>

Pasca Melahirkan Normal

By dunia eni - January 16, 2019



Melahirkan Normal : Dijahit Tanpa Rasa Sakit

18 Oktober 2018


Setelah proses melahirkan selesai, seperti waktu melahirkan Pendar 4 tahun lalu, kali ini dijahit juga tidak sakit karena diberi anestesi (seperti yang sudah saya ceitakan di artikel sebelumnya). Jadi saat dijahit saya tidak perlu menggigit jempol suami sampai biru (Ayo, siapa yang samaan saat dijahit paska melahirkan normal menggigit jempol suami sampai biru, hehehe) atau kain selimut agar tidak menjerit saat jarum jahit ditusukan ke kulit vagina kita.

Saya dijahit sambil menyusui meski ASI saya belum keluar, sejak melahirkan anak ke dua hingga kelima ini memang ASI saya tidak bisa langsung keluar. Berbeda ketika melahirkan Lintang, ASI langsung berlimpah. Tapi untuk skin to skin dan juga IMD, saya biarkan bayi mungil itu bekerja keras menghisap ASI. Sesekali suara rengeannya terdengar lirih, gerakannya menghisap membuat saya lega, begitu pandai dan pantang menyerah.

"Jahitannya banyak gak, Dok?" tanya saya penasaran karena prosesnya lama betul, biasanya dokter Deddy sih tidak mau menjawab cuma tersenyum meski saya desak. Atau kadang dijawab pendek, "Yang penting sudah lahiran dengan selamat."

Namun kali ini bidan yang membantu dokter Deddy mencetus, "Banyak banget, Bu, tidak kehitung. Tapi yang penting dijahit rapi."

Jleb! Alamak, kayaknya pertanyaan yang saya lontarkan salah besar deh. Habis mendengar jawaban to the point itu saya berasa lemas. Terbayang proses penyembuhannya, terbayang sakitnya, terbayang nanti kalau mau pup, karena lagi-lagi diperjelas jahitannya dikit lagi mencapai anus, huwaaa. Semua ini pasti karena saya tadi bertingkah tidak karuan, tidak bisa tenang saat mengedan.

Selesai sudah proses paska melahirkan normal yakni dikeluarkan air-ari, dibersihkan sisa darah didalam rahin agar tidak terjadi pendarahan, dijahit rapi, dokter Deddy dan teamnya pun memberi selamat dan meninggalkan ruang bersalin. Berpesan kepada saya, setelah 6 jam baru boleh bangun dari pembaringan.


Ruang bersalin
Saya sudah memakai pembalut dan diselimuti rapi, lalu langsung disuapi suami. Untuk kali ini selama 5 kali melahirkan, baru ini nafsu makan saya luarbiasa. Jatah dari rumah sakit sampai tidak terasa, hahaha. Suami mengingatkan agar saya tidak banyak makan yang keras-keras karena takut proses buang air besar nanti susah dan sakit karena efek jahitan banyak. Akhirnya saya yang niatnya mau minta dibelikan ini itu di luar, jadi mengurungkan niat itu.

Padahal waktu melahirkan Pendar jahitan tidak banyak, bahkan saya pup di rumah sakit begitu selesai melahirkan tanpa rasa sakit di anus. Terbukti bukan, berapa kali pun melahirkan kondisi yang berbeda-beda membuat setiap ibu terus belajar, tidak ada kata 'khatam'. Selesai menyuapi, suami dipanggil suster ke kamar bayi untuk proses adminitrasi dan lain-lain. Oya, bayi selesai IMD dibawa ke ruang bayi, sistem di rumah sakit Prikasi memang kamar ibu dan bai terpisah agar ibu bisa istirahat. Jadi bayi ditaruh di ruang ibu hanya drai pukul 6 pagi sampai 10 malam.

Ke Ruang Rawat Inap

6 jam kemudian, sekitar pukul delapan malam saya diminta suster ke ruang rawat inap, kebetulan adik dan istrinya tengah menjenguk saya, kami ngobrol di ruang bersalin. Ternyata kali ini menuju ke ruang rawat inap memakai kursi roda, berbeda dengan dulu-dulu menggunakan brankar dan saya digendong saat dipindahkan ke tempat tidur. Hadew, deg-degan sekali rasanya alias agak takut , wkwkwk.

Bismillah, ternyata seperti waktu melahirkan Pendar, kaki kiri saya agak bermasalah. Entah, kenapa setelah melahirkan pasti sakit sekali, bahkan waktu melahirkan Pendar sempat tidak bisa buat jalan dan hampir mau diperiksa ahli syaraf. Alhamdullilah, waktu itu kakak saya datang dan kaki kiri saya dipijat-pijat lalu bisa jalan lancar.

Benar saja, saat turun dari bed, kaki hendak menjejak lantai menuju kursi roda, sakit sekali. Sehingga saya mencoba berkali-kali dan dengan keukeuh akhirnya bisa. Kembali lagi proses naik bed di kamar rawat inap juga butuh kekeukehan, hahaha. Jadi ibu memang kadang butuh nyali rock n roll.

Saya pun berbaring di atas kasur berlapis sprei putih yang cukup nyaman meski kamar kelas 3. Sebenarnya sih, lebih nyaman kelas 3 waktu jaman melahirkan Pendar. Ruangan lebih  luas, ada ruang duduk di depan televisi untuk yang menemani, semua pasien bisa menonton televisi karena ruangan luas. Sementara yang sekarang sempit, televisi hanya terdengar suaranya saja. Mana kali ini semua tempat tidur penuh, 99% wanita pasca melahirkan sectio, jadi hanya saya pasien ibu dengan persalinan normal. Pantas ya, waktu di UGD ditanya terus jam berapa operasi. 

Baca Lengkapnya kisah di UGD : Persiapan Lahiran Normal Di Usia 41 Tahun : Menunggu Pembukaan

Bisa Langsung Buang Air Kecil Ke Toilet

Sebelum tidur, mungkir sekitar pukul 11 malam saya terasa mau ke toilet diantar suami. Sebelum turun dari bed tiba-tiba saya punya ide agar suami memijat kaki kiri saya, kebetulan di tas bawa minyak tawon. Setelah dipijat suami, benar saja kaki kiri saya bisa untuk jalan, tepatnya tidak terasa sakit sekali. Maka saya jalan ke toilet dengan diantar suami, saat akan masuk toilet saya meminta suami menunggu di luar. Sebab biasanya saya sudah bisa buang air kecil sendiri, bersihin pembalut dan mencuci celana dalam.

Tapi ternyata...

Ya ampun, mau buka celana dalam itu tidak mudah karena kaki kiri saya buat bertumpu belum bisa. Saat mengangkat kaki kiri, kaki kanan ok baik-baik saja eh..saat mengangkat kaki kanan, boro-boro bisa. Kaki kiri terasa sakit sekali, huhuhu. Akhirnya dibantu suami deh, terus saat menunduk juga terasa melayang seperti pusing kurang darah, Baru ini pasca melahirkan saya mengalami pusing, memang dokter sempat bilang kalau darah saya banyak sekali. Alhamdullilah, proses melahirkan berjalan lancar, tidak terjadi sesuatu yang mengawatirkan.

Kisahnya bisa dibaca lengkap di Lahiran Normal Di Usia 41 : Agar Cepat Pembukaan Lengkap

Hanya Menginap Satu Malam

Karena meninggalkan anak-anak di rumah meski bersama ibu saya, suami berencana untuk pulang besok saja jika dokter mengijinkan. Saya pun setuju karena sudah tidak betah, suasana kamar ramai sekali oleh kedatangan dan suara obrolan penjenguk, sampai ibu di sebelah saya tensi darahnya naik karena kecapekan nerima tamu, ulalala!

Suami sempet mengusulkan pindah kamar ke kelas 2, tapi saya pikir buat apa, besok juga rencana pulang karena saya yakin semua baik-baik saja. Dan, malam itu saya minta dibelikan roti sama nasi goreng, habis semuanya. Baru deh pukul dua belas malam saya pulas, tahu gak? Baru melahirkan akan ke lima ini paska melahirkan bisa tidur pulas. Biasanya saya melek hingga jelang pagi meski lahiran pukul 6 pagi, entah kenapa.

19 Oktober 2019

Besoknya pagi-pagi saya sudah bolak-balik ke toilet lagi, tujuannya untuk melatih agar sampai rumah sudah terbiasa dibuat wara-wiri. Memang pasca melahirkan normal jangan banyak dibuat tiduran atau diam, agar jahitan nyaman sebaiknya dibuat beraktiftas. Tapi tentu saja aktifitas yang normalnya untuk ibu pasca bersalin, karena kalau terlalu capek  bisa pendarahan atau ibu nipas akan jatuh sakit yang membahayakan dirinya.

Siangnya setelah  divisit dokter Deddy dan bayi kami divisit dokter anak, maka saya dan bayi kecil kami diijinkan pulang, Horeeee! Tapi agak tertunda karena ternyata teman-teman banyak yang datang menjenguk sampai memenuhi ruangan, hahaha. Alhamdullilah, disyukuri mereka masih mengingat saya dengan baik. Bahkan Ratrie, salah satu teman yang datang ikut mengantar sampai rumah, huhuhu terharu.

Dijenguk temen
Sampai di rumah Ibu saya dan anak-anak menyambut kedatang kami dengan bahagia. Oya, bayi kecil kami bernama: Binar. Nah, di rumah ini malamnya hingga besok malam terjadilah drama yang membuat perasaan saya drop. Apakah itu?

Langsung saja baca ceritanya dengan klik link ini ya https://www.duniaeni.com/2019/01/bahayakah-sufor-untuk-bayi-baru-lahir.html?m=1 semoga bermanfaat

  • Share:

You Might Also Like

25 komentar

  1. Wah selamat bunda atas kelahiran dedek bayi nya

    ReplyDelete
  2. Wah bunda punya dedek baru lagi ya, selamat bunda

    ReplyDelete
  3. Laki-laki apa perempuan bunda dedek bayinya

    ReplyDelete
  4. Selamat bunda atas lahirnya dedek bayi :D

    ReplyDelete
  5. Ini anak kelima mbak? masyaAllah, luar biasa. You are strong mom. Selamat ya mbak, semoga jadi anak sholehah. Semoga sehat selalu ibu dan bayinya ^_^

    ReplyDelete
  6. Alhamdulillah mom dan debay Binar sehat dan selamat ya, ikut senang mom.

    Memang ya tiap melahirkan pasti pengalamannya berbeda-beda, tapi mom Eni hebat, melahirkan anak ke-5 dengan normal.

    Saya yang anaknya 3 aja rasanya seperti punya anak 30, hahahaaa.
    Semoga selalu sehat ya mom💐

    ReplyDelete
  7. Mbaaa Eniiii....
    Hadoohhhh, perut dan bokong saya ngilu bacanya.
    Lah lebay ini, siapa yang lahiraaaannn, siapa yang lebay wkwkwkwwk.

    Sumpah ya, baru kali ini baca cerita melahirkan secara detil.
    Dijahit kadang ga di anestesi?
    Ya ampooonnn, ngangkang aja saya udah malu, 2 kali melahirkan baru sekali saya ngangkang diperiksa jalan lahir oleh bidan, itupun heboh jingkrak2 di kasur, sampai akhirnya sakit banget, emang bener ya harus lemes gitu kalau mau diperiksa.

    Sebenarnya ini yang bikin saya rela dibelah perutnya dulu.
    Gak kuat bayangin.
    Bayangin aja gak kuat, gimana jalaninnya ya.
    Udah nahan sakit ampun2, ditonton banyak orang, dijahit pula.
    Masha Allaaahhh perjuangan ibu melahirkan itu yaa..

    ReplyDelete
  8. Masyaalloh mbak aku setuju nih memang gak ada kata khatam ya buat proses lahiran meski sudah beberapa kali event itu caesar juga loh mbak aku ketiganya merasakan hal yang berbeda meski sama-sama SC. You're strong mom. Salam sehat selalu semoga anak-anak kelak jadi abak sholeh. Aamiin

    ReplyDelete
  9. Mba aku yang baca jahitan banyak juga jadi ngilu bayanginnya, perjuangan seorang ibu memang berat ya. Alhamdulillah bisa lahir dengan selamat ya Mba yang terpenting.

    ReplyDelete
  10. Mba Eni seriusan anaknya 5? Mak seterong kamu mba,!! Masya Alloh. Masih bisa blogging pula, ya ampun kukudu berguru pada suhu Eni, harusnya :D

    Iya, mba bener yaa ternyata ada yg dijahit ga dibius, alasannya biar cepet sembuh. Tapi ya ampoonnn, bisa pingsan dan trauma aku klo digituin. Dan menurutku penyembuhan yg dibius dan ga dibius sama aja koq

    Btw, selama apa dijahit mba? Aku kmren nanyain bidannya kenapa koq lama, berapa jahitan.. Dijawab gitu juga, banyak, ga terhitung, wkwkwk.... Tapi ngitung ga durasi jahitnya mba? Aku sampai lihatin jam lo saking lamanya, 45 menit!

    ReplyDelete
  11. Kemarin aku lahiran normal dan gak dijahit, terus baca cerita mbak yang jahitannya banyak. Duh rasanya nyess banget nih. Ngiluu.. huhu. Semoga sehat selalu ya ibu dan debaynya..

    ReplyDelete
  12. Kasian amat sampai jempol Pak Budi digigit haha. AKu dua kali dijahit gak nrasa sakitnya krn saking excitednya ketemu baby, mbak :D
    Nah itu bagian ke toilet yg agak horor, aku takut pas itu, khawatir pas diambil perbannya itu di bagian bawan #tutupmuka

    ReplyDelete
  13. Alhamdulillah selamaaaat ya mbak atas kelahirannya.. aku bacanya kok jadi ikut ngilu ini padahal udah pengen hamil lagi akuuu hehhehe

    ReplyDelete
  14. Mbak Eni Selamat ya alhamdulillah sudah lahir, cuma aku belum sempet tengok nih. Semoga sehat selalu ya. Aku pun Masih ingat betul rasanya saat melahirkan normal 2 tahun lalu mbak, nikmat masya allah. Cuma jahitanku salot banget saat Itu mbak

    ReplyDelete
  15. Wow.. baby-nya enduttt.. Selamat ya mba atas kelahiran putranya. Alhamdulillah semua sehat ya..

    ReplyDelete
  16. Dahsyatnye perjuangan melahirkan setiap ibu, ya. Semoga Binar selalu sehat dan berbakti kepada orang tua. aamiin

    ReplyDelete
  17. Mba Eni aku ikut terhanyut dalam ceritanya...ngilu terasa
    Dirimu hebat Mbak, sampai anak kelima setrong warbiyasaah.
    Semoga Ibu dan baby Binar sehat selalu ya. Kelak jadi penyejuk mata Orang tuanya...Aamiin

    ReplyDelete
  18. Nyeri-nyeri sedap ya kalau baca pengalaman melahirkan wkwk... Mba eni kayak mamahku, melahirkan di usia 40 thn. Kira2 aku sanggup gak ya nanti

    ReplyDelete
  19. kok aku jadi deg2an ya bacanya mbak hehehe.. aku pun lagi menghitung hari nih menjelang melahirkan anak ke empat.. in shaa Allah 🙏

    ReplyDelete
  20. Ngilu pas baca jahitannya banyak sekali *brb pingsan* hahaha aku ga kebayaaang yang lahiran normal terus dijahit. Aku di SC jadi ga kerasa blas. Kerasanya pas abis lahiran haha. Anw mbak eni ini strong sekaliii. Cuman nginep semalem :D

    ReplyDelete
  21. MashaAllah mba Eni. Salut sama perjuangannya. Aku selalu suka baca blog orang tentang persalinan. Terharu dan ngangenin. Heheh sehat sehat yaa mba Eni dan dede Binaar :*

    ReplyDelete
  22. Sama ..aku juga sama dokternya nggak dikasih tahu banyaknya jahitannya mbak...

    ReplyDelete
  23. Mba Enii.. masyaAllah warbiayaza yg ke 5 yaa. Alhamdulillah si bungsu lahir sehat selamat juga mamanya. Happy breasfeeding mba Eni 🤗

    ReplyDelete
  24. Aku jadi punya bayangin nih mba untuk melahirkan nanti. Aku save ah informasinya.

    ReplyDelete