnosa kanker. Sungguh, ini sangat memprihatinkan.

Untuk itu pentingnya mencegah dari pada mengobati terus digencarkan  oleh Pemerintah dan komunitas-komunitas perduli kanker. Pencegahan kanker dengan GERMAS, IVAtest, SADARNIS, Mammografi, USG, dan Vaksin HPV. Juga pemerataan akses pengobatan dan memberikan perawatan yang baik, seperti saat merawat pasien di rumah. Karena faktanya banyak pasien kanker harus juga ditangani dengan baik saat melakukan perawatan di rumah.

Peran Organisasi dan Pemerintah dalam Menangani Pasien Penyakit Kanker

Tidak hanya keluarga pasien kanker, tapi juga organisasi pemerhati penyakit kanker dan pemerintah diperlukan sekali dukungannya. Dukungan berupa edukasi, motivasi, pendampingan saat pasien dalam masa pengobatan atau therapi, dan dana untuk membantu pengobatan pasien kanker.

Masyarakat selama ini banyak yang berpikirr kanker banyak diderita oleh pasien yang memiliki riwayat keluarga  terkena kanker, terutama pada pasien penderita kanker payudara. Sehingga mengabaikan pola hidup sehat, pemeriksaan dini, sementara penyakit kanker bisa terjadi pada siapa saja yang menjalani pola hidup tidak sehat. Hal seperti ini yang perlu diedukasi ke masyarakat, sehingga jumlah penderita penyakit kanker dapat dikurangi.

Harapan organisasi penyakit kanker menjadi program prioritas nasional seperti penyakit stunting, TB, malaria, dan kebijakan yang tidak memihak pasien seperti  penghapusan obat target terapi, rujukan balik pertiga bulan, dan lain-lain. Sehingga pengobatan penyakit kanker jadi tidak maksimal, terutama bagi pasien penyakit kanker yang tidak mampu atau masyarakat menengah ke bawah.

Pengembangan Obat Kanker dan Aksesbilitasnya



Menjawab keresahan pasien penyakit kanker soal obat dan aksesbilitasnya, Prof.dr.Iwan Driprahasto, MMedSc, PhD. selaku Ketua Komite Nasional KOMNAS) Fornas (Formulasi Nasional) Kemenkes RI, menyatakan jika saat ini pengembangan obat kanker menjadi prioritas, bahkan lebih cepat dari antibiotika. Terbukti dengan adanya 849 obat dan vaksin untuk kanker selama 10 tahun ini, yang mana berarti setiap tahu ada lebih 75 obat dan vaksin baru untuk penderita penyakit kanker. Inovasi hadirnya obat baru ini tentu membuat harapan hidup pasien penyakit kanker lebih besar lagi.

Namun mahalnya harga obat-obatan tersebut membuat banyak pasien dari kalangan masyarakat menengah ke bawah tidak bisa menikmati inovasi hadirnya obat dan vaksin baru kanker. Untuk itu dibutuhkan kerjasama pemerintah, industri farmasi, dan klinisi agar harga obat-obatan serta vaksin kanker menjadi terjangkau dan bisa dinikmati oleh semua pasien penyakit kanker dari berbagai kalangan.

Maka hadirnya Pfizer selaku industri farmasi berinovasi menghadirkan terapi pengobatan kanker yang sesuai  kebutuhan pasien penyakit kanker mulai dari deteksi dini, perawatan kuratif, hingga paliatif. Yang mana disampaikan oleh Rochelle Chaiken, Chief Medical Officer Pfizer Emerging Market Pfizer, Pfizer akan mensosialisasikan program bantuan pasien (Patient Assistance Program) bagi pasien kanker payudara,  dan mendukung penelitian rumah sakit Dharmais mengenai pasien kanker payudara. di Indonesia yaitu SPARC (Seeding Progress and Resources for Breast Cancer Community) MB (Metastatic Breast Cancer Challenge) yang diisiasi oleh UI Union for International Cancer Control).

Karena memang pasien kanker mengalami tantangan yang besar untuk sembuh dan meningkatkan kualitas hidupnya. Jika penyakit kanker semakin menyebar, maka tantangan obatnya pun semakin besar. Apa yang Pfizer lakukan selama ini adalah selalu berinovasi untuk menghadirkan terapi pengobatan kanker di waktu atau kondisi yang tepat sesuai kebutuhan pengobatan pasien yang sesuai (patient journey).

Rochelle Chaiken mengharapkan diskusi nasional ini  dapat memetakan kebutuhan dan masukan dari semua pihak-pihak yang terlibat agar pasien kanker punya akses yang lebih baik pada pengobatan kanker yang inovatif. Untuk mengurangi beban pasien serta memberikan angka harapan hidup yang lebih baik, diperlukan kebijakan serta program nasional dalam meningkatkan akses pasien terhadap pengobatan kanker yang inovatif. Pfizer berkomitmen untuk mewujudkan itu dengan bersinergi dengan semua pihak.


Salah satu wujud komitmen Pfizer adalah dengan mengembangkan pengobatan inovatif untuk kanker payudara. Terlebih kanker payudara adalah yang tertinggi di Indonesia. Ini terlihat dari data Globocan 2018 yang menyebutkan kasus kanker payudara mencapai 58.256 atau 16.7% dari total kasus baru kanker yang ada di Indonesia. Pengobatan inovatif untuk pasien kanker payudara memberikan harapan menjadi harapan baru dalam pasien kanker payudara metastastis HR+, HER2- dan obat terapi target ini kini telah tesedia di Indonesia.

Tentu hal ini sangat menggembirakan dan memberi harapan baru bagi pasien penyakit kanker, dan kita sebagai masyarakat harus mendukung penekanan angka jumlah pasien penyakit kanker dengan hal-hal seperti yang sudah saya tulis di atas. Semoga setelah membaca tulisan saya ini, semakin menyadari pentingnya menjalani hidup sehat.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar